Dibanding Puan, Gibran Dinilai Layak Jadi The Next President
logo

9 November 2020

Dibanding Puan, Gibran Dinilai Layak Jadi The Next President

Dibanding Puan, Gibran Dinilai Layak Jadi The Next President


GELORA.CO - Putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, dinilai layak jadi presiden selanjutnya dibanding anak-anak tokoh nasional lain, seperti putri Ketua Umum PDIP Megawati, Puan Maharani. Gibran pun menjadi fenomena budaya tersendiri dari seorang putra penguasa.

Hal itu disampaikan penulis Ahmad Bahar saat meluncurkan buku karyanya, ‘Gibran Rakabuming Raka: Menang Ora Opo-opo, Kalah Yo Uwes’ di resto Kampoeng Mataraman, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (8/11) petang.

“Gibran the next president, meski sekadar wacana, sangat mungkin terjadi kalau dibanding anak-anak tokoh nasional lain,” tutur Bahar. Tak terkecuali anak-anak para mantan presiden, seperti putri Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani.

Untuk mengikuti jejak Jokowi, Gibran harus melewati proses politik saat ini sebagai calon Wali Kota Solo. Kans menang Gibran amat besar, namun kendati kalah, Gibran tak kehilangan apapun seperti halnya judul buku ini: menang tak apa-apa, kalah ya sudah.

“Dia seperti anak raja. Kalah (pilkada) enggak apa-apa karena dia banyak duit. Jadi seperti main-main saja,” ujarnya.

Menurut Bahar, kiprah Gibran itu menjadi fenomena budaya tersendiri jika ditilik dari budaya Jawa. Sebagai anak presiden, pencalonannya di pilkada menabrak banyak aturan main dan tak sesuai etika dan budaya Jawa.

“Dia menyalip di tikungan dan aji mumpung. Padahal pusat budaya Jawa itu di Solo dan tradisinya sangat agung. Mungkin ini karakter dia, meski ajaran bapaknya mungkin tidak begitu,” ujarnya.

Bahar menyebut, kondisi ini mesti diwaspadai Gibran bahkan Jokowi. Pencalonan Gibran di Solo bisa saja bukan diminta oleh Jokowi, melainkan para pendukung yang hendak mencari keuntungan.

“Kalau tidak hati-hati, dia bisa menciptakan musuh dan bisa menampar muka sendiri. Sebagai pengusa, Jokowi dan Gibran dikerumuni begundal politik dan pecinta rupiah. Mereka bisa terjebak,” tuturnya.

Untuk itu, kata dia, Gibran mesti terus diingatkan, termasuk melalui buku ini. “Buku ini sebenarnya sindiran berat untuk Gibran, lebih melihatnya dari perspektif budaya dan bukan politik, apalagi untuk pilkada,” kata Bahar.

Menurutnya, jika menang di pilkada, jabatan sebagai wali kota bakal menjadi ujian Gibran untuk menapak jejak politik lebih tinggi. “Gibran harus melebihi zaman saat Jokowi menjadi wali kota. Kalau dia terus memupuk kebaikan, dia sangat mungkin menjadi the next president,” katanya.

Buku 130 halaman ini berisi sejumlah opini yang kental dengan ungkapan-ungkapan Jawa dan dihiasi foto-foto Gibran dari media. Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Aprinus Salam turut menyumbang prolog.

Bahar mengatakan bakal berkeliling 50 kota untuk mengenalkan buku soal Gibran ini, meski menghindari berpromosi di Solo agar tak dianggap berkampanye untuk pengusaha kuliner itu.

“Kami juga menggelar lomba mirip senyum Gibran sambil menunjukkan buku ini di video. Pemenangnya dapat sepeda motor seharga Rp17 juta,” ujar penulis sejumlah buku biografi tokoh ini, berpromosi. []