Dinilai Bisa Merangkul Semua Kalangan, Eks Menhan Ryamizard Ryaccudu Dijagokan untuk 2024
logo

24 Januari 2021

Dinilai Bisa Merangkul Semua Kalangan, Eks Menhan Ryamizard Ryaccudu Dijagokan untuk 2024

Dinilai Bisa Merangkul Semua Kalangan, Eks Menhan Ryamizard Ryaccudu Dijagokan untuk 2024


GELORA.CO - Mantan Menteri Pertahanan Jenderal TNI Ryamizard Ryaccudu menempati posisi teratas dalam polling capres/cawapres alternatif untuk Pilpres 2024.

Polling yang dilakukan secara daring itu divoting oleh lebih dari 3.000 responden, nama Ryamizard Ryaccudu mendominasi tiga tokoh senior lainnya, yakni Menkopolhukam Mahfud MD, Mendagri Tito Karnavian, dan Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan.

Keempat tokoh tersebut merupakan menteri-menteri yang mengabdi pada pemerintahan Presiden Joko Widodo, baik di periode Jokowi-JK maupun di periode Jokowi-Maruf Amin.

Munculnya nama-nama tersebut berkaitan dengan wacana capres/cawapres alternatif dari kalangan Non Jawa.

Jika diperhatikan, warganet memilih nama Ryamizard Ryaccudu dengan persentase diatas 75%, dengan Luhut Pandjaitan di posisi kedua sebanyak 8,5%, disusul Mahfud MD dan Tito Karnavian masing-masing di angka 7,5% dan 7%.

Terkait hasil polling tersebut, redaksi Gelora.co mencoba meminta tanggapan dari beberapa tokoh Forum Rekat Indonesia. Diketahui saat ini, Jenderal Ryamizard menjadi pembina dalam forum tersebut.

Sekjen Forum Rekat Indonesia, Fristian Griec memberikan pandangannya tentang ketokohan Jenderal Ryamizard.

"Bapak Ryamizard itu sudah selesai dengan dirinya sendiri, beliau sudah pernah jadi pejabat negara, menjadi menteri, dan beliau merupakan sosok yang mapan. Jadi kalau ada peluang bagi Bapak Ryamizard maju di 2024 kita siap mendukung", ungkap Fristian saat berbincang dengan redaksi Gelora.co, Minggu (24/1).

"Bagus jika kita memunculkan wacana calon alternatif Non Jawa, ini angin segar bagi demokrasi Indonesia ke depan, kalau  ada peluang mesti kita perjuangkan", jelas Fristian.

Sementara itu, Ketua Forum Rekat, Eka Gumilar menilai Jenderal Ryamizard sebagai tokoh yang mampu merangkul semua kalangan, sehingga kontribusinya diharapkan mampu meredam ancaman disintegrasi bangsa yang mulai terpolarisasi akibat pertarungan politik beberapa tahun terakhir.

Namun Eka Gumilar menerangkan bahwa belum ada niatan Jenderal Ryamizard untuk ikut berkompetisi di 2024..

"Saya selaku Ketua Forum Rekat menyampaikan terimakasih untuk kepercayaan para netizen menjagokan Pak Ryamizard, tapi sepertinya beliau sama sekali belum kepikiran ke arah situ. Saya belum pernah tuh mendengar beliau menbahas masalah itu, yang ada dibenak beliau hanya keprihatinan terhadap situasi bangsa kita yang sedang menghadapi berbagai masalah, terutama pandemi ini", terang Eka Gumilar kepada Gelora.co.

"Beliau bukan model pemimpin yang bersyahwat tinggi mengejar jabatan. Saya mengenal beliau berhati bapak, mengajak kami perbanyak silaturahmi dengan para tokoh lintas suku agama budaya. Beliau berhati raja, rindu berkontribusi pada rakyat tanpa kepentingan politik ", tegas Eka.

"Orang Baik Diam, Kejahatan Merajalela"

Selain sosok yang tegas dalam prinsip, Jenderal Ryamizard juga dikenal rendah hati. Apa yang disampaikan, semangatnya selalu mempersatukan dan memberikan pesan sejuk.

Dalam beberapa waktu terakhir, Jenderal Ryamizard terlihat aktif menggelar diskusi nasional secara berkala bersama Forum Rekat Indonesia

Terbaru, dalam acara Silaturrahmi dan Doa Bersama Tokoh Agama dan Tokoh Nasional bertema "Merawat Asa Bela Negara" yang diselenggarakan di Grand Sahid Jaya Hotel Jakarta, Sabtu (9/1), Jenderal Ryamizard memberikan sambutannya di antara para tokoh.

"Saya tahu yang hadir disini semua orang baik, tapi kalau orang baik tidak melakukan apa-apa, kejahatan akan merajalela", ujar Ryamizard kala itu.

Ryamizard: Saya Waqafkan untuk Bangsa dan Negara

Tokoh Kelahiran Palembang, 21 April 1950 itu pernah menjadi Panglima Kostrad kemudian Kasad. Dia juga menantu dari wakil presiden era Soeharto, Try Sutrisno. Bahkan Ryamizard sendiri adalah anak seorang jenderal.

Setelah pensiun dari militer, Ryamizard mengaku tidak ingin masuk ke dunia politik, namun pada tahun 2008, saat ikut dalam deklarasi Majelis Kebangsaan Indonesia, ia sempat menyatakan mempertimbangkan menjadi Calon Presiden bila mendapat dukungan. Pada 27 Januari 2009, ia diundang ke Rakernas PDIP, menggantikan Hidayat Nur Wahid yang tidak jadi diundang, sehingga memunculkan namanya sebagai salah satu cawapres Megawati.

Namanya sempat diisukan sebagai salah satu calon wakil presiden Joko Widodo, walaupun akhirnya Jusuf Kalla yang terpilih. Ia lalu mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dan terlibat dalam pembekalan relawan selama kampanye Pilpres. Ryamizard Ryacudu kemudian ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Kerja.

Ketika posisinya digantikan oleh Prabowo Subianto di Kabinet Kerja jilid II, Ryamizard menyatakan dirinya total dalam mengabdi kepada negeri.

"Kalau orang mewaqafkan tanahnya untuk apa-apa, kalau saya waqafkan untuk bangsa dan negara," tutur Riyamizard di Kemenhan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Menurut dia, itu sebuah bukti cintanya kepada negeri. "Saya terima kasih sudah dipercaya. Saya bisa berada di tengah-tengah ini (Kemenhan) untuk menjaga bangsa ini," lanjut dia.

Riyamizard juga mengaku bakal sedih jika bangsa ini tidak lebih baik.(*)