AS Terancam, Rusia dan China Gelar Latihan Perang Besar-besaran

AS Terancam, Rusia dan China Gelar Latihan Perang Besar-besaran

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Puluhan ribu pasukan Angkatan Bersenjata Federasi Rusia dan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), menggelar latihan tempur dengan tajuk "Operasi Kaukasus 2020". Tak hanya kedua negara raksasa, latihan ini juga diikuti oleh pasukan militer Belarus, Iran, Myanmar, dan Pakistan, Selasa 21 September 2020.

Dalam laporan yang dikutip dari Radio France Internationale (RFI), sejumlah kendaraan tempur enam negara dikerahkan dalam latihan ini. Kendaran tempur dan senjata ringan yang digunakan, diangkut  oleh pesawat angkut, Xi'an Y-20.

Ratusan tank, kendaraan lapis baja pengangkut personel, jet tempur, dan armada kapal perang, ikut ambil bagian dalam latihan tempur besar-besaran, yang bertempat di Distrik Militer Selatan Rusia, Laut Hitam, dan Laut Kaspia. Rencananya, latihan ini akan dilaksanakan hingga 26 September 2020.

Menurut keterangan Kementerian Pertahanan Rusia, yang menjadi fokus dalam latihan ini adalah taktik pertahanan, pengepungan, dan kontrol serta komando medan perang. 

Sekitar 80 ribu tentara dari enam negara terlibat dalam manuver tersebut. Akan tetapi, pihak Rusia menyatakan bahwa jumlah pasukan di garis depan tidak melebihi 13 ribu personel. Sehingga, tidak diwajibkan untuk mengundang Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE), sebagaimana diatur dalam Dokumen Landasan Wina 2011.

Sejumlah kapal perang Angkatan Bersenjata Iran (Artesh) akan melaksanakan latihan tempur di Laut Hitam dan Laut Kaspia. Sementara itu, sekitar 1.000 pasukan gabungan militer China, Armenia, Belarus, Myanmar, dan Pakistan, dikerahkan dalam aksi ini.

"Latihan ini memiliki arti penting pada momen seperti ini, saat seluruh dunia sedang memerangi pandemi," bunyi pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

Sejak membangun kemitraan strategis kompeherensif selama dua dekade, Rusia dan China telah bekerja sama secara erat di segala sektor, termasuk diplomasi dan militer. Langkah ini diambil dengan satu alasan untuk menandingi dan melawan pengaruh Amerika Serikat (AS). []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita