Petani Merana 3 Tahun Berton-ton Garam Mengendap di Gudang Dipenuhi Sarang Laba-laba

Petani Merana 3 Tahun Berton-ton Garam Mengendap di Gudang Dipenuhi Sarang Laba-laba

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Petani garam di Lombok Timur, NTB, merespons rencana pemerintah untuk mengimpor garam.

Syamsul Hadi (50), seorang petani garam kristal di Dusun Pelebe, Desa Ketapang Raya, Lombok Timur, mengaku sudah tiga tahun garam miliknya tak laku dijual.

Saat ini 4 ton garam masih tersimpan di dua gudang miliknya hingga dipenuhi sarang laba-laba.

"Sekarang tidak ada yang mau beli garam. Sudah tiga kali musim kembalit (kemarau) garam ini tidak ada yang mau beli," kata Hadi, saat ditemui Kompas.com, Minggu (21/3/2021).

Terpukul

Dengan kondisi itu, Hadi mengaku sangat terpukul. Apalagi garam merupakan mata pencarian satu-satunya. 

Baca juga: Susi Pudjiastuti: Impor Garam Harusnya Tak Lebih dari 1,7 Juta Ton

Menurut Hadi, salah satu penyebab lesunya penjualan garam karena banyak garam kristal murah yang masuk ke daerahnya sebagai pesaing.

"Kan di desa ini banyak juga pembuat garam halus, bahan bakunya dari garam kasar seperti kami ini. Tapi sekarang mereka beli yang luar daerah, dengan harga murah," kata Hadi.

Melihat penjualan garam yang kian merana, Hadi akhirnya memutuskan untuk mencari ikan untuk bertahan hidup.

"Kami hanya bisa pasrah, kami bertahan hidup cari ikan, udang di laut untuk makan, kalau banyak dapat, kami jual," tutur Hadi.

Sukur (60) yang juga petani di desa tersebut juga mengalami kondisi serupa.

Ayah dua anak ini menurutkan, akibat tak kunjung terserap, garam yang disimpan di gudang habis terbawa banjir.

"Saya punya kemarin 2 ton garam, tapi habis karena banjir kemarin, air laut naik, kita rugi," kata Sukur.

Sukur menduga garamnya tak kunjung terserap karena pandemi Covid-19.

Sukur menuturkan, ia sudah bergabung dalam kelompok petani garam. Namun, hal tersebut menurutnya tidak banyak membantu.

Dia berharap pemerintah dapat membantu petani garam untuk menyerap garam-garam yang masih mengendap di gudang-gudang. []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita