Prabowo Harus Lakukan Evaluasi dan Kemudian Hengkang

Prabowo Harus Lakukan Evaluasi dan Kemudian Hengkang

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Usai penetapan tersangka Menteri KKP, Edhy Prabowo, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus ekspor benih lobster (benur), Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, hingga kini masih belum muncul ke hadapan publik.

Hal ini tentu memunculkan tanda tanya besar di masyarakat. Apa alasan utama yang membuat Prabowo tak kunjung menampakkan dirinya?

Nah, menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, Prabowo belum berani tampil di hadapan publik lantaran takut menjadi perbincangan yang tidak menguntungkannya.

Terlebih, Menteri Pertahanan itu pada momentum Pilpres 2019 lalu paling keras bicara antikorupsi.

"Belum muncul karena bisa saja jika muncul akan jadi bulan-bulanan media dan publik. Karena apa yang dikampanyekan dulu di Pilpres mengenai orang dekat dan partainya. Dan jika muncul juga, arah angin masih tak menguntungkannya," analisis Ujang Komarudin kepada Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Selasa (1/12).

Menurut pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia ini, sudah seharusnya Prabowo melakukan evaluasi terhadap diri dan kadernya.

"Harusnya melakukan evaluasi total bagi diri dan partainya. Edhy Prabowo terlalu berani, jorok, dan vulgar dalam memberikan proyek ke kader-kader partainya sendiri," tuturnya.

Bahkan bila perlu, selaku pucuk pimpinan partai Gerindra, Prabowo hengkang dari koalisi, karena Gerindra akan lebih baik jika tetap berada di luar pemerintahan.

"Lebih baik hengkang. Agar Gerindra ada di luar pemerintahan. Agar bersama-sama rakyat untuk mengingatkan pemerintah ketika pemerintah salah jalan," demikian Ujang Komarudin. []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita