Kasus Corona Jatim Terus Meroket, Target dari Jokowi Meleset

Kasus Corona Jatim Terus Meroket, Target dari Jokowi Meleset

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Target tenggat waktu selama dua pekan yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) untuk menekan angka kasus corona (Covid-19), sudah hampir berakhir. 

Arahan itu disampaikan Jokowi saat menggelar rapat di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (25/6). Dua pekan, target Jokowi itu akan berakhir pada Rabu (8/7) besok. 

Namun, dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Universitas Airlangga (Unair), Senin (6/7), Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi mengatakan, terget yang diberikan presiden itu sulit dipenuhi lantaran penularan Covid-19 di Jatim masih terus meningkat. 

"Presiden pernah berkunjung ke Jatim. Memberikan arahan, kita diminta dalam dua minggu bisa mengendalikan penambahan kasus. Tapi rasanya ini masih terus naik kasusnya," kata Joni, dalam sebuah webinar, Selasa (7/7).

Joni mengatakan kondisi di Jatim masih belum membaik melihat penambahan kasus covid-19 yang tetap tinggi setiap harinya. Belakangan ini, rata-rata tambahan kasus mencapai 300-400 kasus.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 Jatim, setelah kunjungan Presiden Jokowi pada 25 Juni, kasus positif corona Jatim pada 26 Juni bertambah 363 kasus menjadi total 10.886 kasus. Kemudian pada 27 Juni bertambah 299 kasus menjadi total 11.170 kasus.

Pada 28 Juni mengalami pertambahan sebanyak 241 kasus menjadi 11.482 kasus. Tanggal 29 Juni bertambah 240 kasus menjadi 11.795 kasus, dan hari berikutnya 30 Juni pertambahan meningkat 389 kasus jadi total 12.118 kasus. 

Selanjutnya, pada 4 Juli bertambah 441 kasus menjadi total 13.447. Pada 5 Juli mengalami pertambahan 419 kasus menjadi total 13.997 kasus dan 6 Juli bertambah lagi 270 kasus menjadi total 14.298 kasus. 

"Data-data menunjukkan di Jatim itu memang angkanya lebih tinggi dari nasional. Kita lihat attack rate-nya lebih tinggi," katanya. 

Dalam data yang ditunjukkan Joni, attack rate di Jatim saat ini tercatat mencapai 28,6 per 100 ribu penduduk, sedangkan nasional mencapai 23,2 per 100 penduduk. 

Meski demikian, kata Joni, kesembuhan di Jatim juga makin naik, hal itu membuat tingkat recovery rate di Jatim meningkat. Namun seiring itu, angka kematian juga terus bertambah.

Menurut catatannya, perbaikan rasio kesembuhan di Jatim dari 32,56 persen pada 25 Juni lalu, kini meningkat menjadi 36,31 persen. Sedangkan angka kematian dari 7,6 persen meningkat jadi 7,7 persen. 

"Tapi angka kesembuhannya naik juga walau kematiannya juga naik. Tapi recovery ratenya naik lebih banyak meski masih di bawah nasional," kata Joni.

Lebih lanjut, Joni mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus corona di Jatim, terjadi di wilayah Surabaya Raya. Yakni Kota Surabaya, Kabupaten Gresik dan Sidoarjo.

Dari total keseluruhan kasus di Jatim, 82,1 persen di antaranya terjadi di Surabaya Raya. Tak hanya itu, attack rate di Surabaya Raya sendiri saat ini tercatat mencapai 119,8 per 100 ribu penduduk. 

"Kalau kita lihat lebih detail sebetulnya masalahnya ada di Surabaya Raya. 82,1 persen dari seluruh masalah di Jatim ada di Surabaya Raya," katanya. 

Di Surabaya, Joni mencatat masih ada peningkatan kasus. Kendati demikian Surabaya juga mengalami pertambahan angka kesembuhan yang signifikan.

Ia mencatat, dalam dua pekan angka kesembuhan di Kota Pahlawan naik dari 34,1 persen menjadi 45,6 persen. Namun hal itu juga diikuti dengan naiknya tingkat kematian dari 7,61 menjadi 7,87 persen.

"Kesembuhannya cukup tinggi bahkan dari hari ke hari cukup naik, tapi diiringi case-nya juga naik. Kematiannya juga naik. Tapi naiknya lebih tinggi kesembuhannya," sebutnya.

Sedangkan kondisi sebaliknya terjadi di Sidoarjo. Di kabupaten ini angka kasus terus meningkat namun di saat yang sama angka kesembuhan justru menurun. Di Sidoarjo, tingkat kesembuhan turun dari 15,89 jadi 13,95 persen. Sementara tingkat kematian juga turun dari 8,1 menjadi 6,31 persen.

"Sidoarjo perlu mendapat perhatian yang lebih karena kesembuhannya cenderung menurun. Cuma 13,59 persen. Kematiannya juga turun tapi penurunan case recovery ratenya lebih besar," ujarnya.

Kondisi paling parah, kata Joni, terjadi di Kabupaten Gresik. Tingkat kesembuhan di Gresik menurun signifikan dari 13,7 menjadi 10,95 persen. Ditambah lagi, tingkat kematian Gresik adalah yang tertinggi dibanding Surabaya dan Sidoarjo yaitu 10,25 persen.

"Gresik harus betul-betul dapat perhatian. Case recovery ratenya cenderung turun. Kematiannya juga turun tapi tidak signifikan. Ini sesuatu yang menjadi permasalahan," katanya.

Banyaknya pabrik dan komunitas masyarakat membuat kasus Covid-19 di Gresik terus bertambah. Selain itu di kabupaten tersebut juga hanya ada satu rumah sakit rujukan yaitu RSUD Ibnu Sina, sehingga penanganan pasien belum bisa optimal.

"Kini tengah dikembangkan RS Ibnu Sina. Nanti juga RS Petro dan RS Semen mungkin bisa membantu jadi rujukan. Dari 3 daerah ini fokusnya di Gresik untuk dibenahi sisi pelayanannya," kata Joni. (*)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita