Kasus Positif Pecah Rekor, Ahli Cemas RI Episentrum Covid-19 -->
logo

24 September 2020

Kasus Positif Pecah Rekor, Ahli Cemas RI Episentrum Covid-19

Kasus Positif Pecah Rekor, Ahli Cemas RI Episentrum Covid-19


GELORA.CO - Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan Indonesia berpotensi menjadi episentrum virus corona Covid-19 dunia. Dicky merespons soal temuan kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia per Rabu (23/9) kembali memecahkan rekor.

"Potensi Indonesia menjadi episentrum tentu ada. Kita pernah jadi episentrum pandemi flu burung," ujar Dikcy kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).

Dicky menuturkan Indonesia memiliki potensi dan situasi untuk menjadi episentrum Covid-19, misalnya dari tingginya jumlah kasus dalam beberapa hari belakangan. Hari ini RI mencetak rekor tembus 4.465 kasus positif Covid-19. Sehingga, dia berkata hal itu harus dicegah.

Dicky menjelaskan episentrum pandemi bukan sekedar tingginya kasus. Namun, dia berkata sebuah negara menjadi episentrum ketika memiliki kasus aktif yang tinggi dalam periode waktu tertentu.

"Misalnya episentrum waktu awal ya Wuhan, kasusnya tidak sampai jutaan. Kemudian ganti ke Korea Selatan. Pindah lagi ke Eropa, misalnya Italia hingga Spanyol. Kemudian terjadi di Amerika Serikat dengan kasus mencapai jutaan," ujarnya.

Setelah dari AS, Dicky menilai India palling berpotensi menjadi episentrum Covid-19 yang baru. Sedangkan Indonesia, dia kembali berkata berpotensi karena kasus aktif yang meningkat.

"Kita harus berupaya mencegah ini dan belum terlambat walaupun sudah terlihat korbannya kesakitan dan meninggal meningkat," ujar Dicky.

Di sisi lain, Dicky menyampaikan meningkatnya kasus akibat belum adanya kesadaran setiap daerah untuk melakukan pengetesan. Dari data, dia meluhat pengetesan belum meningkat secara signifikan sejak awal pandemi.

"Ini berbahaya karena virus ini memiliki pola eksponensial, artinya penularannya terus terjadi. Dan saya melihat penggandaanya semakin cepat," ujarnya.

Lebih dari itu, Dicky meminta seluruh pejabat publik tidak membiarkan aspek setartis, yakni pengetesan. Dia pun mengingatkan banyak alternatif pengetesan yang bisa digunakan jika menilai PCR terbatas, misalnya menggunakan rapid test antigen. 

Hari ini, penambahan kasus baru mencapai 4.465 kasus. Angka tersebut mengalahkan rekor sebelumnya yakni 4.275 kasus pada 21 September lalu.

Selama sepekan terakhir, tambahan kasus positif berada di angka 3.800-4.000 kasus dalam sehari. Tambahan 4.000 kasus pertama kali terjadi pada 19 September, tepatnya 4.168 kasus. 

Penambahan kasus turun tipis di angka 3.989 kasus pada hari berikutnya, namun kembali naik pada 21 September sebanyak 4.176 kasus, dan turun menjadi 4.071 kasus pada 22 September.

Akumulasi kasus positif Covid-19 pada hari ini sebesar 257.388 kasus, dari angka tersebut angka sembuh sebanyak 187.958, dan kasus kematian 9.977 kasus.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat, ada lima provinsi dengan sebaran kasus terbanyak yakni DKI Jakarta (1.133 kasus), Jawa Barat (516 kasus), Jawa Timur (338 kasus), Jawa Tengah (257 kasus), dan Banten (216 kasus). Kemudian, kasus positif di Provinsi Sumatera Barat sebanyak 204 kasus.

Provinsi lainnya dengan catatan tambahan kasus di atas 100 yaitu Kalimantan Timur (196 kasus), Riau (188 kasus), Bali (130 kasus), Papua (138 kasus), Sulawesi Selatan (124 kasus), Kepulauan Riau (117 kasus), Sumatera Selatan (110kasus). Sementara provinsi lainnya mencatat tambahan kasus harian kurang dari 100.

Provinsi dengan tambahan kasus paling sedikit yaitu Maluku sebanyak dua kasus, Sulawesi Utara dan Kalimantan Barat masing-masing enam kasus, dan 9 kasus baru di Jambi. (*)