Syeikh Raed Salah Peringatkan Rencana Israel Kuasai Masjid Al-Aqsha

Syeikh Raed Salah Peringatkan Rencana Israel Kuasai Masjid Al-Aqsha

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -  Ikon perlawanan Palestina, Syeikh Raed Salah, pada Ahad (9/8), memperingatkan terhadap bahaya yang mengelilingi Masjid Al-Aqsha di Yerusalem yang diduduki oleh otoritas Israel.  Raed Salah, Kepala Gerakan Islam di Israel, menjadi tuan rumah dalam seminar online yang diadakan Komisi Yerusalem dari Platform Masyarakat Sipil Ankara (ACSP) di Turki, tidak lama sebelum dia memulai hukuman penjara 28 bulan pada 16 Agustus pekan depan.

Salah menjelaskan bahwa rencana Israel dimulai dengan pendudukan kota suci pada Juni 1967, ketika serangan pertama Israel di Al-Aqsha diluncurkan beberapa hari setelah merebut kota, dengan penghancuran kawasan Mughrabi (Maroko) yang berdekatan dengan kompleks Al-Aqsha. Dua tahun kemudian pada puncaknya, ketika mereka melakukan pembakaran masjid pada 1969.

Dia mengatakan serangan Israel sejak itu terus berlanjut secara teratur dan hari-hari ini ditandai oleh pemukim Israel yang membobol Al-Aqsha untuk melakukan ritual Talmud di dalam masjid tersuci ketiga Islam. Syeikh Salah mengatakan semua partai politik di Israel setuju untuk mempertahankan kendali Israel atas Yerusalem, dan mencatat ada konsensus untuk mempertahankan pendudukan kota dalam upaya untuk mengisolasi Masjid Al-Aqsha dan kemudian akhirnya menghancurkannya.

Mengomentari peran rakyat Palestina, terutama di Yerusalem untuk membela Al-Aqsha, Salah mengungkapkan apresiasinya atas perjuangan Palestina yang tetap berdiri dengan teguh melawan semua upaya Israel.  Selain itu, Syeikh Salah juga memuji upaya Turki dan Malaysia di tingkat internasional dan akar rumput untuk mempertahankan dan mendukung Al-Aqsha.

Salah juga menekankan pentingnya menyebarkan pengetahuan di antara umat Islam di seluruh dunia untuk membuat mereka tetap menyadari tentang apa yang terjadi di Yerusalem dan Masjid Al-Aqsha yang diduduki.

Terlepas dari serangan Israel yang tak ada habisnya terhadap dirinya, Syeikh Salah mengatakan dalam berbagai kesempatan bahwa dia tetap bertekad untuk terus mempertahankan Al-Aqsha.

“Apapun biayanya, kami tidak akan kebobolan membela Masjid Al-Aqsha,” ujarnya, yang dilansir Anadolu Agency.

Israel menduduki Yerusalem Timur, di mana Masjid Al-Aqsha berada, selama Perang Arab-Israel pada 1967. Sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional, Israel mencaplok seluruh kota pada 1980, serta mengklaimnya sebagai ibu kota abadi dan tidak terbagi negara Yahudi.

Pada 24 November 2019, pengadilan mendakwa Salah atas beberapa dakwaan, termasuk “hasutan untuk terorisme” dan “mendukung kelompok terlarang,” merujuk pada Gerakan Islam di Israel, yang dilarang oleh pemerintah Israel pada 2015.  Meskipun hukumannya awalnya akan dimulai pada Maret, hukuman itu ditunda di tengah pengajuan banding dari pembelaannya.

Salah berada di bawah tahanan rumah dengan pembatasan yang diperketat. Dia dilarang berkomunikasi dengan publik kecuali dengan kerabat dekatnya. [ins]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita