Sindir Sri Mulyani, Indef: Yang Penting Antisipasi, Bukan Pengumuman Resesi -->
logo

23 September 2020

Sindir Sri Mulyani, Indef: Yang Penting Antisipasi, Bukan Pengumuman Resesi

Sindir Sri Mulyani, Indef: Yang Penting Antisipasi, Bukan Pengumuman Resesi


GELORA.CO - Pengumuman dari Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa Indonesia akan masuk ke jurang resesi pada akhir September 2020 sebenarnya tidak terlalu penting. Sebab, sejumlah indikator data sudah menunjukkan tanda-tanda itu.

Setidaknya, kata ekonom muda dari Indef, Bhima Yudhistira hampir seluruh sektor ekonomi mengalami perlambatan.

"Misalnya indeks kepercayaan konsumen juga 86,9 di bawah level kepercayaan 100. kemudian pertumbuhan kredit turun drastis khususnya kredit konsumsi," ujarnya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Rabu (23/9).

Dia menyarankan pemerintah, dalam hal ini Sri Mulyani, untuk melakukan persiapan menghadapi ancaman resesi yang sudah pasti akan terjadi tersebut. Termasuk langkah apa yang akan dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi resesi.

"Yang terpenting saat ini pemerintah bisa apa? Kalau cuma umumkan resesi nanti tanggal 5 November, BPS juga akan umumkan pertumbuhan ekonomi kuartal ke III kok," tuturnya. 

"Persiapan pemerintah yang ditunggu saat ini," imbuhnya menegaskan. 

Menurut Bhima, pemerintah harus menjawab ancaman bagaimana mengantisipasi gelombang PHK yang merata dihampir semua sektor. Jika angka pengangguran tidak bisa tertolong dengan jaring pengaman yang ada maka resiko ke angka kemiskinan yang naik. 

"Dan ancaman konflik sosial makin tinggi," tegasnya. 

"Jadi segera tambah BLT untuk pengangguran, korban PHK, dan pekerja informal," kata Bhima. 

Dia juga menyarankan agar nominal BLT pun harus lebih besar dari sebelumnya, idealnya, kata dia, Rp1,2 juta per orang per bulan selama 3 hingga 6 bulan. Kemudian, bantuan berupa sembako juga bisa difokuskan ke daerah daerah yang padat penduduk seperti Jabodetabek. 

"Langkah pemerintah juga penting untuk menjamin pengendalian wabah berjalan optimal dan cepat," tekannya. 

"Ini kan akar masalahnya karena aktivitas ekonomi macet saat pandemi. maka solusinya adalah tangani masalah kesehatan dengan lebih serius. semakin cepat pandemi tertangani semakin cepat recovery," demikian Bhima Yudhistira.

Menkeu Sri Mulyani menyatakan Indonesia dipastikan akan masuk ke jurang resesi. Hal ini merujuk prediksi ekonomi kuartal III-2020 ini. Menurut dia, Kemenkeu tadinya melihat ekonomi kuartal III di minus 1,1 persen hingga 0,2 persen. 

"Dan per September 2020, ini minus 2,9 persen sampai minus 1,0 persen,” ujar Sri Mulyani saat jumpa pers APBN Kita September, pada Selasa (22/9) kemarin. [rmol]