Dibombardir Komen Sarkasme, Akun 'Pro-Israel' dengan Pengikut 77 Juta Ditutup Facebook
logo

20 Mei 2021

Dibombardir Komen Sarkasme, Akun 'Pro-Israel' dengan Pengikut 77 Juta Ditutup Facebook

Dibombardir Komen Sarkasme, Akun 'Pro-Israel' dengan Pengikut 77 Juta Ditutup Facebook


GELORA.CO - Di tengah situasi Jalur Gaza yang kian memburuk, Facebook menutup halaman akun pro-Israel yang memiliki pengikut mencapai sekitar 77 juta. 

Diwartakan Daily Mail, akun 'Jerusalem Prayer Team (JPT)' yang didirikan pada 2002 ditutup Facebook mulai Jumat (14/5). 

Pendiri JPT, Dr. Mike Evans, menjelaskan bahwa penutupan terjadi setelah adanya kampanye 'terorisme dunia maya' oleh sekelompok pengguna yang disebutnya sebagai 'Islam radikal'. 

Saat berbicara kepada Christian Broadcasting Network (CBN), Evans mengklaim bahwa kelompok itu telah berkoordinasi untuk menargetkan halaman JPT dengan ujaran kebencian. Menurut Evans, kelompok itu setidaknya telah meninggalkan komentar hinggga lebih dari 1 juta kali. 

Setelah itu, mereka menandai unggahan mereka sendiri sebagai spam. Disebutkan pula bagaimana mereka kemudian membantah telah mengirim ujaran kebencian dan mengaku tidak pernah mengunggah komentar di halaman JPT.

"Ada upaya terorganisir oleh organisasi Islam radikal untuk mencapai tujuan ini. Mereka memposting lebih dari satu juta komentar di situs kami dan kemudian meminta orang-orang menghubungi Facebook dengan mengatakan bahwa mereka tidak pernah memposting ke situs tersebut. 

Evans juga menambahkan postingan-postingan yang dilancarkan ke JPT turut menyertakan komentar anti-Semit. Diantaranta termasuk foto dan kutipan Adolf Hitler, yang mungkin telah memicu filter Facebook.

"Itu benar-benar penipuan. Itu adalah rencana yang sangat cerdik dan itu tipuan yang dilakukan oleh para radikal Islam," ujar Evans yang dilaporkan kerap memimpin ribuan orang dalam doa online setiap hari untuk Israel.

Setelahnya, Evans dan JPT, meminta pihak Facebook meninjau demi memulihkan halaman mereka. 

Namun, dalam pesannya, Facebook menjawab bahwa kasus telah 'selesai', dan JPT sudah dihapus dalam sistem karena melanggar kebijakan. Selain itu, Facebook juga menyertakan wabah virus corona sebagai alasan penolakan peninjauan. 

"Halaman-halaman ini telah dihapus oleh sistem kami karena tidak sesuai dengan kebijakan. Sayangnya, kami tidak dapat meninjau pengajuan banding saat ini karena kurangnya peninjau yang disebabkan oleh wabah Corona (COVID-19).

"Karena Anda tidak dapat mengakses halaman (JPT), ini berarti upaya banding bukanlah pilihan. Tidak ada tindakan lebih lanjut yang dapat kami lakukan untuk halaman ini. Harap pertimbangkan bahwa keputusan ini sudah final," kata Facebook dalam pesannya.

Sejak JPT ditutup, Evans mengaku mendapatkan kesulitan untuk memposting di halaman Facebook pribadinya. Tak hanya itu, ia juga mengatakan belum bisa menghubungi perwakilan Facebook untuk meminta keterangan lebih lanjut.

Seorang juru bicara Facebook juga telah mengkonfirmasi penutupan halaman JPT. Juru bicara itu menjelaskan bahwa JPT telah melanggar aturann terhadap spam dan 'perilaku tidak autentik'. 

Ia juga menyebut kasus 'sudah selesai' alias tidak bisa diganggu gugat.

"Kami menghapus Halaman Facebook JPT karena melanggar aturan kami terhadap spam dan 'perilaku tidak autentik', dengan perusahaan mengatakan bahwa kasus itu telah selesai," kata juru bicara tersebut.

Kini, JPT hanya bisa berharap bahwa Facebook akan meninjau kasus secara 'individual' dan kebijakan ini adalah sementara.

Evans juga telah menghubungi lusinan politisi AS, termasuk Senator Lindsey Graham, Senator Ted Cruz, Jared Kushner hingga mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo.

Dalam keterangannya, Evans juga menuduh Facebook telah bias terhadap sumber media konservatif.

"Facebook tertangkap basah. Ini adalah contoh utama bias dalam istilah besarnya. Menurut saya, terorisme dunia maya ini berdasarkan rasisme. Saya telah menghubungi teman-teman Senator, seperti Lindsey Graham dan Ted Cruz, teman baik saya, mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, Jared Kushner, dan lusinan pemimpin politik lainnya untuk membantu saya dengan skema penipuan yang merusak kerja baik kita," ucap Evans yang merupakan kepala Friends of Zion Association.

Menurut CBN, video YouTube yang beredar online telah mengarahkan orang-orang bagaimana bergabung dengan halaman JPT dan melaporkannya.

Saat laman itu diturunkan, puluhan video dengan ribuan 'view' muncul di YouTube hingga Twitter. Video itupun dikatakan memuat perayaan penghapusan halaman JPT.

"Peretas Yordania, Ahmed Sale, yang dijuluki 'Bani Hashem Electronic Sagr', telah mampu menutup halaman Facebook dengan 76 juta suka untuk mendukung entitas Zionis, yang disebut 'Jerusalem Prayer Team'. # Selamat untuk semua pemirsa. 

"Halaman Tim Doa Yahodi (Yahudi) Yerusalem ini telah dinonaktifkan / berhasil dihapus dari Facebook," kata salah satu postingan seperti dikutip dari CBN.

Sementara beberapa warganet merayakan penghapusan JPT, Evans dilaporkan tiba di Israel pada pekan ini. Ia dikatakan akan menjadi pembawa acara televisi di Yerusalem di pusat media Friends of Zion Museum.

"Acara yang saya selenggarakan di Yerusalem akan dirilis ke media global untuk melawan kebohongan yang disampaikan tentang perang ini. Israel memang memenangkan perang, tetapi Israel juga kalah dalam perang media melalui media kiri sekuler yang mempercayai kebohongan Islam radikal," katanya. 

Selain itu, Evans juga dikabarkan akan melakukan perjalanan ke perbatasan Gaza untuk melihat sendiri konflik antara Hamas-militer Israel.[]
close
Subscribe