Sambil Gebrak Meja, Anggota DPR Cecar Bos Inalum soal Utang Beli Saham Freeport Rp35 T
logo

30 Juni 2020

Sambil Gebrak Meja, Anggota DPR Cecar Bos Inalum soal Utang Beli Saham Freeport Rp35 T

Sambil Gebrak Meja, Anggota DPR Cecar Bos Inalum soal Utang Beli Saham Freeport Rp35 T

GELORA.CO - Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Demokrat Muhammad Nasir mencecar Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Orias Petrus Moedak. Nasir yang tidak mengerti dengan penjelasan Orias tentang utang perusahaan lalu merasa geram. 

Ada dua utang besar yang diterbitkan Inalum dari global bond. Pertama, USD 4 miliar yang diterbitkan tahun lalu untuk pembelian 51 persen saham PT Freeport Indonesia.  

Perusahaan kembali menerbitkan global bond senilai USD 2,5 miliar atau setara dengan Rp 35 triliun (kurs dolar Rp 14.000) belum lama ini untuk refinancing dua utang perusahaan yang jatuh tempo pada 2021 senilai USD 1 miliar dan 2023 sebesar USD 500 juta. 

Nasir mengaku penjelasan tersebut tak ada dalam materi yang dibagikan Inalum ke seluruh anggota pada rapat hari ini, Selasa (30/6). Dia minta Orias menyampaikan detail dana utang perusahaan. 

"Yang saya khawatirkan 3 perusahaan ini (PT Bukit Asam, PT Antam, dan PT Timah) apakah untuk nopang utang ini? Karena sudah holding. Makanya saya minta data detailnya mana?" kata Nasir kepada Orias, Selasa (30/6). 

Orias lalu menjawab bahwa nanti akan disampaikan datanya. Meski begitu, sebenarnya Orias sudah menjelaskan kondisi utang perusahaan di awal paparan tadi, sebelum Nasir mencecar. 

Nasir yang tidak terima penjelasan Orias pun meminta dia keluar ruangan. Sambil menggebrak meja rapat, Nasir menyebut Orias main-main dalam rapat hari ini. 

"Bapak bagus keluar, enggak ada gunanya di sini. Anda bukan buat main-main di DPR. Anda bukan buat main-main di sini. Anda itu enggak lengkap bahannya. Enak betul Anda di sini. Siapa yang naruh Anda di sini?" lanjut Nasir marah-marah. 

Nasir mengklaim khawatir dengan 3 BUMN di dalam holding tambang harus menanggung beban utang besar perusahaan dan berujung bangkrut. Sebab, menurut penuturan Orias, tenor utang PTFI bervariasi mulai dari 3 tahun hingga 30 tahun ke depan. 

Nasir pun meminta kepada pimpinan rapat Alex Noerdin untuk tidak mengundang lagi Orias dalam rapat DPR. Dia juga bakal menyurati Menteri BUMN Erick Thohir agar Orias dicopot dari jabatannya. 

Benarkah Penjelasan Bos Inalum Tidak Lengkap? 

Sikap marah-marah Nasir di atas merupakan yang kedua kalinya dalam rapat hari ini. Sebelumnya pada awal rapat dibuka, Nasir mengajak debat Orias karena mempertanyakan kejelasan utang Inalum. 

Dalam sesi awal rapat, sebenarnya Orias hendak menjelaskan materi paparan sesuai dengan agenda yang ditulis dalam undangan Komisi VII DPR yaitu kinerja BUMN tambang dan kontribusinya selama masa pandemi. Lalu, proyeksi pendapatan pemerintah sebelum dan sesudah akuisisi 51 persen saham Freeport. 

Tapi, beberapa anggota dewan seperti Ramson Siagiaan dari Fraksi Gerindra, Muhammad Nasir dari Demokrat, dan Eddy Soeparno dari Partai Amanat Nasional (PAN) melakukan tanya jawab secara interaktif kepada Orias tentang utang yang diterbitkan Inalum. Tapi, hanya Nasir yang mengajak debat. 

Berdasarkan pertanyaan Ramson yang menanyakan posisi utang perusahaan, Orias menjelaskan bahwa untuk utang baru yang diterbitkan Inalum USD 2,5 miliar belum lama ini digunakan untuk refinancing utang perusahaan yang jatuh tempo pada 2021 dan 2023 sebesar USD 1 miliar. 

Utang baru tersebut digunakan untuk membayar utang-utang lama yang berbunga tinggi. Utang baru ini menurut penjelasan Inalum bunganya lebih rendah, sehingga meringankan beban perusahaan. Sebagian dana utang juga dipakai untuk membeli 20 persen saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO). 

"Ada lebih USD 1,5 miliar untuk refinancing anak usaha yang bunganya tinggi. Kalau yang bond, mungkin karena prosesnya rumit, kita akan lewat pasar. Ini mekanismenya sedang kita pikirkan. Selain itu, dananya sebagian juga akan kita gunakan untuk pembelian saham Vale," ujar Orias. 

Dia menegaskan bahwa utang USD 2,5 miliar ini masuk ke perusahaan, jadi tidak akan memberatkan keuangan anak usaha. Selain itu, juga tidak akan ada collateral atau agunan yang digadaikan Inalum karena pinjaman ini dicari lewat pasar modal, sama seperti saat perusahaan mencari pendanaan USD 4 miliar untuk membeli saham di Freeport.   

Tapi, Nasir masih tak puas dengan penjelasan Orias. Dia heran bagaimana Inalum bisa mengajukan utang besar tanpa ada aset yang dijaminkan. 

"Jadi Pak, pinjaman yang USD 4 miliar dan USD 2,5 miliar enggak ada kolateralnya. Clear. Ini kami terbitkan global bond, ada 300 institusi yang partisipasi seluruh dunia. Karena ini di pasar modal, pembelinya bergerak setiap hari. Tapi yang pasti enggak ada kolateral," ujar Orias.   

Akan tetapi, Nasir tetap mencecar Orias. Dia menanyakan bagaimana jika perusahaan tidak mampu bayar, apalagi utang ini besar dan tanpa ada jaminan. 

Orias menegaskan, dirinya optimistis bisa melunasi utang ini dengan melihat kondisi keuangan. Menurut dia, investor pun masih percaya dengan Inalum karena itu mereka mau memberikan utangnya ke perusahaan. 

"Kita enggak paham Pak, dari mana orang yang enggak pakai jaminan bisa dapat pinjaman?" tanya lagi Nasir. 

"Itu yang memang selalu saya kerjakan Pak, kita pinjam enggak pakai jaminan pak. Jadi ini penerbitan biasa di pasar modal dan itu terjadi Jakarta," timpal Orias. (*)