Keberagaman Sebagai Pertahanan Bangsa
logo

18 Mei 2020

Keberagaman Sebagai Pertahanan Bangsa

Keberagaman Sebagai Pertahanan Bangsa
 
Oleh: Al Makin
KEBERAGAMAN adalah anugerah, bukan musibah. Kebhinekaan bukanlah beban atau rintangan untuk kemajuan suatu bangsa. Sebaliknya, keberbagian adalah modal unggulan dan dasar utama untuk pertahanan negara. Bahkan, keberagaman merupakan tumpuan utama dalam bersaing di era global ini. Kebhinekaan adalah pertahanan jati diri bangsa.
Namun, persoalan utamanya adalah bagaimana mengatur keberagaman itu agar tidak menjadi momok atau justru menjadi alasan berkelit ketika perpecahan mengintai. Sungguh beruntung bagi kita bangsa Indonesi, ternyata keberagaman merupakan berkah dalam menghadapi musibah. Dalam usaha menghadang ganasnya amukan Covid-19 ini keberagaman sungguh telah membuktikan sisi kekuatannya.

Dunia yang Beragam

Bayangkan jika dunia ini seragam secara politik, sosial dan ekonomi, betapa terbatasnya jalan. Seandainya, semua negara-negara di dunia ini menggunakan sistem yang sama, maka tidak tersedia pilihan dalam gagasan beragam.

Bayangkan seandainya semua bangsa menawarkan solusi seragam dalam menghadapi Covid-19. Tidak ada kesempatan belajar satu sama lain, kecuali hanya copy-paste saja, dalam bahasa filsafatnya mimesis yang monolitik. Akibatnya, kreativitas bisa sirna.

Kenyataannya, dunia beragam dengan berbagai sistem bernegara dan bermasyarakat. Dunia menyediakan banyak pilihan. Warga dunia mempunyai previlese untuk saling belajar: mana yang terbaik dan mana yang sesuai dengan budaya dan tradisi setempat.

Dalam dunia yang sesungguhnya, China, Italia, Inggris, Amerika, Vietnam, dan Indonesia mempunyai jawaban yang berbeda ketika menghadapi amukan virus corona. Karena adanya perbedaan budaya dan kondisi sosial dan politik di setiap negara, maka masing-masing bisa saling melirik dan antisipasi.

Sistem mana yang paling efektif dan yang sesuai dengan ukuran kemampuan ekonomi dan politik suatu negara? Kita bisa menimbang pilihan. Dunia beragam, dan kesadaran kita harus diarahkan ke sana. Pilihan tersedia ragam, dan itu juga mengajarkan manusia untuk berjuang dalam memahami berbagai hal.

Dari pembelajaran selama menghadapi wabah corona, ternyata ada sisi kelebihan dan kekurangan pada setiap pendekatan: total lockdown suatu negara atau pembebasan warga sepenuhnya. Ada akibat sosial dan ekonomi yang ditanggung masing-masing cara. Belanda dan Swedia memilih jalan tengah, pembatasan tertentu saja.

Indonesia dari dahulu sampai kini, selalu melekatkan citra moderat pada dirinya, termasuk dalam menghadapi Covid-19. Tertutup rapat bukan pilihan yang bijak, namun terbuka lebar pun juga tidak sesuai dengan watak masyarakat beragam Nusantara ini.

Oleh karena itu, perbincangan tentang corona di berbagai daerah dan bahkan level terendah seperti RT dan RW masih terus berlanjut di masyakarat kita. Walhasil, solusi masing-masing daerah beragam, tidak seragam. Penyeragaman total sulit dijalankan, bahkan pemerintah pusat pun tidak mungkin bisa menggunakan segala otoritasnya untuk menyeragamkan. Tafsir masing-masing daerah terlihat menonjol.

Lihatlah pendekatan tingkat masyarakat kerumunan kecil: Ada yang menutup gang-gang kecil dengan portal bambu dengan berbagai imbauan; ada yang kreatif menggunakan hantu pocong-pocongan untuk menakuti warga berkeliaran, seperti di Sragen dan Purwokerto, Jawa Tengah.

Ada juga yang lebih canggih dengan menggunakan media sosial. Cara itu banyak dilakukan oleh para bapak dan ibu PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan karyawan swasta yang berkaraoke di media sosial untuk menghibur diri dan berbagi lagu dangdut kenangan; bahkan bermacam-macam bentuk pengumpulan dana secara mandiri untuk diperbantukan kepada mereka yang membutuhkan.

Ini adalah bukti kebhinnekaan masayarakat Indonesia, sekaligus sebagai  kekuatan pertahanan bangsa. Bayangkan betapa sulitnya jika Indonesia diseragamkan. Negeri yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, bermacam-macam iman, perbedaan nyata dalam kemampuan sosial, ekonomi, dan pendidikan harus mengikuti instruksi monoton dari pusat.

Tentu, semua akan sibuk mengejar penyeragaman, bahkan mungkin lupa pada persoalan sesungguhnya, bagaimana menghadapi virus yang tidak kasat mata ini.

Doa yang Beragam

Keberagaman dalam iman juga menunjukkan kekuatannya. Covid-19 di Indonesia telah melewati tiga macam ibadah dan masa suci dari tiga agama besar: Nyepi bagi ummat Hindu, Paskah bagi ummat Kristen serta Katolik, dan Ramadhan bagi ummat Muslim. Sebentar lagi masa darurat Covid-19 akan menjumpai Idul Fitri.

Para pemimpin dan ummat beragama dalam ibadahnya jelas berdoa dengan bahasa dan teologi yang berbeda. Mereka memohon kepada Tuhan dengan permintaan yang sama, namun dengan ucapan yang berbeda sesuai dengan ajaran masing-masing: agar Tuhan memberi kebaikan dan keselamatan seluruh manusia dan bangsa. Mereka mengharap perlindungan Yang Maha Perkasa supaya virus tidak mengganas penularannya dan bagi korban yang telah pergi selamanya agar damai disisi-Nya.

Ummat Islam kini berdoa dalam puasa, sholat tarawihnya, dan menjelang Idul Fitri untuk keselamatan manusia, sebagaimana juga ummat Kristen dan Katolik beberapa minggu lalu berdoa dalam misanya, begitu juga ummat Hindu selama Nyepi telah melakukannya.

Bukankah ini kekuatan? Doa-doa atau mantra-mantra dipanjatkan dengan lafaz dan cara yang berbeda, dengan tujuan yang sama.

Logika sederhananya, doa-doa beraneka rupa menggema di angkasa lebih meyakinkan daripada doa yang hanya satu bunyi dan satu nada. Doa dan mantra beragam dari berbagai ummat adalah musik dengan nada-nada rumit tapi harmonis.

Dengan keberagaman tradisi keagamaan ini, ummat juga saling belajar satu sama lain. Untuk menghindari merebaknya virus, ternyata ibadah massal juga bisa dilakukan di rumah masing-masing: Misa, Nyepi, dan Ramadhan. Idul Fitri dan yang terkait pun bisa mengikutinya: mudik, Sholat Ied, dan halal-bihalal. Keberbagian adalah berkah yang sesungguhnya. 

(Penulis adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)