Cerita Warga Berjibaku Tandu Ibu Hamil Lewati Hutan Pandeglang
logo

3 Mei 2021

Cerita Warga Berjibaku Tandu Ibu Hamil Lewati Hutan Pandeglang

Cerita Warga Berjibaku Tandu Ibu Hamil Lewati Hutan Pandeglang


GELORA.CO - Enah (39) kehilangan bayi lelaki kembar di Puskesmas Sindangresmi, Kabupaten Pandegkang, Banten. Perjuangan Enah tiba di puskesmas itu sangat menyedihkan.

Awalnya dia merasakan kontraksi hebat pada Jumat (31/4). Keluarga waswas, lalu melaporkan kondisi tersebut ke bidan desa, meski usai kehamilan Enah baru menginjak enam bulan.

"Si ibunya sudah mules, hari Jumat itu langsung dicek sama bidan, katanya harus dirujuk ke rumah sakit. Tapi dari hasil koordinasi, dokternya baru ada hari Senin (hari ini) karena waktu itu kan lagi hari libur," kata Dani, warga setempat, Senin (3/5/2021).

Sejumlah warga yang tak tega melihat kondisi Enah, berinisiatif menginap sambil memonitor kondisi sang ibu. Saat itu Enah sudah mendapat pemeriksaan dari bidan dan sudah diarahkan agar penanganannya dirujuk ke rumah sakit.

Kekhawatiran warga ternyata tak meleset. Pada esok harinya, Sabtu (1/5), Enah kembali mengalami kontraksi. Sejumlah warga berkumpul dan langsung membawa Enah dengan cara ditandu menuju puskesmas.

"Sekitar jam dua siang, si ibu itu akhirnya ditandu pakai sarung. Enggak ada cara lagi, satu-satunya harus ditandu, karena jalannya enggak bisa dilalui sama mobil. Mau pakai motor juga kami khawatir ke kondisi si ibunya," ujar Dani.

Perjalanan Enah yang ditandu menyusuri hutan dan perbukitan sejauh tiga kilometer ini tidak semulus dengan harapan warga. Di tengah jalan, Enah terjatuh gegara sarung robek.

"Pas jatuh itu kami deg-degan, takut ada apa-apa sama kondisi si ibunya. Tapi, kami bismillah saja, yang penting si ibunya bisa cepat sampai puskesmas," ucap Dani.

Setelah bisa menembus hutan, warga lainnya sudah menunggu kedatangan Enah dan menyiapkan mobil untuk membawanya ke puskesmas. Jaraknya pun hanya satu kilometer karena jalan di tempat ini bisa dilalui kendaraan.

Setibanya di puskesmas, Enah langsung diperiksa oleh bidan setempat. Dari hasil pemeriksaan, Enah didiagnosa mengalami kelebihan air ketuban dengan kondisi kandungannya masih berumur enam bulan.

"Pas lagi diperiksa, si ibunya mau kencing ke kamar mandi. Tahunya pas di kamar mandi, bayi yang pertama lahir. Waktu itu kondisinya masih selamat, tapi cuma 10 menit doang, lalu dinyatakan meninggal," tutur Dani.(dtk)
close
Subscribe