Indonesia Memperbanyak Utang, Sri Mulyani: Agar Masyarakat Memiliki Daya Tahan
logo

2 Mei 2020

Indonesia Memperbanyak Utang, Sri Mulyani: Agar Masyarakat Memiliki Daya Tahan

Indonesia Memperbanyak Utang, Sri Mulyani: Agar Masyarakat Memiliki Daya Tahan

GELORA.CO -  Hutang Indonesia semakin besar, terlihat dari defisit yang terus melebar hingga 5,07% dari produk domestik bruto (PDB), atau setara dengan Rp 853 triliun. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penambahan utang oleh pemerintah ini dilakukan agar masyarakat dan dunia usaha bisa memiliki daya tahan.

"Kalaupun kami menambah utang, itu utamanya dipakai untuk masyarakat dan dunia usaha supaya mereka punya daya tahan terhadap kondisi Covid-19 ini," ujar Sri di dalam diskusi virtual, Jumat (1/5).

Untuk menambal defisit ini, pemerintah akan menggunakan anggaran alternatif seperti SAL (saldo anggaran lebih), pos dana abadi pemerintah, dan dana yang bersumber dari badan layanan umum (BLU). Selain itu, pemerintah juga tidak melakukan pinjaman multilateral dari lembaga luar negeri, seperti Bank Dunia (World Bank), Asian Development Bank (ADB), dan Islamic Development Bank (IsDB).

Lebih lanjut, Sri memaparkan pembiayaan yang dilakukan pemerintah ini dilakukan untuk menstimulasi masyarakat di tengah situasi yang tidak menentu. Bukan hanya disokong oleh adanya wabah, tetapi juga karena penerimaan perpajakan diperkirakan akan mengalami penurunan drastis.

Penerimaan pajak jatuh, bahkan pemerintah memberi insentif-insentif pajak. Perusahaan nggak usah bayar pajak, dikurangi pajak-nya, pajak karyawan ditanggung pemerintah, PPN ditanggung pemerintah, sehingga perusahaan dan masyarakat itu tidak terbebani.

"Dengan berbagai pertimbangan tersebutlah pemerintah akhirnya melakukan pembiayaan. Namun demikian, untuk meminimalkan pembiayaan multilateral, saat ini pemerintah juga telah melakukan langkah refocusing dan realokasi anggaran dengan memangkas belanja negara yang dianggap tidak prioritas," katanya.

Bahkan, pembangunan infrastruktur juga terkena imbasnya dan kemungkinan besar tidak akan berjalan pada tahun ini. "Jadi dalam hal ini, kita tetap jaga keuangan negara kita. Meskipun memang a lot of pressure, tapi kita jaga secara hati-hati dan bertanggung jawab," kata Sri. []