Menteri-Menteri Jokowi Tukar Cawan Emas Jadi Batok Kelapa -->
logo

22 Agustus 2020

Menteri-Menteri Jokowi Tukar Cawan Emas Jadi Batok Kelapa

Menteri-Menteri Jokowi Tukar Cawan Emas Jadi Batok Kelapa

Oleh: Arief Gunawan
PARA pembesar kolonial dulu menyebut Indonesia sebagai Netherlands Overseas atau Netherlands In The Tropics, karena mereka menguasai kekayaan alam Nusantara.
Kekayaan dapat dikuasai karena para penguasa pribuminya sycophant (penjilat).

Menjadi suksesor bagi Tanam Paksa, Preangerstelsel, Kerja Rodi, dan berbagai praktek ekonomi yang menindas.

Para sycophant ini mengandalkan kekuasaan pada asing yang mendikte. Umumnya karena secara finansial kerajaan-kerajaan di Nusantara memang miskin. Walaupun kekayaan alamnya berlimpah.

Sifat lainnya ialah gampang dipecah belah (devide et impera), seperti hari ini.

Seringkali perebutan tahta atau konflik suksesi di kerajaan didalangi oleh asing dengan bantuan finansial.

Pihak yang menang akan memberikan konsesi untuk melunasi “utang budi”.

Sikap ketergantungan dan tidak percaya diri ini diteruskan sampai hari ini oleh menteri-menteri perekonomian, seperti Sri Mulyani, yang “terobosannya” ternyata menimbun utang hingga sekitar enam ribu triliun lebih.

Itulah sebabnya Sukarno dulu  menyuarakan Berdikari dan Tri Sakti yang menganjurkan self confidence, kemandirian, tekun kepada ikhtiar sendiri, karena kita negeri yang kaya.

Tokoh nasional Rizal Ramli mengibaratkan Indonesia bagaikan cawan emas, karena kekayaan alamnya kalau didedikasikan untuk rakyat mampu menjadikan bangsa ini Berdikari.

Namun cawan emas yang merupakan simbol kekayaan negeri,  kini ditukar dengan batok kelapa, untuk mengemis-ngemis utang kepada asing.

Suatu siklus sejarah yang terulang lagi hari ini, sehingga Rizal Ramli pernah menyatakan perlunya meninjau ulang sejarah Indonesia (Revisiting Indonesian History), sebab-sebab apa yang mengakibatkan bangsa ini dijajah ratusan tahun, dan berlanjut sampai sekarang dalam bentuk kolonialisme baru.

Di Zaman Malaise yang oleh lidah melayu disebut Zaman Meleset batok kelapa memang populer sebagai atribut peminta-minta.

Karena kemiskinan merajalela dan orang lebih suka hidup di bui karena masih dapat makan dua kali sehari.

Mula-mula batok kelapa dipakai untuk meminta beras, karena beras tak ada maka diharap uang sebenggol.

Tragis ironis, negeri Rayuan Pulau Kelapa dan Nyiur Melambai yang bagaikan cawan emas ini kini menyisakan batok kelapa belaka.

Cawan emasnya digondol maling karena tuan rumah membiarkan maling masuk ke dalam rumah untuk menggasak sepuasnya.

(Penulis adalah wartawan senior)