Kenapa Harus Biden yang Menang di Pilpres AS 2020?
logo

4 November 2020

Kenapa Harus Biden yang Menang di Pilpres AS 2020?

Kenapa Harus Biden yang Menang di Pilpres AS 2020?


GELORA.CO - Media besar di Amerika Serikat telah mengambil sikap dalam pemilihan Presiden (Pilpres) tahun ini.

Masing-masing dari media tersebut telah menentukan, tim Trump atau tim Biden. Hal tersebut tampak ditegaskan melalui tajuk dari redaksi ataupun sejumlah kolom opini dan produk berita lainnya yang menujukkan keberpihakan kepada salah satu kandidat.

Salah satu media besar, The Economist, menyajikan paparan alasan yang menarik tentang mengapa Joe Biden - kandidat dari Partai Demokrat - harus menang dan merebut Gedung Putih dari Trump.

Menurut The Economist, Joe Biden bukanlah obat ajaib yang dapat menyembuhkan Amerika Serikat (AS) dari krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 yang ikut menekan ekonomi negara tersebut. Namun, Biden adalah pria baik yang dapat memberikan kestabilan dan keberadaban di Gedung Putih.

"Dia siap untuk memulai tugas yang panjang dan sulit untuk menyatukan kembali negara yang retak. Itu sebabnya, jika kita punya hak pilih, itu akan jatuh ke tangan Joe," The Economist dalam kolom khususnya, Leaders.

Kemampuan Biden untuk mengenjot perbaikan tidak tinggi. Dia menunjukkan hal tersebut. Sayap kiri dari Partai Demokrat pun tidak menyukai dirinya dengan alasan dia adalah seorang yang sentris, institusionalis, pembangun konsensus. Namun, karakter ini menjadikannya seorang anti-Trump yang sangat cocok untuk memperbaiki beberapa kerusakan dari empat masa lalu tahun.

Baca Juga : Seluk Beluk Pilpres AS: dari Kandidat hingga Proses Pemilihan
Biden tidak akan bisa mengakhiri permusuhan pahit yang telah meningkat selama beberapa dekade di Amerika. Tapi dia bisa mulai meletakkan jalan menuju rekonsiliasi.

Meskipun kebijakannya berpihak pada pemerintahan sebelumnya, dia bukanlah seorang revolusioner.

Janjinya untuk membangun kembali AS dengan lebih baik akan menelan anggaran hingga US$2 triliun - US$3 triliun. Ini berarti akan ada peningkatan anggaran pengeluaran tahunan sekitar 3 persen dari PDB.

Tidak hanya itu, dia pasti akan menaikkan pajak bagi perusahaan dan orang kaya secara signifikan, tetapi setidaknya Biden tidak menghukum mereka dengan kebijakan yang lainnya.

"Dia akan berusaha untuk membangun kembali infrastruktur Amerika yang bobrok, memberi lebih banyak untuk kesehatan dan pendidikan dan memungkinkan lebih banyak imigrasi," tulis The Economist.

Dengan kebijakan perubahan iklimnya, dia akan berinvestasi pada penelitian dan teknologi untuk peningkatan lapangan kerja.

"Dia adalah administrator yang kompeten dan percaya pada proses. Dia mendengarkan nasihat ahli, bahkan ketika itu tidak nyaman. Dia adalah seorang multilateralis: kurang konfrontatif daripada Trump, tetapi lebih memiliki tujuan."

Biden memang tua dan lemah. Bahkan, dia akan menjadi presiden AS tertua yang menjabat. Ini menjadi salah satu kekhawatiran Republikan.

Biden tua akan menjadi kuda Troya bagi kelompok sayap kiri. Memang benar bahwa sayap radikal partai Demokrat tengah bergerak, tetapi Biden dan Kamala Harris telah menunjukkan dalam kampanye bahwa mereka dapat terus mengendalikan permainan.

Biasanya, pemilih mungkin disarankan untuk membatasi sayap kiri dengan memastikan bahwa Senat tetap di tangan Partai Republik. Namun, tidak kali ini. Kemenangan besar bagi Demokrat berada di sana, di Senat.

Pasalnya, kekuasaan Demokrat di Senat akan menambah dominasi kaum sentris moderat atas kaum radikal di Kongres dengan menghadirkan senator seperti Steve Bullock dari negara bagaian Montana atau Barbara Bollier dari Kansas.

Dalam pemilihan ini, Amerika menghadapi pilihan yang menentukan. Yang dipertaruhkan adalah sifat demokrasi. Dalam masa jabatan pertamanya, Trump telah menjadi presiden yang merusak. Dia akan memulai yang putaran kedua - jika terpilih - dengan semua naluri terburuknya.

"Tuan Biden adalah antitesisnya. Jika dia terpilih, kesuksesan tidak akan dijamin — bagaimana mungkin? Tapi dia akan memasuki Gedung Putih dengan janji hadiah paling berharga yang bisa diberikan oleh demokrasi: pembaruan," tutup The Economist. (*)