Sejarawan: Barat Harus Adil Soal Hagia Sophia, Banyak Masjid juga Diubah jadi Katedral di Spanyol
logo

13 Juli 2020

Sejarawan: Barat Harus Adil Soal Hagia Sophia, Banyak Masjid juga Diubah jadi Katedral di Spanyol

Sejarawan: Barat Harus Adil Soal Hagia Sophia, Banyak Masjid juga Diubah jadi Katedral di Spanyol

GELORA.CO - Pakar sejarah Universitas Padjajaran (Unpad) Dr Tiar Anwar Bachtiar menjelaskan, perubahan Ayasofya (Haqia Sophia) menjadi museum saat tahun 1934 lebih karena keinginan Inggris, bahkan kalangan Kristen Eropa menginginkan agar diubah kembali menjadi Gereja Katedral. Namun, penguasa Turki saat itu, Mustafa Kemal Attatruk juga mendapat tekanan luar biasa dari masyarakat Turki.

“Makanya, dia hanya berani mengubah menjadi museum dan ini suatu kekeliruan, karena ini wakaf masjid, bukan wakaf museum. Kita bisa maklum kenapa orang Eropa tidak suka (dengan keputusan Pengadilan Turki), karena ini simbol kekalahan orang-orang Eropa,” ujar Tiar kepada Indonesiainside.id, Sehun (13/7).

Tiar mengatakan, ketika Aya Sophia diubah menjadi masjid, orang Eropa sudah merasa kalah pada titik nadir paling rendah, sehingga mereka berusaha mempertahankan ‘muka mereka’ jangan sampai Katedral diubah menjadi masjid. Namun hal itu diabaikan oleh Al-Fatih untuk  menunjukan kejayaan dan kemenangan Utsmaniyyah.

“Saya kira ini secara hukum sudah benar, sebetulnya mereka nggak usah protes karena kelakuan mereka lebih parah. Ribuan masyarakat di Spanyol, yang saat itu umat Islam di Cordoba, masjid-masjid diubah menjadi Katedral dalam jumlah ribuan dan (dalam waktu) sangat singkat,” katanya.

Apabila mereka ingin konsisten agar Aya Sophia tidak diubah menjadi masjid, maka ribuan masjid yang diubah menjadi Katedral di Spanyol diubah fungsikan saja menjadi masjid. Seperti sebuah masjid besar di Toledo yang dibangun oleh Dinasti Bani Umayyah, pada abad ke-12 jauh sebelum Al-Fatih.

“Pada saat itu, Masjid Agung Toledo kemudian diubah menjadi Katedral, padahal ketika penguasa Toledo menyerahkan kawasan Toledo kepada orang-orang Kristen, kesepakatannya masjid itu tidak boleh diubah, namun kesepakatan itu dilanggar dan sampai sekarang masih menjadi Gereja Katedral. Kalau mau klaim-klaiman, ayo buka data, justru umat Islam sangat senang,” jelasnya.

Artinya, ketika masyarakat Eropa protes Hagia Sophia menjadi masjid, mereka juga harus melakukan hal yang sama. “Boleh, Ayasofya diubah menjadi Katedral, tapi fungsikan lagi ribuan Katedral menjadi masjid di Spanyol, agar umat Islam bisa berkunjung kesana dan melihat bahwa Islam pernah berjaya,” ujarnya.

“Tapi kan sekarang sudah tidak ada satupun sisa masjid di Spanyol. Jadi ini standar ganda mereka saja dan tidak adil serta mau menang sendiri, di Turki daerah Anatolia itu (gereja yang diubah masjid) hanya enam saja, tujuh dengan Aya Sophia, tapi masih ratusan Gereja disana, kalau di Cordoba itu tidak ada (masjid) satupun,” lanjutnya.

Ia menambahkan, secara hukum perang, perubahan Aya Sophia menjadi masjid adalah hal yang sah dan tidak masalah. “Karena Aya Sophia sudah menjadi hak Utsmaniyyah (Ottoman), jadi mau diapakan juga mereka tidak punya hak,” jelasnya. (*)