Pakar Tak Lihat Perkembangan 2 Minggu Luhut Tangani Corona -->
logo

29 September 2020

Pakar Tak Lihat Perkembangan 2 Minggu Luhut Tangani Corona

Pakar Tak Lihat Perkembangan 2 Minggu Luhut Tangani Corona

GELORA.CO -  Hari ini adalah jatuh tempo perintah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) kepada Menko Marves Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan untuk menangani pandemi virus corona (Covid-19) di 9 provinsi prioritas selama dua pekan.

Dalam 2 minggu Luhut tangani corona tersebut, pakar epidemiologi menilai belum ada perbedaan signifikan kondisi sejak kasus pertama di Indonesia ditemukan awal Maret lalu.

"Secara epidemiologi enggak ada bedanya sebetulnya, artinya prevalensi kita masih tinggi, positivity rate kita masih tinggi, artinya belum ada perbedaan signifikan selama ditangani Pak Luhut," kata ujar Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman saat dimintai pendapatnya oleh CNNIndonesia.com, Selasa (29/9).

Dicky mengatakan tren kasus positif masih terus meningkat ditambah dengan tren kasus kematian. Kondisi tersebut adalah konsekuensi logis dari tingginya laju positif (prevalensi) di masyarakat Indonesia.

Menurut Dicky apapun pengetatan yang dilakukan pemerintah terkait penanganan Covid-19, sebetulnya hasilnya baru akan terlihat pada dua pekan selanjutnya. Dengan demikian, sambung dia, kondisi saat ini pun tak bisa dibilang begitu saja sebagai intervensi langsung dari Luhut. Tapi, dari sudut cakupan tes risiko Covid-19 kepada masyarakat, dia menilai belum ada perkembangan.

"Jika dikaitkan dengan kinerja Satgas atau Pak Luhut dalam waktu 2 minggu baru bisa dilihat hasilnya dua minggu lagi, tapi kita lihat selama dua minggu ini cakupan tes spesimen belum ada peningkatan," ucapnya.

Sebelumnya, selama 2 minggu Luhut tangani corona, tambahan kasus positif secara nasional tercatat tiga kali rekor berturut-turut pada 23-25 September. Tambahan kasus pada 23 September sebanyak 4.465, 24 September 4.634, 25 September 4.823.

Tiga hari selanjutnya pada 26-28 September, tambahan kasus covid-19 mengalami penurunan, meski masih berada pada rentang 3.500-4000 kasus dalam sehari. Tepatnya 4.494 (26/9), 3.874 pada (27/9), dan 3.509 kasus pada (28/9).

Tapi, tak dipungkiri penurunan pada tiga hari terakhir itu dipengaruhi pula jumlah pengetesan spesimen harian yang kerap menurun di akhir pekan. Itu diamini pula oleh Epidemiolog dari Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane. Sehingga, kata dia, angka kasus positif terlihat menurun, padahal testing harian juga menurun.

"Coba dilihat kapasitas lab apa turun? Biasanya sabtu-Minggu-Senin ada penurunan semuanya, pemeriksaan lab, jumlah kasus," ujar Masdalina.

Selama sepekan terakhir, tes spesimen harian berada di angka 20.000 dalam sehari. Tes spesimen terendah pada 27 September sebanyak 20.800 orang/hari.

Dalam sepekan terakhir, pengetesan spesimen terbanyak sebesar 31.065 orang/hari yakni pada 22 September, dan 34.786 orang/hari pada 24 September.

Bukan Target Waktu, Tapi Target Langkah

Menurut Masdalina, pimpinan pemerintah yang menangani Covid-19 tidak hanya memberikan target waktu, tapi juga menjelaskan secara rinci langkah apa yang akan ditempuh untuk menurunkan angka kasus positif.

"Harus dievaluasi apakah targetnya tercapai? selain itu bagaimana cara menurunkannya? Jangan sampai mengambil cara mudah, misalnya kita mengurangi pemeriksaan spesimen ke komunitas. Mungkin ya kasus akan turun, tapi bukan itu cara yang terbaik," kata Masdalina.

"Yang terbaik adalah peningkatan testing dengan tepat sasaran, kemudian karantina (isolasi) sehingga mata rantai terputus. Di masyarakat bagaimana supaya terapkan 3M di agar rantai penularan terputus," imbuhnya.

Mandat waktu yang diberikan Jokowi pada 15 September lalu kepada Luhut genap pada hari ini. Mandat itu memberi waktu dua minggu Luhut tangani corona di sembilan provinsi prioritas. []