AS-China Makin Panas, Internasionalisasi Yuan Bidik ASEAN -->
logo

13 Juli 2020

AS-China Makin Panas, Internasionalisasi Yuan Bidik ASEAN

AS-China Makin Panas, Internasionalisasi Yuan Bidik ASEAN

GELORA.CO - Di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan Amerika Serikat (AS), Beijing memperbarui dorongannya untuk meluaskan penggunaan yuan di Asia Tenggara di bawah program infrastruktur Belt and Road Initiative.

China meningkatkan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS untuk perdagangan bilateral dengan negara-negara di seluruh kawasan, dari Kamboja hingga Vietnam. Gesekan dengan Washington menyebabkan ketidakpastian dalam perdagangan dan pasar keuangan untuk ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Bank Of China Hong Kong di Kamboja, misalnya, mengatakan distributor komputer Yako Technology minggu ini mulai melakukan transaksi valuta asing langsung pertama antara riel dan yuan di Phnom Penh. Uang itu ditransfer ke akun eksportir Yako di China dengan penyelesaian dilakukan melalui Bank of China Hong Kong di Guangxi, wilayah otonom di China selatan. Di masa lalu, pelanggan Kamboja harus menukar riel menjadi dolar AS sebelum berubah menjadi yuan.

Baca Juga : Tegang dengan AS, China Dorong Globalisasi Mata Uang Yuan
Guangxi yang berbatasan dengan Vietnam, adalah pintu China untuk kerjasama dengan negara-negara Asean, yang merupakan bagian penting dari Belt and Road Initiative. Total penyelesaian yuan lintas batas di kawasan itu melebihi 1 triliun yuan (US$ 142 miliar) pada Agustus 2019.

Selain itu, aplikasi pembayaran terbesar di China yakni WeChat Pay dan Alipay telah membuat terobosan di Kamboja, sehingga memudahkan wisatawan China untuk menghabiskan uang di negara itu.

Namun, pakar pengiriman uang global George Harrap, yang telah bekerja dengan perusahaan-perusahaan di Kamboja, percaya masih ada tantangan bagi yuan di Asia Tenggara. Di Kamboja, misalnya, yang sangat bergantung pada bantuan dan investasi China, dolar AS tetap menjadi alat pembayaran yang sah untuk melakukan bisnis lokal dan transaksi sehari-hari. Riel telah dipatok terhadap dolar AS sejak 1990-an.

"Aplikasi pembayaran China harus dapat mendukung mata uang lokal. Itu berarti mereka harus pergi ke masing-masing negara untuk mencapai kesepakatan dengan bank sentral dan bank komersial untuk memegang mata uang lokal," kata Harrap, dilansir South China Morning Post, Senin (13/7/2020).

Meningkatkan penggunaan yuan dalam transaksi lintas batas di negara-negara Road and Belt dapat dipandang sebagai bagian dari tujuan jangka panjang Beijing untuk melakukan internasionalisasi mata uang.

China juga telah mendorong penggunaan mata uang itu dalam penyelesaian perdagangan, mendirikan pasar di Shanghai untuk memperdagangkan kontrak berjangka minyak mentah berdenominasi yuan, mengembangkan sistem pembayaran lintas batas, menandatangani lusinan kesepakatan pertukaran mata uang yuan bilateral dan bahkan menciptakan sendiri bank multilateral.

"Memperkuat modal dan keuangan adalah jaminan penting untuk Belt and Road. Inilah sebabnya mengapa kita perlu lebih jauh mempromosikan penggunaan yuan secara internasional dan secara dekat menghubungkan pembangunan proyek Belt and Road dengan penggunaan yuan," kata Xiao Gang, mantan kepala regulator sekuritas China di sebuah forum di Beijing bulan lalu.

Nathan Chow, seorang ekonom dan ahli strategi di DBS Bank mengatakan fokus perdagangan China berputar ke Asean, yang menyumbang persentase lebih besar dari total volume perdagangan China daripada AS atau Uni Eropa. Produk teknologi seperti mesin dan peralatan optik telah menjadi kontributor utama lonjakan perdagangan bilateral.

Chow menerangkan, perdagangan China-Asean naik 1 persen year-on-year menjadi US$ 1,6 triliun dalam lima bulan pertama 2020 dan menyumbang 14,7 persen volume perdagangan China. AS dan UE, secara tradisional merupakan mitra dagang terbesar China, masing-masing menyumbang 11 persen dan 13,9 persen.

"Hubungan China-AS yang semakin panas berarti beberapa perusahaan hulu telah pindah ke pangkalan lain di Asia untuk menghindari tarif hukuman AS. Sementara pembatasan transportasi yang kurang ketat di kawasan Asean telah mendukung perdagangan China dengan negara-negara tetangga dalam beberapa bulan terakhir," katanya.

Pemerintah China tidak mengungkapkan pinjaman keseluruhannya di bawah proyek Belt and Road, tetapi sebagian besar pinjaman dilakukan dalam dolar AS.

Meskipun perdagangan meningkat dengan Asia Tenggara, pangsa cadangan yuan hampir tidak berubah sejak menjadi mata uang cadangan dunia pada 2016. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF) pangsanya masih tetap di bawah 2 persen.

Dolar AS tetap menjadi mata uang cadangan dominan dunia, dengan 60,8 persen dari cadangan yang dialokasikan pada kuartal terakhir 2019.

Penggunaan yuan secara internasional terbatas dibandingkan dengan dolar. Angka terbaru dari sistem Swift menunjukkan bahwa mata uang China hanya menyumbang 1,66 persen dari transaksi pembayaran internasional pada April dibandingkan dengan 43 persen untuk dolar AS.

"Saya tidak berpikir [Belt and Road Initiative] belum dapat berfungsi sebagai kendaraan efektif untuk internasionalisasi yuan," kata Sagatom Saha, seorang analis kebijakan energi independen yang berbasis di Washington.

Menurutnya, Belt dan Road Initiative dapat memfasilitasi internasionalisasi yuan begitu mata uang telah mencapai tingkat penerimaan global yang lebih tinggi. Namun, proyek itu dinilai tidak akan mampu mendongkrak yuan ke titik itu dengan sendirinya. (*)