Investor AS Lelah Pada Trump: Kita Tak Cari Suara yang Menghasut
logo

19 November 2020

Investor AS Lelah Pada Trump: Kita Tak Cari Suara yang Menghasut

Investor AS Lelah Pada Trump: Kita Tak Cari Suara yang Menghasut


GELORA.CO - CEO BlackRock Larry Fink mengaku sudah lelah dengan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilainya telah menimbulkan banyak kekacauan di Washington selama 4 tahun memimpin Amerika Serikat (AS). Menurut bos dari perusahaan manajer investasi (MI) terbesar di dunia itu, para investor kini menginginkan pemimpin yang membawa ketenangan.

"Saya sangat yakin bahwa pasar menginginkan stabilitas yang tinggi, dan volatilitas yang lebih rendah," kata Fink dilansir dari CNN, Kamis (18/11/2020).

Fink yang juga merupakan tokoh paling berpengaruh di Wall Street, di mana perusahaannya mengelola aset hingga US$ 7,8 triliun atau sekitar Rp 110.611 triliun (kurs Rp 14.181) mengatakan, pasar membutuhkan pemimpin dengan suara yang moderat atau yang bisa memberikan jalan tengah.


"Mereka mencari suara yang moderat, bukan suara yang menghasut. Saya benar-benar yakin Presiden terpilih Biden bisa menjadi suara itu," tegas Fink.

Ia menilai, Trump memang sosok yang pro-bisnis dengan segala program kerjanya yaitu pemotongan pajak dan deregulasi demi membantu meningkatkan pasar. Namun, menurutnya Trump kerap kali mengambil keputusan mendadak, memecat pejabat tinggi melalui cuitan di Twitter, dan menyebabkan perpecahan politik semakin parah. Sementara itu, menurut Fink, Biden akan menjadi pemimpin yang bisa membawa keharmonisan global.

"Kami semua lelah. Kami lelah dengan semua volume (tinggi) yang kami dengar dari Washington," kata Fink.

Ia menilai, kepemimpinan Biden yang didampingi oleh partisipasi Partai Republik di Senat kemungkinan besar akan menciptakan iklim positif. Pasalnya, rencana Biden menaikkan pajak perusahaan kemungkinan akan tertahan di Sent.


"Pasar menyukai pemerintahan yang terbagi. Mereka ingin memastikan ada pemeriksaan dan keseimbangan yang tepat," imbuhnya.

Komentar Fink ini memang sangat disorot. Pasalnya, posisinya sangat kuat di AS. Apalagi, Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) meminta BlackRock untuk membantu AS dalam membeli obligasi dan surat utang perusahaan. The Fed menggunakan BlackRock untuk mengelola program tersebut, yang membantu memulihkan kepercayaan di pasar keuangan.

Salah satu saran yang dilontarkan Fink untuk pemerintahan Biden nantinya ialah memberikan stimulus fiskal agar jarak antara orang kaya dan miskin di AS bisa dipotong.

"Jika kami akan mencoba untuk benar-benar membangun kembali ekonomi kami, kami memerlukan stimulus fiskal yang sangat tepat sasaran bagi mereka yang masih menganggur," kata Fink.

Selain itu, ia mendesak Biden untuk fokus pada penciptaan lapangan kerja melalui paket infrastruktur yang telah lama tertunda. Misalnya pekerja untuk memperbaiki jalan dan jembatan yang runtuh.

"Lebih dari negara lain, kami membutuhkan RUU infrastruktur yang kuat sekarang," katanya.

Besarnya pengaruh Fink pun menimbulkan pertanyaan, apakah ia mau nantinya jika diangkat sebagai Gubernur The Fed atau Menteri Keuangan AS. Namun, ia mengaku belum mau memilih jalan itu.

"Saya sudah berkomitmen kepada karyawan saya dan kepada dewan direksi dan keluarga saya. Saya tinggal di New York untuk saat ini," pungkasnya.(dtk)