Salip DKI Jakarta, Jateng Pecah Rekor Kematian Covid-19
logo

30 Desember 2020

Salip DKI Jakarta, Jateng Pecah Rekor Kematian Covid-19

Salip DKI Jakarta, Jateng Pecah Rekor Kematian Covid-19



GELORA.CO - Kasus kematian terkait Covid-19 bertambah 251 kasus sehingga menjadi 21.703 meninggal dunia secara nasional pada Selasa (25/12). Sebaran terbanyak kasus kematian berasal dari Jawa Tengah dengan 91 kasus, angka ini juga rekor tertinggi kematian di provinsi tersebut.

Penambahan angka kematian Jateng hari ini menjadi yang tertinggi di tingkat provinsi, mengalahkan DKI Jakarta.

Provinsi kedua dengan angka kematian terbanyak ialah Jawa Timur dengan 64 kasus. DKI Jakarta di posisi ketiga penambahan terbanyak dengan 18 kasus kematian.

Kemudian ada 11 kasus kematian di Sulawesi Tenggara, 10 kasus kematian di Yogyakarta, 7 kasus kematian di Sumatera Barat, dan 5 kasus kematian di Banten.

Provinsi lainnya mencatat kasus kematian di bawah 5, seperti Lampung, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara, sebanyak masing-masing 4 kasus kematian.

Sebanyak 3 kasus kematian masing-masing di Riau, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan. Lalu 2 kasus kematian di Jambi, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Maluku, dan Maluku Utara.

Beberapa provinsi mencatat tambahan 1 kasus kematian di antaranya Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat.

Provinsi lainnya tidak mencatatkan penambahan kematian seperti Aceh, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat.

Sementara itu, menurut data Satgas Covid-19 penambahan kasus positif pada hari yang sama sebanyak 7.903 kasus sehingga terakumulasi 727.122 kasus. Dari total itu, sebanyak 596.783 sembuh, dan 21.703 meninggal dunia.

Kasus kematian terkait virus corona terus meningkat. Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan hal ini akibat upaya testing-tracing-treatment(tes-telusur-tindak lanjut atau 3T) yang dilakukan pemerintah kurang memadai.

Menurutnya, hal itu mengakibatkan keterlambatan dalam menemukan pasien positif, dan akhirnya baru terdeteksi setelah mengalami gejala berat sehingga meningkatkan potensi kematian. (*)
close
Subscribe