Orang Liburan yang Bikin Covid-19 di DKI Melonjak, Bukan Acara Habib Rizieq dan Aksi Demo
logo

11 Januari 2021

Orang Liburan yang Bikin Covid-19 di DKI Melonjak, Bukan Acara Habib Rizieq dan Aksi Demo

Orang Liburan yang Bikin Covid-19 di DKI Melonjak, Bukan Acara Habib Rizieq dan Aksi Demo



GELORA.CO - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan telah memahami pola kasus Covid-19 yang terjadi di Ibu Kota Negara. Hal ini diketahui setelah 9 bulan perjalanan pandemi Covid-19 di Tanah Air.

“Pertama adalah aspek besarannya, kapan terjadi peningkatan kapan terjadi pelandaian, kapan ada penurunan, kita memiliki pola itu, memahami pola itu. Kemudian yang kedua, aspek berat ringannya. Berapa dari yang aktif kasus, itu kasus OTG (orang tanpa gejala), berapa yang ringan, berapa yang sedang, berapa yang berat, berapa yang kritis,” ujar Anies, saat konferensi pers, Sabtu (9/1/2021).

Anies mengungkapkan, pada saat bulan April hingga Juni 2020 dijalankan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terlihat jumlah kasus aktif melandai hingga rata. Kemudian pada bulan pada bulan Juni mulai diberlakukan dengan PSBB transisi.

“Ketika masuk PSBB transisi mulai ada pelonggaran, dan saat itu terus bergerak mulai naik, bergerak terus. Pada waktu itu kita masih mengimbangi dengan fasilitas perawatan, fasilitas isolasi,” katanya.

Setelah itu, lanjut Anies, terjadi lonjakan signifikan di bulan Agustus. Pasalnya di bulan itu ada cuti bersama ada liburan cukup panjang yakni 15-17 Agustus dan 20-23 Agustus. 

“Sehingga banyak yang berlibur di periode 15-22 Agustus. Dan apa yang terjadi? Dua minggu setelah libur panjang penambahan kasus jarian dan aktif melonjak. September dalam 11 hari pertama, 30 Agustus – 11 September kasus aktif melonjak adalah sebanyak 49% dari 7960 menjadi 11.824 kasus. Bahkan kematiannya loncat menjadi 17%,” ungkapnya.

DKI lalu mengambil langkah tegas untuk menarik rem darurat yang diumumkan pada 9 September 2020. Dimana PSBB transisi dihentikan dan dikembalikan ke status PSBB.

“Ketika mengambil kebijakan PSBB di bulan September lalu mulai melandai. Kalau saja kita membiarkan tidak melakukan intervensi grafik ini bisa naik terus ke atas. Yang terjadi melandai. Bahkan kemudian kita menyaksikan adanya penurunan yang cukup signifikan,” tuturnya.

Anies menyebut periode 11-16 Oktober merupakan waktu yang cukup mengkhawatirkan. Pasalnya banyak demonstrasi terjadi di Jakarta. Namun begitu ternyata hal ini tidak membuat aksus Covid-19 di DKI Jakarta melonjak.

“Itu peristiwanya terjadi di sini. Tapi ternyata sama sekali tidak membuat jumlah kasus aktif di Jakarta meningkat. Justru angkanya menurun. Setelah PSBB diterapkan angka melandai dan menurun,” ucapnya.

Namun setelah itu ada libur panjang 28 Oktober sampai 2 November, terjadi kembali lonjakan kasus. Dimana kenaikan kasus menjadi sangat signifikan. Bahkan Anies menyebut 40% dari kasus merupakan klaster keluarga.

“Apa yang bisa kita simpulkan dari perjalanan sembilan bulan ini? Ketika kita sama-sama melakukan pengetatan penularan turun dan jumlah kasus aktif menurun. Ketika ada masa libur dan kita sama-sama melakukan kegiatan liburan bersama, maka penularan meningkat, kasus aktif bertambah,” pungkasnya. (*)
close
Subscribe REKAT TV