Minta Maaf Pada Bumi Di Hari Fitri
logo

24 Mei 2020

Minta Maaf Pada Bumi Di Hari Fitri

Minta Maaf Pada Bumi Di Hari Fitri



Oleh: Al Makin

PADA hari kemenangan yang fitri karena terlampuinya haus dan dahaga selama sebulan ini, ternyata kita masih punya utang besar dan penting. Pandemik Covid-19 sebetulnya mengingatkan manusia pada utang itu. Semua manusia segala ras dan bangsa ini telah mengeksploitasi bumi serta isinya. Maka manusia, yaitu kita semua, berhutang pada planet ini, dan harus membayarnya.

Utang itu sangat jelas dan kita semua sadar. Tetapi bagaimana membayarnya, itu yang belum pasti dan masih terbuka untuk direnungkan terus.

Sejak empat ratus tahun belakangan ini, karena daya dan teknologi yang pesat, manusia telah mengambil terlampau banyak dari kulit bumi, dasar laut, udara, sampai semua kehidupan yang ada.

Persaingan kebutuhan antar sesama selalu mendorong manusia untuk terus tidak puas dan merasa kurang. Dan karakter itulah yang terus memicu manusia untuk mengeruk sebanyak mungkin apa yang ada di planetnya.

Tanah tampak berkurang, laut terasa dangkal, angkasa seperti menyempit. Itulah manusia dengan teknologinya, yang membuat semua terlampui.

Virus corona ini mungkin peringatan dari alam, bahwa kita semua berhutang pada alam. Manusia telah banyak melanggar hukum alam. Alam telah banyak dipaksa untuk menuruti nafsu kuasa makhluk yang bernama manusia.

Manusia merasa telah menjadi penguasa bagi bumi. Seluruh benda dan kehidupan yang ada seakan-akan dikendalikan semuanya.

Ingat-ingatlah sejarah manusia. Dua puluh ribu tahun yang lalu, manusia belajar menjinakkan tumbuhan dan binatang. Biji-bijian ditanam di lahan tempat tinggal untuk dipanen. Hewan-hewan di pelihara untuk disembelih. Desa dan kota berdiri.

Dari situlah awal mula manusia tidak pernah berhenti mengendalikan yang hidup dan yang mati di sekitarnya. Semua yang bisa diambil, dihabiskan. Semua yang bisa diatur, ditundukkan.

Covid-19 adalah pertanda, dimana manusia masih perlu berjuang keras untuk mengendalikan virus kecil ini. Ini mungkin kiriman alam agar manusia bisa lebih tawadu, rendah hati, dan mengingat bahwa makhluk ini bukan pemilik alam, tetapi bagian dari alam.

Di hari Idul Fitri seperti hari ini, setiap tahun setelah melaksanakan puasa sebulan, Muslim di seluruh dunia merayakan hari kemenangan dengan mengagungkan kemahligaian Tuhan.

Khusus di Indonesia tradisi halal-bihalal semarak. Tradisi khas yang tidak ada di belahan bumi lain.

Saling mengunjungi, bersalam-salaman, meminta maaf dan memaafkan. Itulah momen dimana harkat kemanusiaan terangkat. Satu dengan lainnya saling menyadari khilaf dan membuka pintu ampunan selebar-lebarnya.

Ya betul, manusia sudah memohon ampun pada Tuhan dan mengucap maaf pada sesama manusia. Tetapi kapan manusia membayar hutang atau paling tidak meminta maaf pada bumi, alam, dan hukumnya?

Manusia berhutang, dan harus membayarnya, minimal ditunjukkan dengan semangat kejujuran meminta ampun. Sudahkah kita lakukan?

Lihatlah apa yang telah diambil, atau tepatnya telah dirusak oleh manusia. Hutan-hutan berkurang jauh. Dalam jangka empat ratus tahun, karena kebutuhan tempat tinggal manusia, pohon-pohon di hutan dirobohkan.

Dalam jangka seratus tahun, karena kebutuhan kantor perusahaan dan jalan raya, semua yang merintangi diratakan. Semua negara, semua bangsa, semua ras manusia melakukan itu semua.

Sekitar empat ratus tahun, asap-asap membumbung di udara karena manusia. Oksigen telah berubah warna. Air laut dan sungai kelam. Rumput tidak lagi hijau dan melebar. Hewan-hewan banyak yang punah. Tanaman banyak yang sirna. Jangan sampai semua ini nanti tinggal cerita.

Dalam masa seratus tahun, es di kutub utara dan selatan mencair cepat. Udara dipenuhi pesawat lalu lalang dan mengubah ekosistem alam. Emisi kendaraan di darat dan kebisingan suara terus melonjat.

Selama kurang lebih waktu empat ratus tahun, hutan menjadi desa dan kota. Dalam seratus tahun, kota menjadi mesin. Dalam tiga puluh tahun, jumpa darat menjadi online. Dua puluh tahun, manusia telah berevolusi menjadi makhluk dengan handphone dan komputernya. Waktu bertambah cepat, ruang bertambah sempit.

Bumi menanggung semua akibat makhluk satu manusia yang tidak berbulu, tidak bertaring, namun berkulit lunak dan lamban dalam berlari. Tetapi semua makhluk di bumi ketakutan berhadapan dengan manusia.

Burung-burung jika didekati terbang menjauh. Singa memilih bersembunyi. Kijang terbirit-birit. Paus berenang jauh-jauh. Manusia berkaki dua, tidak tahan virus, ternyata menyeramkan bagi makhluk lain.

Di hari yang fitri ini tampaknya kita perlu belajar tradisi lain, tidak hanya Tradisi Barat, yang menempatkan manusia sebagai pusat dunia. Tradisi Barat yang berasal dari sekitar Mediterania, dari Eropa hingga Timur Tengah telah melahirkan tiga ajaran suci: Yahudi, Kristiani, dan Islam. Ketiganya menempatkan manusia sebagai pengatur alam raya.

Tradisi Timur yang patut direnungkan adalah spiritualitas kuno India dan China, yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam dan mengajarkan untuk selaras dengannya.

Dua tradisi itu pernah bertemu dengan Islam di era kejayaannya di Baghdad. Ilmu kedokteran, matematika, dan kimia modern ini berhutang pada pertemuan Timur dan Barat dalam sejarah daulah Abbasiyah yang melahirkan banyak filosof yang waskita dan terbuka.

Di  hari yang fitri ini, jika kita masih jauh untuk mengembalikan hutang-hutang kita pada bumi, paling tidak mari kita sampaikan maaf kita pada planet biru yang agak menghitam ini.

Untuk mengembalikan tanah, udara, dan air seperti semula, empat ratus tahun yang lalu perlu perjuangan berat. Untuk mengurangi lalu lalang udara, gelombang berbagai sinar seperti seratus tahun yang lalu pun tidak mungkin.

Paling tidak marilah kita jujur di hari kemenangan ini. Memakmurkan bumi berarti juga mengingat hak-haknya: hak makhluk lain, benda lain, tidak hanya hak manusia untuk menguasainya.

Penulis adalah Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta