Catatan Mitos Lintang Kemukus, Dikaitkan dengan G30S hingga Huru-hara -->
logo

13 Oktober 2020

Catatan Mitos Lintang Kemukus, Dikaitkan dengan G30S hingga Huru-hara

Catatan Mitos Lintang Kemukus, Dikaitkan dengan G30S hingga Huru-hara


GELORA.CO - Sebuah fenomena alam yang dianggap sebagai lintang kemukus terjadi di Tuban dan Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (11/10) lalu. Terlihat cahaya merah terang membentuk garis vertikal lurus di langit Tuban pada saat itu. Peristiwa alam itu kemudian viral di media sosial.
Kemunculan lintang kemukus ini kemudian banyak dikaitkan dengan adanya pagebluk atau bencana. Sebenarnya apa itu lintang kemukus?

Dosen Sastra Jawa FIB Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisma Nugraha Christianto menyebut kepercayaan masyarakat terhadap kemunculan lintang kemukus sudah diwariskan turun-temurun. Akhirnya kepercayaan itu bertahan hingga sekarang dan menjadi mitos.

"Kepercayaan rakyat ini selalu diwariskan secara turun-temurun melalui cerita-cerita dan sampai sekarang masih diwariskan sehingga menjadi mitos," kata Chris saat dihubungi detikcom, Selasa (13/10/2020).


Nyala pecahan komet yang masuk ke atmosfer itu yang kemudian memiliki warna. Oleh orang Jawa kemudian ditafsirkan.Ia menjelaskan lintang kemukus ini merupakan fenomena alam. Di mana ada komet lewat yang pecahannya masuk ke atmosfer bumi dan kemudian menyala.

"Lintang kemukus itu seperti pecahan komet yang bisa dilihat mata entah malam atau menjelang subuh," jelasnya.

"Berdasarkan ilmu titen ditandai kalau warnanya biru ekornya panjang itu pertanda bagus, tapi kalau ada unsur kemerahannya itu pertanda kurang baik atau negatif dan ini bermacam-macam yaitu pagebluk. Bisa penyakit atau huru-hara," sambungnya.

Dosen yang juga mengajar Kajian Budaya dan Media itu menjelaskan, lintang kemukus di tiap daerah menimbulkan tafsir macam-macam.

"Seperti di Wonosari (Gunungkidul, DIY) orang melihat lintang kemukus ekor panjang tandanya ada orang yang akan meninggal dengan cara gantung diri sehingga dinamai pulung gantung," urainya.


"Rakyat itu secara sederhana melihat ini (lintang kemukus) ada tanda alam dan diikuti oleh fenomena alam di kehidupan sosial dan menjadi titenan," paparnya.Chris pun menilai wajar jika masyarakat menafsirkan demikian.

"Jadi mereka (masyarakat) selalu mencoba menafsirkan menghubungkan akan ada apa dan kebetulan kalau warna merah bencana biru adem ayem," tambahnya.

Dalam sejarahnya, sambungnya, lintang kemukus pernah menandai satu kejadian besar. Yaitu peristiwa G30S PKI. Sebab, sebelum adanya peristiwa itu banyak lintang kemukus.

"Kebetulan dulu sebelum G30S banyak fenomena itu (lintang kemukus) tapi kalau dilacak bisa saja musim-musim tertentu banyak muncul lintang kemukus," bebernya.

Namun, lanjutnya, hal itu hanya kebetulan semata. Akan tetapi kebetulan itu menjadi kepercayaan rakyat yang dipercaya hingga sekarang. Oleh karena itu, wajar saja jika masyarakat menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan munculnya lintang kemukus.


"Wajar saja menghubung-hubungkan, sama saja karena kepercayaan," pungkas dosen Kajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa itu."Kebetulan ada fenomena menarik di sosial dan orang menghubungkan. Ini bagian dari folk believe, kepercayaan rakyat yang berpikir secara sederhana karena dunia manusia sederhana masih dikungkung oleh dunia mitos," jelas Chris.

Diberitakan sebelumnya, sebuah garis sinar berwarna oranye terlihat di langit pada Sabtu (10/10) malam. Warga yang mengetahui penampakan benda tersebut banyak yang mengabadikannya hingga viral di media sosial.

Garis sinar oranye itu terlihat oleh warga Tuban dan Bojonegoro. Warga menyebutnya lintang kemukus (komet).(dtk)