17 Relawan di Bandung Mundur dari Uji Klinis Vaksin China Sinovac
logo

4 November 2020

17 Relawan di Bandung Mundur dari Uji Klinis Vaksin China Sinovac

17 Relawan di Bandung Mundur dari Uji Klinis Vaksin China Sinovac


GELORA.CO - Sebanyak 17 relawan uji klinis fase ketiga vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac di Bandung, Jawa Barat, keluar atau drop out dari keikutsertaannya. Belasan orang itu tidak lagi menjadi objek penelitian untuk tahap berikutnya.

Kendati demikian, Tim Uji Klinis Vaksin Covid-19 menegaskan 17 relawan yang mundur bukan disebabkan efek vaksinasi suntikan pertama melainkan karena ihwal lain.

"Memang ada yang drop out, tapi bukan karena reaksi vaksin. Tapi karena memang pindah bekerja, ada penyakit lain umpamanya tipes sehingga dia tidak bisa melakukan imunisasi kedua sehingga dia drop out," kata Ketua Tim Peneliti Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari FK Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil melalui konferensi pers daring yang dikutip CNNIndonesia.com, Rabu (4/11).

"Sekarang ini yang drop out ada 17 orang," imbuhnya.

Kusnandi merinci dari 17 relawan itu, tujuh diantaranya mundur karena pindah domisili dan tempat kerja. Sedangkan delapan lainnya karena sakit. Namun sekali lagi ia menegaskan mereka sakit bukan karena efek vaksinasi dalam masa uji coba.

Kusnandi pun menyebut sudah ada 1.620 relawan yang mendapat suntikan pertama dan 1.650 relawan yang mendapat suntikan kedua.

Ia mengklaim sejauh ini kondisi ribuan relawan baik-baik saja dan tidak ditemukan efek samping serius dari penyuntikan vaksin tersebut.

Direktur utama Bio Farma Honesti Basyir turut mengatakan uji klinis fase ketiga kandidat vaksin Sinovac di Bandung belum selesai. Sejauh ini juga tidak ditemukan indikasi yang bisa menghambat uji klinis.

Pihaknya pun optimistis proses pembuatan vaksin dapat berjalan sesuai harapan dan selesai pada 2021 mendatang.

"Kita harapkan dalam enam bulan ini akan segera menunjukkan hasil," kata Honesti.

Ia yakin kerjasama dengan FK Unpad serta melibatkan BPOM bisa menambah keyakinan Bio Farma untuk mendapat hasil yang diharapkan.

Kemudian, lanjutnya, Badan POM bersama Komite Nasional Penilaian Obat/Vaksin akan mengkaji hasil dari uji klinis fase 3. Apabila kedua lembaga tersebut menilai hasilnya aman dan mampu menimbulkan kekebalan, maka izin produksi vaksin akan dikeluarkan.

Selain Sinovac, Indonesia juga mengembangkan vaksin dalam negeri bernama Vaksin Merah Putih yang diproduksi oleh PT Bio Farma bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun memastikan vaksin merah putih akan sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO). []