Kabur dari Kapal China, ABK Ini Ungkap Penderitaan: Alami Kekerasan hingga Makan Bawang Bombai
logo

15 Mei 2020

Kabur dari Kapal China, ABK Ini Ungkap Penderitaan: Alami Kekerasan hingga Makan Bawang Bombai

Kabur dari Kapal China, ABK Ini Ungkap Penderitaan: Alami Kekerasan hingga Makan Bawang Bombai

GELORA.CO -  Anak Buah Kapal (ABK) Hang Rong 363, Andrisen Ulipi mengungkap penderitaannya selama bekerja di kapal asal China itu.

Andrisen mengaku diperlakukan seperti binatang.

Bahkan, ia mengaku hanya diberi makan bawang bombai dan air sulingan selama bekerja 5 bulan sebagai ABK kapal.

Hal itu secara gamblang diungkapnya melalui kanal YouTube Talk Show tvOne, Kamis (14/5/2020).

Ini Ragam Dokumen Syarat Penumpang di Tengah Covid-19, Sebabkan Antrean Panjang di Bandara Soetta

Tak hanya soal makanan, Andrisen juga mengaku kerap menerima kekerasan fisik selama menjadi ABK.

Menurutnya, ada perbedaan perlakuan antara ABK Indonesia dengan ABK China.

"Iya sering, kayak kekerasan fisik," kata Andrisen.

"Kalau makanannya sih kayak makanan binatang, cuma dikasih bawang bombai doang. Airnya juga air sulingan, setiap hari itu," sambungnya.

Andrisen menyebut, tak hanya dirinya yang mendapat perlakuan tak pantas di dalam kapal China.

Ia menyatakan, sejumlah ABK asal Filipina dan Myanmar juga mendapat perlakuan yang sama.

"Yang dapat itu orang Indonesia, Filipina sama Myanmar doang," ujar Andrisen.

"Itu kapal asal China tujuannya ke Arab Saudi, itu kapal cumi."

Namun, penderitaan Andrisen dan sejumlah ABK lain tak berhenti sampai di situ.

Selama lima bulan bekerja, Andrisen mengaku sama sekali tak menerima upah.

Padahal, ia dijanjikan upah 300 dolar selama bekerja bersama kapal China itu.

"Upahnya itu 300 dolar, sampai sekarang kerja enggak ada duitnya," ujar Andrisen.

"Saya kerja 5 bulan kontrak selama 2 tahun."

Lebih lanjut, Andrisen pun membeberkan kronologi hingga ia dan sejumlah ABK lain bisa kabur dari kapal.

Ia mengaku mendapat pertolongan dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

"Itu salah seorang dari kami sudah kontak sama SBMI, kami udah kompak, kami pengin pulang," bebernya.

"Pada saat kapal masuk di Oman kan ada mengantar orang kecelakaan kerja, terus kami kontak."

"Kalau dari kapal saya yang pulang 3 orang," sambung Andrisen.

Selama bekerja di sana, semua ABK asal Indonesia disebutnya mendapat perlakuan yang paling tak manusiawi.

Bahkan, gaji ABK Indonesia jauh lebih kecil ketimbang ABK dari negara lain.

"Iya beda, perlakuannya dari saat kerja itu kalau orang Indonesia dibuat kayak tank di bagian depan," ujar Andrisen.

"Kalau gajinya untuk orang Indonesia 300 dolar aja, kalau untuk Filipina dan Myanmar 350 (dolar)," tandasnya. 

Simak video berikut ini dari menit awal:


close
Subscribe