Ahok Ungkap Cerita Hadapi Aksi 411: Hendak Diungsikan ke Pulau-Siap Mati

Ahok Ungkap Cerita Hadapi Aksi 411: Hendak Diungsikan ke Pulau-Siap Mati

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok kembali menceritakan saat ia dan keluarga menghadapi aksi 411 pada 4 November 2016 lalu. Saat itu, Ahok yang masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta didemo lantaran ucapannya terkait frasa 'dibohongi Surat Al Maidah' jelang Pilgub DKI 2017.

Cerita Ahok ini ia sampaikan saat berbincang dengan Host Makna Talks, Iyas Lawrence. Kutipan perbincangan mengenai demo yang dikenal dengan sebutan 411 itu diposting di akun YouTube Ahok, 'Panggil Saya BTP'.

"Ngomongnya nanti salah lagi saya. Jujur aja gitu ya, waktu terjadi demo segala macam, saya di rumah betul-betul saya bisa tidur. Memang ada aparat (yang menyatakan) saya harus diungsikan waktu itu. Ada ibu saya, semua," ujar Ahok dalam akun YouTube-nya seperti dilihat detikcom, Sabtu (8/8/2020).


Ahok dan keluarga akhirnya memutuskan untuk tetap berada di rumahnya. Saat itu Ahok tinggal di rumahnya di Pantai Mutiara Pluit, Jakarta Utara.

"Lalu kami putuskan, kalau diungsikan ke pulau, ke mana-mana, justru, ini minta maaf saja ya kalau sampai ada orang rencana mau bunuh saya pun, justru dibawa ke pulau ke tempat itu, nggak ada orang yang tahu, lebih gampang bunuh saya. Udah gitu berita bisa nggak ada kan," cerita Ahok.

Sosok yang kini menjabat Komisaris Utama (Komut) Pertamina itu mendengarkan permintaan ibunya, Buniarti Ningsih, yang meminta agar Ahok sekeluarga tetap tinggal di rumah. Ahok meminta aparat kepolisian untuk menjaganya dan keluarga tanpa harus membawa mereka pergi dari rumah.

"Saya bilang sama mereka, saya nggak mau pergi. Dia bilang nanti bisa serbu masuk ke dalam rumah. Ya itu kan tugas kalian menjaga di depan. Kalau kalian takut ya tinggalin aja. Saya lebih baik mati di rumah satu keluarga, itu beritanya masih ada orang tau. Terbunuh di rumah. Rumah saya dibakar, dikeroyok, masih ada orang tahu," sebutnya.

"Kalau saya diungsikan dengan helikopter ke pulau, ke mana, lalu kalian kalau ada oknum yang bunuh saya, ini kan perang ideologi kan, ini kan soal keyakinan. Kalau sudah keyakinan kan susah mau megang siapa, gitu. Ibu saya bilang 'apapun terjadi, kita dalam rumah, jangan keluar. Mau mati terbunuh pun, dalam rumah aja matinya'. Supaya dunia akan mencatat kan. Kalau kamu hilang nggak ada yang tahu lho. Bisa fitnah macam-macam. Bisa bilang kamu kabur, bisa bilang kamu tenggelam, macam-macam versinya," tambah Ahok.

Menurut Ahok, hal tersebut merupakan strategi dirinya menghadapi aksi sejumlah ormas Islam saat itu. Dalam kasus ini, Ahok akhirnya dinyatakan bersalah melakukan penistaan agama dan dihukum 2 tahun penjara dan menjalani masa tahanannya di Mako Brimob.

Ahok pun ditanya apakah ia merasa menyesal atas peristiwa yang menimpa dirinya. Ia menegaskan, tak ada penyesalan meski peristiwa tersebut membuatnya kalah di gelaran Pilkada hingga dipenjara sekaligus.

"Saya ngomong, aku nggak pernah nyesel. Karena aku tahu aku berdiri untuk kebenaran dan keadilan dan perikemanusiaan. Saya berdiri untuk itu. Kecuali saya salah. Kita salah saja nggak boleh menyesali yang sudah lewat. Apalagi kita yakin kita nggak salah. Apalagi keputusan yang saya ambil berdasarkan keyakinan saya," ujar Ahok.

Bapak empat anak ini juga menyatakan sudah bisa berdamai dengan diri sendiri ketika masih berada di tahanan. Buat Ahok, cara memaafkan jadi obat lara jauh dari rumah.

"Kalau kita kesel sama orang, marah, nggak mau memaafkan, sesek ini rasanya. Sama ini panas, panas banget. Makanya saya bilang, kamu kalau nggak memaafkan orang, kamu masih tetap marah, itu kamu yang sakit sendiri," ucapnya.

Ahok merasa, masuk penjara merupakan cara Tuhan memberinya sebuah anugerah. Ia merasa penuh syukur karena di dalam penjara, dirinya bisa lebih memperbaiki pola hidup.

"Jadi saya di dalam tahanan itu saya pikir, waduh ini bersyukur banget ya. Gue bisa setiap hari Senin sampai Jumat dijemur bos, berjemur lah kira-kira. Setiap hari bisa olahraga. Setiap hari tidur 8 jam. Jam 10 malam wajib tidur kan. Makan tepat waktu, sebelum jam 6 sudah selesai makan. Jadi jam 10 tidur, 4 jam kosong perut kita. Wah ada one pack, lurus perut lah kira-kira," tutur Ahok.

Sekali lagi, politikus PDIP ini menyatakan tidak merasa takut saat didemo hingga berjilid-jilid. Ahok menyebut, dirinya merasa tenang ketika didemo kala itu.

"Makanya saya bilang, kalau saya bilang nggak takut, kamu bilang saya sombong lagi. Tapi saya cuma bilang saya bisa tidur dengan nyenyak," akunya.

Ahok bebas murni dari penjara pada 24 Januari 2019, setelah menjalani hukuman 1 tahun 8 bulan 15 hari karena mendapat remisi. Kasus penistaan agama yang menimbulkan pro kontra berawal saat Ahok berpidato di Pulau Pramuka pada 26 September 2016.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita