Kisah Abah Tono Pemulung asal Bandung yang Ternyata Punya Rumah 3 Lantai

Kisah Abah Tono Pemulung asal Bandung yang Ternyata Punya Rumah 3 Lantai

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Abah Tono (70), pemulung dengan penghasilan Rp 1.500-Rp 2.000 per hari, kini mengurung diri di dalam rumahnya. Dirinya sempat viral, dari sebuah video, karena mengaku berpenghasilan rendah yang hanya bisa untuk membeli kerupuk dan air minum.

Video yang tersebar di media sosial, di akun Instagram @silihasahsilihasihsilihasuh tersebut membuat iba kepada siapapun yang melihatnya. Bahkan banyak orang yang mengunjungi rumahnya untuk sekadar membari bantuan kepadanya.

Namun, dirinya diketahui tidak sesulit seperti yang ada dalam video tersebut. Ternyata, dirinya memiliki rumah pribadi setinggi tiga lantai. Hal tersebut membuat keluarga dan tetangganya malu dan risih.

Saat akan dikunjungi detikcom, Minggu (10/5/2020) ke lokasi rumahnya di Kampung Babakan Sondiri RT 02 RW 07, Desa Pangauban, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, rumahnya terkunci rapat. Menurut tetangganya, Abah Tono dan istrinya tertekan dengan adanya kejadian ini.

Kepala Desa Pangauban Enep Rusna mengatakan apa yang Abah Tono sampaikan dalam video tersebut tidak benar. Karena dia termasuk warga dengan ekonomi yang cukup, memiliki rumah tiga lantai dan dua sepeda motor.

"Bisa dilihat tiga tingkat meskipun belum rampung. Lumayan juga kondisi di dalam rumah. Motor dua, dia sama anaknya masing masing satu," kata Enep kepada wartawan, Minggu (10/5/2020).

Enep menambahkan, atas kejadian tersebut Abah Tono telah meminta maaf kepada RT dan RW karena ulahnya membuat resah warga. Ia merasa malu karena apa yang dia ucapkan justru membuat keluarganya dirundung malu.

"Kemarin dia sudah meminta maaf ke RT dan RW, disaksikan juga oleh saya camat dan kapolsek juga. Sekarang rumahnya terkunci, karena dia malu, kedua tekanan dari anaknya, karena anaknya yg malu. Karena kedua anaknya kerja," tambah Enep.

Abah Tono pernah berprofesi sebagai petani. Setiap ia pulang, selalu kelihatan lusuh sambil membawa karung. Melihat kondisinya seperti itu membuat orang lain merasa kasihan dan ingin membantunya.

Melihat begitu mudahnya orang lain membantunya, membuat dirinya terlena. Hingga akhirnya berhenti dari kebun dan memilih menjadi pemulung.

"Dengan adanya orang yang kasihan, ngasih ke dia, jadi keenakan. Over gimana gitu, dia jadi pemulung dan minta-minta," terang Enep.

Selain itu, warga juga menjadi risih karena kedatangan beberapa orang luar. Mengingat kini sedang masa pandemi virus Corona.

"Tapi menjadi kekhawatiran kita kan sekarang di zaman COVID kaya gini, yang datang dari Cileunyi, Nagreg, mau ngasih bantuan, takut ada penularan," katanya.

Namun, dengan adanya kejadian seperti ini, banyak pula yang akan memberi bantuan kepada Abah Tono dialihkan ke warga lain. Karena, ketika akan berkunjung, yang akan memberikan bantuannya tersebut merasa tidak tepat sasaran.

Tapi barokahnya, banyak orang yang datang dan ngasih ke dia, tapi enggak jadi akhirnya warga lain kebagian," ucapnya.

Ia berharap, agar hati hati dalam bermedia sosial, agar melakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum memberi bantuan.

Sementara itu, Kapolsek Katapang Kompol Kozasah mengatakan setelah dilakukan cek dan recheck kepada pihak desa, Abah Tono telah mendapatkan bantuan pangan non tunai (BPNT). Meskipun bantuan tersebut bukan atas nama Abah Tono melainkan istrinya.

"Saya sudah koordinasi dengan pihak desa, yang bersangkutan sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah, BNPT, yang sudah berjalan selama tiga tahun," ujarnya.

Ia pun menambahkan, kini Abah Tono sudah tidak memiliki tanggungan, karena kedua anaknya sudah bekerja dan berkeluarga.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita