Kisah Korban PHK Jalan Kaki 400 Km dari Jakarta ke Solo, Bersandal Jepit dan Tetap Puasa
logo

22 Mei 2020

Kisah Korban PHK Jalan Kaki 400 Km dari Jakarta ke Solo, Bersandal Jepit dan Tetap Puasa

Kisah Korban PHK Jalan Kaki 400 Km dari Jakarta ke Solo, Bersandal Jepit dan Tetap Puasa

GELORA.CO - Seorang pria nekat berjalan kaki sekitar 400 km dari Jakarta ke Jawa Tengah, setelah dipecat tanpa pesangon oleh tempatnya bekerja yang bangkrut akibat wabah virus corona.

"Saya memutuskan untuk pulang pakai apa yang diberikan Allah, yakni kedua kaki saya sebagai alat trapsortasi balik ke Solo," ungkap Maulana Arif Budi Satrio, 38 tahun, dilansir dari BBC, Jumat (22/05/2020).

Dia memutuskan berjalan kaki juga dilatari kegagalannya mudik dengan kendaraan umum lantaran kebijakan larangan mudik.

Tadinya ia sudah bertekad untuk jalan kaki hingga ke Solo, kota asalnya, namun mendapat bantuan saat tiba di Batang, Jawa Tengah.

"Saya cuma ada dua pilihan, bertahan tapi sekarat di Jakarta tanpa ada bantuan apa pun atau pulang ke Solo," ungkap dia.

Dengan berjalan kaki, Rio, panggilan akrabnya, meninggalkan Cibubur, di pinggiran Jakarta, pada 11 Mei lalu dan tiba di perbatasan antara Batang dan Kendal di Gringsing, 13 Mei 2020.

Setiap harinya, demikian pengakuannya, dia berjalan sekitar 100 kilometer dengan berjalan selama 12-14 jam.

"Sepatu saya masukan kresek dan saya berjalan pakai sandal jepit ini karena lebih nyaman," ujarnya.

Dia nekad berjalan kaki setelah tempatnya bekerja, yaitu sebuah perusahaan bus wisata, memecatnya dan sejumlah karyawan lainnya.

Ini dilakukan setelah perusahaan tersebut bangkrut akibat terdampak wabah virus.

"Saya diberitahu (dipecat) tanggal 8 Mei lalu pukul 11 siang." Rio tak bisa melupakan tanggal tersebut, sampai kini.

Kepalanya makin pening tak karuan, karena pemecatan itu tidak disertai gaji terakhir, THR maupun pesangon. "Saya pasrah akhirnya," akunya kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq.

Kenyataan ini, tentu saja, membuatnya terhimpit. Tanpa penghasilan, menurutnya, sangat sulit untuk bertahan hidup di Jakarta.

Lagipula, ayah satu anak ini tak bisa mengharap bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lantaran dia tak memiliki KTP DKI Jakarta. "KTP saya Solo".

"Saya cuma ada dua pilihan, bertahan tapi sekarat di Jakarta tanpa ada bantuan apa pun atau pulang ke Solo," Rio mengingat lagi apa yang di benaknya ketika itu.

Tanpa banyak pertimbangan, dia memutuskan untuk mudik ke kampung halamannya, Solo, Jawa Tengah.

Namun ini tidak mudah karena Jakarta sudah mberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Saya sudah mencoba (naik kendaraan umum), tapi mental semua, karena di jalur tol ada check point dan disuruh balik ke asal," ujarnya, getir.

Setelah gagal mudik dengan angkutan umum maupun mobil pinjaman, dia memilih jurus pamungkas, yaitu nekat berjalan kaki.

Usai salat Subuh, Sabtu, 11 Mei, Rio memutuskan meninggalkan Cibubur dengan berjalan kaki seorang diri.

"Saya memutuskan untuk pulang pakai apa yang diberikan Allah, yakni kedua kaki saya sebagai alat trapsortasi balik ke Solo," ungkapnya.

Meskipun hanya dengan berjalan kaki, Rio mengaku sangat menikmatinya. Dia pun mengaku tetap berpuasa meski harus berpanas-panasan jalan kaki.

"Saya di situ sudah kehabisan bekal dan ada informasi mau masuk razia di check point Mangkang, Semarang. Katanya ketat banget," kata Rio.

"Saya istirahat di tempat makan atau SPBU pada malam hari," katanya.[ok]