Kecam Tindak Kekerasan Pada Habib Umar Assegaf, GNPF-Ulama: Apakah Lebih Parah Bagikan Sembako Dari Dalam Mobil?
logo

22 Mei 2020

Kecam Tindak Kekerasan Pada Habib Umar Assegaf, GNPF-Ulama: Apakah Lebih Parah Bagikan Sembako Dari Dalam Mobil?

Kecam Tindak Kekerasan Pada Habib Umar Assegaf, GNPF-Ulama: Apakah Lebih Parah Bagikan Sembako Dari Dalam Mobil?

GELORA.CO - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) menyayangkan sikap petugas check point Surabaya yang terkesan mempermalukan seorang Ulama Habib Umar Assegaf karena hanya mereka berteriak-teriak.

Hal itu disampaikan oleh Ketua GNPF-Ulama, Ustaz Yusuf Martak usai melihat video dugaan tindakan kekerasan terhadap Habib Umar Assegaf yang dilakukan oleh oknum Satpol PP Surabaya.

"Bagaimana mau di bilang perlakuan aparat pantas? Habib Umar Assegaf berada di dalam satu mobil dengan keluarganya, apa bedanya bila dibanding dengan dia tinggal di rumah dengan anak istri dan keluarga, toh akan berdekatan, di mana pelanggarannya?. Apakah mau di suruh turun keluarganya?," ucap Ustaz Yusuf Martak kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (22/5).

Apalagi kata Yusuf, Habib Umar merupakan seorang tokoh terpandang sebagai pengasuh Pondok Pesantren Majelis Roudhatus Salaf.

"Selayaknya dari sejak awal oknum aparat melakukan pendekatan yang santun begitu melihat ulama, kan bisa di lihat dari pakaiannya. Ada kesan pendekatannya kurang santun, bahkan terus menyuruh merekam setiap langkah Habib Umar, orang yang lagi emosi di kerubutin banyak petugas bukannya dibantu ditenangkan malah teriak-teriak disuruh terus merekam sehingga terkesan di permalukan?" jelas Yusuf.

Bahkan kata Yusuf, masyarakat pun bertanya-tanya terhadap kejadian tersebut karena dianggap melakukan pelanggaran terhadap kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Apakah yang di lakukan oleh Habib Umar lebih melanggar dibanding dengan yang lagi berkerumun di pasar-pasar, berkerumun di mall. Apakah tidak lebih parah yang bagi-bagi sembako dengan cara melemparkan dari dalam mobil di pinggir jalan yang akhirnya berakibat kerumunan rakyat sambil berlari-lari mengejar dan menyebrang  jalan?. Bagaimana dengan pelanggaran mengadakan konser yang tidak ada manfaatnya??," heran Yusuf.

Yusuf pun juga menyinggung soal adanya kerumunan penumpang yang duduk di dalam penerbangan pesawat serta adanya kerumunan penumpang di bandara beberapa saat lalu.

"Apakah mereka disiplin jaga jarak?. Yang lebih bahaya dan sangat parah adalah mendatangkan imigran gelap dan TKA dari China dimana sumber awal munculnya virus," terang Yusuf.

Dengan demikian, Yusuf mempertanyakan mata hari pemerintah dan aparat yang dianggap buta terhadap peristiwa pelanggaran yang dilakukan atas kebijakan pemerintah sendiri yang melakukan pelonggaran PSBB.

"Pertanyaan rakyat saat ini di mana mata hati  pemerintah dan aparat? Apakah sudah buta tidak bisa melihat dan tidak punya hati nurani lagi?. Terserah bila memang negara ini akan di hancurkan dan diserahkan pada asing," pungkas Yusuf.(rmol)