Babak Baru Macron Versus Islam, Negara Arab Kompak Mengutuk

Babak Baru Macron Versus Islam, Negara Arab Kompak Mengutuk

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Sejumlah negara Arab mengutuk penghinaan Prancis terhadap agama Islam dan Nabi Muhammad SAW. Karena, penghinaan yang dilakukan secara terus menerus tersebut dapat memicu kebencian di masyarakat dunia.

Seperti diketahui, dalam beberapa pekan terakhir Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menyerang Islam dan komunitas Muslim, menuduh Muslim "separatisme" dan menggambarkan Islam sebagai agama yang mengalami krisis di seluruh dunia.

Hal ini bertepatan dengan langkah provokatif oleh Charlie Hebdo, majalah Prancis sayap kiri yang terkenal karena menerbitkan karikatur anti-Islam, yang telah menimbulkan kemarahan di seluruh dunia Muslim. Karikatur tersebut pertama kali diterbitkan pada 2006 oleh surat kabar Denmark Jylllands Posten, yang memicu gelombang protes.

Dalam sebuah pernyataan, Sekretaris Jenderal Dewan Kerjasama Teluk (GCC), Nayef al-Hajraf, menggambarkan pernyataan Macron terhadap Islam tersebut tidak bertanggung jawab dan telah menyebarkan budaya kebencian di antara masyarakat.

"(Pernyataan Prancis) seperti itu keluar pada saat upaya sedang dilakukan untuk meningkatkan toleransi dan dialog antara budaya dan agama," kata al-Hajraf dikutip dari laman resmi Anadolu Agency, Ahad (25/10).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Dhaifallah Fayez, juga menyuarakan kecaman negaranya atas penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo atas klaim kebebasan berekspresi.

“Praktik-praktik semacam itu melukai sentimen sekitar 2 miliar Muslim dan merupakan serangan terhadap simbol-simbol agama, kepercayaan, dan kesucian,” katanya, sambil memperingatkan bahwa praktik semacam itu memicu budaya ekstremisme dan kekerasan.

Selain Yordania, Kementerian Luar Negeri Kuwait juga menyatakan kekesalannya atas penerbitan ulang kartun anti-nabi di Prancis.

Dalam sebuah pernyataan, Kemenlu Kuwait memperingatkan bahwa penghinaan ini akan menyulut semangat kebencian, kekerasan dan permusuhan. “Dan akan membahayakan upaya komunitas internasional untuk menyebarkan budaya toleransi dan perdamaian di antara masyarakat di dunia,” jelasnya. (*)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita