Ketum IMM: Bu Mega Ahistoris, Tanpa Semangat Anak Muda Tidak Mungkin Beliau Bisa Pimpin Partai
logo

30 Oktober 2020

Ketum IMM: Bu Mega Ahistoris, Tanpa Semangat Anak Muda Tidak Mungkin Beliau Bisa Pimpin Partai

Ketum IMM: Bu Mega Ahistoris, Tanpa Semangat Anak Muda Tidak Mungkin Beliau Bisa Pimpin Partai


GELORA.CO - Pertanyaan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tentang kontribusi generasi milenial untuk bangsa dan negara dinilai tendensius dan ahistoris. Apalagi, Megawati seolah menilai generasi milenial hanya bisa demo di jalanan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Najih Prasetyo menilai Megawati lupa dengan kontribusi para anak muda yang dengan berunjuk rasa berhasil membuat Indonesia keluar dari cengkraman Orde Baru.



Sementara di satu sisi, Megawati yang selama Orde Baru dibungkam bisa menikmati buah dari reformasi. Setidaknya Megawati bisa memimpin partai terbesar saat ini dan berhasil menjabat sebagai presiden.

"Bu Mega lupa pada apa yang terjadi di tahun 1998. Tanpa semangat anak muda tak mungkin beliau bisa memimpin partai seperti sekarang ini," ujarnya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Jumat (30/10). 

Menurut Najih, Megawati seolah tidak merunut sejarah bahwa gerakan aksi massa, termasuk yang dilakukan generasi milenial menolak omnibus law UU Cipta Kerja (Ciptaker), adalah bentuk kontrol civil society terhadap negara dan pemerintahan. 

"Jadi ini bukan soal prestasi, namun lebih kepada fungsi dan tanggung jawab," tegasnya. 

Selain itu, Najih menyebut pernyataan pentolan partai banteng itu lebih tepat disampaikan kepada kader PDI Perjuangan yang notabene banyak duduk di parlemen. Sebab demonstrasi bermula akibat parlemen cenderung kontroversi dan minim prestasi. 

“Pertanyaan Bu Megawati rasanya lebih tepat ditujukan kepada pihak internalnya sendiri. Yang harus Bu Mega pahami adalah tuntutan yang dilakukan oleh milenial yang terlibat dalam aksi demonstrasi itu disebabkan oleh pihak parlemen yang minim prestasi," pungkasnya.(RMOL)