Umpamakan UU ITE dengan Kitab Suci, Henry Subiakto Diprotes

Umpamakan UU ITE dengan Kitab Suci, Henry Subiakto Diprotes

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika Henry Subiakto mengatakan, Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tak berarti harus direvisi hanya, karena banyak masalah di dalam implementasinya.

Dia pun membandingkan UU ITE dengan kitab suci yang juga ditafsirkan bermacam-macam, bahkan dengan penafsiran yang salah.

"Tidak berarti kalau ada kasus buruk dengan interpretasi yang salah, UU itu harus diubah. Coba Anda lihat kitab suci pun sering ditafsir masing-masing dan salah, tapi kan tidak langsung mau diubah," kata Henry dalam diskusi bertema 'UU ITE Bukan revisi Basa-Basi', Sabtu (20/1/2021).

Ucapan Henry yang membandingkan kitab suci dan UU ITE ini sempat diprotes oleh Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha yang hadir dalam diskusi.

"Kitab suci beda dong Prof Henry dengan undang-undang," kata Pratama.

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur menilai, akan berbahaya jika semua orang dapat menafsirkan undang-undang secara bebas.

Adapun, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Imelda Sari meminta Henry tak hanya mengacu pada aspek legal formal.

Henry tak sepakat dengan angggapan bahwa Pasal 27 ayat (3) tentang pencemaran nama dan Pasal 28 ayat (2) tentang ujaran kebencian berbasis SARA di dalam UU ITE adalah pasal karet.

Ia mengatakan kedua pasal itu telah diuji materi di Mahkamah Konstitusi dan ditolak oleh MK.

Menurut Henry, tak masalah dengan revisi, tetapi dia menolak jika kedua pasal itu dihapus dari UU ITE.

"Yang penting diperbaiki, bukan normanya dihilangkan," kata dia.

Henry pun menyinggung bahwa UU ITE merupakan produk pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2008 lalu. Namun, pemerintahan Presiden Joko Widodo yang kemudian melakukan revisi pada tahun 2016 serta menyempitkan penjelasan Pasal 27 ayat (3) bahwa yang dimaksud penghinaan adalah yang menyerang kehormatan seseorang, bukan pemerintah atau lembaga.

"UU yang banyak disalahkan oleh pelaksanaannya jangan dianggap UU ini sangat buruk, ini UU buatan SBY tahun 2008," kata Henry soal UU ITE. []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita