Munarman: Peristiwa Lama Dipakai untuk Usaha Menangkap Saya

Munarman: Peristiwa Lama Dipakai untuk Usaha Menangkap Saya

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Eks Sekertaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman, buka suara soal dugaan keterlibatannya dengan organisasi teroris. Munarman mempertanyakan hukum di Tanah Air atas tuduhan yang menimpanya.

Munarman menyayangkan jika peristiwa yang terjadi pada 2015 digunakan untuk menjeratnya. Achmad Aulia, terduga teroris Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), sebelumnya mengutarakan, pada 2015 terjadi baiat masuk jaringan teroris ISIS di Jalan Sungai Limboto, Makassar, Sulawesi Selatan, yang diklaim dihadiri Munarman.

"Kasihan peristiwa lama dipakai untuk berusaha menangkap saya. Bahkan, mengorbankan menangkap banyak orang. Peristiwa zalim ini seharusnya dihentikan," kata Munarman dalam keterangan video yang diterima Republika pada Selasa (9/2).

Munarman meragukan kebenaran keterangan yang disampaikan Achmad Aulia pada kepolisian. Ia merasa heran mengapa cuma didasari pengakuan Achmad Aulia dirinya dikaitkan dengan ISIS. Ia mempertanyakan bukti lainnya jika diduga terlibat ISIS.

"Kalau memang mau nuduh saya silakan saya jawab. Kalau dari pengakuan satu orang diuber orang lain kok lucu cara bekerja hukum. Kalau ada orang yang bilang bunuh orang di laut hitam dikejar juga sama seluruh dunia karena di situ dekat Israel?" ujar Munarman.

Munarman memang mengakui pernah hadir dalam kegiatan FPI di Makassar pada 2015. Hanya saja, kehadirannya diklaim dalam kapasitas sebagai narasumber seminar saja.

"Kehadiran saya di Makassar dalam rangka sebagai narasumber diundang FPI Makassar adalah berupa seminar," tegas Munarnan.

Munarman juga sudah menggali keterangan soal Achmad Aulia pada eks Dewan Pimpinan Daerah FPI Sulawesi Selatan, Habib Muchsin Al-Habsyi dan FPI Makassar. Munarman menemukan Ahmad Aulia tidak pernah terdaftar sebagai anggota atau Laskar FPI dimanapun. Ahmad Aulia hanya pernah mengikuti kegiatan FPI.

"Tidak ada yang kenal dengan dia. Dia tidak pernah jadi anggota FPI," sebut Munarman.

Munarman menyatakan FPI ketika masih aktif punya mekanisme ketat dalam menjaring anggota. Tak sembarang orang bisa masuk kepengurusan FPI. Walau begitu, FPI buka pintu lebar-lebar jika masyarakat ingin hadir di kegiatan FPI.

"Keanggotan (FPI) sangat ketat seleksinya. Kecuali acara-acara itu terbuka boleh simpatisan hadir. Atribut FPI makanya bebas dijual," ucap Munarman.

Sebelumnya, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menyampaikan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 akan mendalami dugaan keterlibatan Munarman dengan organisasi terorisme. Hal itu untuk mengungkap apakah yang bersangkutan benar-benar terlibat jaringan terorisme dan apa perannya.

Hingga saat ini, kata Rusdi, pihak Densus 88 Antiteror masih terus mendalami dugaan Munarman terlibat jaringan terorisme tersebut. Kemudian, menurut Rusdi, saat ini Bareskrim Polri juga masih masih melakukan penyelidikan atas laporan PPATK terkait penghentian sementara transaksi dari 92 rekening FPI dan pihak terkait lainnya.

"Masih didalami oleh penyidik bareskrim masih koordinasi dengan PPATK, 92 rekening tersebut masih didalami dan penyidik belum mendapatkan kesimpulan dari pendalaman terhadap 92 rekening tersebut," ucap Rusdi.

Sementara itu, eks Dewan Pimpinan Daerah FPI Sulawesi Selatan, Habib Muchsin Al-Habsyi menegaskan, Ahmad Aulia tidak pernah terdaftar sebagai anggota atau Laskar FPI Makassar maupun di kota atau kabupaten lainnya yang ada di provinsi Sulawesi Selatan. Menurutnya, meski yang bersangkutan pernah ikut kegiatan FPI tapi tidak semerta-merta dia adalah anggota.

"Bahwa yang bersangkutan pernah ikut kegiatan yang dilakukan oleh FPI Makassar, maka tidak secara otomatis saudara AA menjadi anggota FPI," tegas Muchsin dalam pernyataan tertulisnya.

Menurut Muchsin kala kegiatan ta'lim rutin FPI yang dilaksanakan Sabtu malam adalah acara yang terbuka untuk umum. Sehingga siapapun bisa hadir dan ikut salam acara ta'lim rutin, termasuk Ahmad Aulia. Ia juga membantah klaim saudara Ahmad Aulia yang mengaku pernah terjadi baiat dukungan kepada ISIS yang dilakukan di bekas markas daerah laskar FPI.

"Saat itu adalah diskusi umum terkait kondisi perpolitikan dunia secara global yang dihadiri tiga orang narasumber yakni H  Munarman, Ustadz M Basri (almarhum), Ustaz Fauza (almarhum)," terang Muchsin. []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita