Komnas HAM Minta Viktor Laiskodat Setop Kekerasan di Besipae -->
logo

16 Oktober 2020

Komnas HAM Minta Viktor Laiskodat Setop Kekerasan di Besipae

Komnas HAM Minta Viktor Laiskodat Setop Kekerasan di Besipae


GELORA.CO -  Komisi Nasional HAM menyurati Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat terkait dengan kasus kekerasan yang dilakukan diduga oleh petugas terhadap warga di Desa Pubabu, Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan pada Rabu (14/10) kemarin.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan surat itu telah dilayangkan pihaknya kemarin agar pemerintah setempat menghentikan kekerasan antarkelompok di wilayah itu.

"Kami sudah mengirimkan surat protes kami ke Gubernur NTT dan meminta untuk menghentikan dan mencegah kekerasan antarkelompok masyarakat," kata Beka saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (15/10).

Berdasarkan pantauannya, kasus kekerasan di wilayah tersebut sudah seringkali terjadi. Pihaknya pun bukan kali ini saja mengirim surat ke Pemprov NTT. Pihaknya sudah sempat memberikan rekomendasi terkait dengan kasus-kasus kekerasan di wilayah tersebut sejak 3 September lalu.

Namun, Beka mengatakan hingga saat ini belum ada respons ataupun tindak lanjut dari Pemerintah Provinsi NTT.

"Sejak tanggal 3 September, kami belum mendapat respons yang memadai dari Pemprov NTT," ujar Beka.

"Kami meminta Pemprov NTT untuk menindaklanjuti rekomendasi Komnas tanggal 3 September itu," imbuhnya.

Selain itu, Komnas juga mendesak agar aparat keamanan setempat untuk tidak melakukan kekerasan terhadap kelompok-kelompok tertentu. Permintaan itu juga sudah dikoordinasikan secara langsung dengan aparat penegak hukum setempat dan akan ditindaklanjuti oleh Kapolda dan Kapolres di wilayah tersebut.

"Supaya eskalasinya tidak naik," pungkasnya.

Sebagai informasi, konflik antara penduduk setempat dengan petugas terjadi pada Rabu (14/10). Dalam sebuah rekaman video yang beredar bahkan petugas kembali terjadi pada Rabu (14/10) kemarin. Dalam video yang beredar di media sosial Twitter, tampak sejumlah warga perempuan beradu mulut dengan para petugas dari pemerintahan, baik yang berseragam Satpol PP maupun pakaian bebas.

Dalam adu mulut itu, seorang perempuan ditarik pria berpakaian bebas dan petugas Satpol PP. Aksi saling tendang pun terjadi. Dua perempuan bahkan terjatuh dalam insiden tersebut. Seorang ibu tampak tak sadarkan diri setelah dirinya ditarik dan didorong hingga terhempas ke tanah.

Perempuan lainnya kembali bangkit untuk melawan. Namun seorang pria berjaket gelap mencekiknya kemudian mendorong perempuan yang perawakannya lebih kecil itu hingga jatuh ke tanah.[]