Amerika Bekukan Aset Grup Paramiliter China Karena Terlibat Penindasan Muslim Uighur di Xinjiang
logo

1 Agustus 2020

Amerika Bekukan Aset Grup Paramiliter China Karena Terlibat Penindasan Muslim Uighur di Xinjiang

Amerika Bekukan Aset Grup Paramiliter China Karena Terlibat Penindasan Muslim Uighur di Xinjiang

GELORA.CO - Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap kelompok paramiliter China yang diduga memiliki peran besar dalam tindakan pelanggaran HAM serius dan diluar batas perikemanusiaan terhadap Muslim Uighur dan sebagian besar kelompok Muslim lainnya di Xinjiang.

The Xinjiang Production and Construction Corps – dikenal juga dengan nama Bingtuan, menjalankan berbagai kegiatan operasional bisnis seperti kepemilikan properti, institusi pendidikan dan kepemilikan media di wilayah Xinjiang yang sebagian besar dioperasikan oleh etnis Han, China.

Institusi ini yang memiliki aset hingga di Amerika, dinyatakan dibekukan oleh pemerintah Amerika karena dinilai berperan besar membantu pemerintah komunis China (PKC) menindas muslim Uighur, kata Departemen Keuangan seperti dilansir AFP.

“Amerika Serikat berkomitmen untuk menggunakan seluruh kekuatan keuangannya untuk meminta pertanggungjawaban pelanggar HAM di Xinjiang dan di seluruh dunia,” kata Menteri Keuangan Steven Mnuchin dalam sebuah pernyataan.

Didirikan pada 1950-an di bawah perintah pendiri komunis China Mao Zedong, Korps, yang dikenal secara lokal sebagai Bingtuan, menempatkan tentara yang termobilisasi di lahan-lahan pertanian luas di wilayah Xinjiang.

Berangsur-angsur mereka datang dan menguasai Xinjiang serta menjalankan sejumlah besar lahan pertanian serta bisnis di berbagai bidang seperti real estat, asuransi, plastik dan semen.

Aktivis HAM mengatakan bahwa sekitar satu juta warga Uighur dan warga Turki Xinjiang telah dipenjara di kamp-kamp pencucian otak, sebuah penahanan massal yang menurut para pejabat AS katakan memiliki kesamaan dengan Holocaust.

Minggu ini kabar duka menyelimuti muslim Xinjiang, salah satu ulama besarnya Asy Syaikh Muhammad Amin Yunus, 56 tahun meninggal dunia dalam penjara komunis China.

“Muhammad Amin Yunus mati syahid di penjara komunis China pada usia 56 tahun, beliau adalah seorang sarjana senior Turkistan Timur yang diduduki China, beliau seorang ahli fiqh yang alim dan menguasai kutubus sittah (6 kitab induk hadits). Beliau merupakan ilmuwan terakhir dari serangkaian cendekiawan, konservasi dan para imam yang dibunuh oleh China dengan tujuan untuk menghapuskan Islam dari ingatan muslimin. Dan kepada Allah ia kembali.” tulis @turkistantuzbah di twitternya.

Asy Syaikh Muhammad Amin Yunus merupakan anggota terakhir yang menjadi ulama dari keluarganya yang dikenal ‘alim dan para penghafal Alquran yang sebelumnya pun sudah banyak yang meninggal dalam rezim pemerintahan komunis China, lanjutnya.

China berdalih dan menggambarkan kamp-kamp itu sebagai pusat pelatihan kejuruan dan mengatakan pihaknya berupaya menyediakan pendidikan untuk mengurangi daya pikat radikalisme Islam.

Amerika Serikat pada awal Juli membekukan visa dan aset dari tiga pejabat China di Xinjiang termasuk Chen Quanguo, ketua partai Komunis di wilayah tersebut.

Departemen Keuangan mengatakan pihaknya mengambil tindakan terhadap Bingtuan sebagian karena memiliki keterkaitan dengan Chen, salah seorang arsitek kebijakan tinju besi Beijing terhadap minoritas Uighur dan sebelumnya bertugas di Tibet. (*)