Dianalisa, Ternyata Ini Makna Tersembunyi di Balik Kritik Tiga Tokoh Terhadap Jokowi
logo

21 Mei 2020

Dianalisa, Ternyata Ini Makna Tersembunyi di Balik Kritik Tiga Tokoh Terhadap Jokowi

Dianalisa, Ternyata Ini Makna Tersembunyi di Balik Kritik Tiga Tokoh Terhadap Jokowi

GELORA.CO - Kritik yang dialamatkan atas sederet kebijakan Presiden Jokowi bukan lagi datang dari politisi atau dari dalam Parlemen.

Melainkan juga sudah dilontarkan oleh tokoh-tokoh besar bangsa.

Sebab, kebijakan orang nomor satu di Indonesia di tengah wabah corona atau Covid-19 itu dinilai membingungkan.

Terbaru, kritik dilontarkan tiga tokoh bangsa. Yakni mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK).

Juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj.

Kritik dari ketigas tokoh tersebut membuktikan bahwa pemerintahan Jokowi tidak memiliki sebuah komunikasi politik yang baik.

Demikian disampaikan analis politik Universitas Islam Indonesia (UII), Geradi Yudhistira, kepada RMOL, Kamis (21/5/2020).

“Bisa kita nilai sebagai sesuatu yang membuktikan bahwa pemerintah ini tidak memiliki sebuah komunikasi politik yang bagus, yang menenangkan,” ulasnya.

Menurutnya, kondisi ini dipicu karena setiap pernyataan yang disampaikan Presiden Jokowi atau jajaran di kabinetnya, selalu menimbulkan multitafsir.

 
Menurutnya, selalu ada sayap di dalam pernyataan. Ruang intepretasi penafsiran yang multitafsir terbuka lebar di balik pernyataan pemerintah.

Ia memisalkan pada pernyataan Presiden Jokowi ‘berdamai dengan wabah corona’ yang tak pernah diketahui maksudnya oleh publik.

“Warga negara Indonesia yang mendengar itu otomatis pemikirannya atau jalan logikanya adalah kita harus merangkul corona dan kita harus memandang corona sebagai bagian dari hidup kita,” papar Geradi.

Hal tersebut merupakan tanda kelemahan komunikasi Presiden Jokowi yang kerap kali berubah-ubah.

Berapa kali presiden dan jajarannya menteri-menterinya menyatakan A di hari tertentu, kemudian di lain hari dibantah atau diluruskan kolega sendiri.

Dengan demikian, kata Geradi, akibat dari itu semua akan menimbulkan distrust atau ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi.

“Ini berulang kali terjadi sehingga yang terjadi adalah distrust dan ini buruk sekali menurut saya,” tegasnya.

“Distrust ini kalau sudah terjadi, atau ketidakpercayaan ini buruk sekali terhadap pemerintah,” pungkas Geradi.[psid]