Bappenas: Tes Corona RI Terendah & Tingkat Positif Tertinggi di Dunia -->
logo

3 September 2020

Bappenas: Tes Corona RI Terendah & Tingkat Positif Tertinggi di Dunia

Bappenas: Tes Corona RI Terendah & Tingkat Positif Tertinggi di Dunia

GELORA.CO - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menyebut bahwa saat ini Indonesia masih memiliki tingkat positivitas Covid-19 yang tinggi di dunia.

Selain itu kata dia, jumlah tes yang dilakukan di Tanah Air pun masih relatif rendah.

Oleh karena itu menurut dia, kehadiran vaksin Covid-19 akan menjadi kunci pemulihan ekonomi akibat pandemi.

"Indonesia kalau berdasarkan jumlah tes corona per minggu, per seribu penduduk, dari Februari 2020 sampai dengan 31 Agustus 2020, kita termasuk yang terendah di dunia," ujar Suharso dalam rapat bersama Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat seperti melansir tempo.co, Selasa 2 September 2020 malam.

Kata dia, jika mengikuti syarat dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, negara yang telah memenuhi angka jumlah tes per pekan per seribu penduduk itu harusnya berada pada kisaran garis 1. Sementara, Indonesia masih berada di bawah 0,1.

Suharso melanjutkan, Indonesia juga menjadi negara dengan tingkat positivitas atau positivity rate yang tinggi. Indonesia menjadi negara yang diwarnai merah dengan tingkat positivitas pada kisaran 10-20 persen.

"Toh begitu, kita adalah positivity rate tertinggi, kita lihat Indonesia merah antara 10-20 persen. Ternyata saya cek hari ini kita masih 17 persen, jadi dari 100 orang yang dites, 17 orang positif," ujar Suharso.

"Menjadi benar bahwa game changer-nya adalah ditemukannya vaksin." tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pemulihan ekonomi hingga semester I 2021 belum akan berlangsung maksimum.

Pasalnya penyebaran Covid-19 diperkirakan masih membayangi dunia pada paruh pertama tahun depan.

"Pada semester I tahun depan kita tidak bisa mengasumsikan pemulihan yang full power karena pasti covid masih akan jadi salah satu faktor yang menahan pemulihan konsumsi, investasi, maupun pemulihan ekonomi global," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan ketidakpastian akibat Covid-19 masih akan terjadi lantaran vaksinasi dari virus tersebut diperkirakan baru akan meluas pada semester II 2021.

Sehingga perekonomian tahun depan akan sangat bergantug kepada pemulihan ekonomi pada paruh kedua. "Ini memberi pengaruh seberapa tinggi pemulihan 2021," ujarnya.

Pemerintah mengasumsikan pertumbuhan ekonomi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2021 pada kisaran 4,5-5,5 persen.

Angka tersebut telah mempertimbangkan pemulihan ekonomi pada tahun ini yang sudah terjadi namun belum maksimum lantaran pagebluk yang belum berakhir.

"Jadi karena pengaruh Covid-19 belum sepenuhnya akan hilang di semester I tahun depan, kami preidiksi pemulihan tidak akan strong full power. Semester 2 kami bisa mengharapkan kalau vaksinasi sudah bisa dilakukan dan bisa memberi confident," tutur Sri Mulyani.[ljc]