Dinilai Tak Sigap Tangani Korona, Menkes Terawan Didesak Mundur
logo

3 April 2020

Dinilai Tak Sigap Tangani Korona, Menkes Terawan Didesak Mundur

Dinilai Tak Sigap Tangani Korona, Menkes Terawan Didesak Mundur


GELORA.CO - Wabah Corona di Indonesia semakin menggejolak saat melihat jumlah kasus yang terus melonjak. Lebih dari sebulan ini tercatat 1.790 orang terinfeksi, dan 170 diantaranya meninggal dunia. Padahal, sejak awal, pemerintah sangat yakin Corona tak masuk Indonesia.

Di antara yang berkeyakinan seperti itu adalah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Dia meyakini bahwa Corona yang bermula dari Wuhan China ini akan mudah dicegah, bahkan dokter tentara itu pernah berujar agar warga sehat tak perlu memakai masker. Belakangan, Terawan justru mengingkari ucapannya itu saat ia ketahuan menggunakan masker ketika mengurus alat-alat kesehatan di lapangan terbang Halim Perdanakusuma.

Melihat sejumlah absurditas itu, Deklarator Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB), David Krisna Alka, mendesak Terawan untuk mundur dari jabatannya. Alasannya, karena Terawan terlihat tidak mampu bahkan acuh menangani wabah Corona.

"Presiden Jokowi perlu segera ganti menteri kesehatan, atau menkes mengundurkan diri. Dalam situasi darurat ini, sangat dibutuhkan sosok menkes yang betul-betul cepat tanggap sehingga presiden Jokowi perlu segera mencari penggantinya demi kredibilitas presiden dan kemanusiaan umat Indonesia," ucap David dalam siaran persnya, Jumat (3/4).

Pria yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah ini menuturkan, sejak awal Corona masuk Indonesia, menteri Terawan tampak tidak serius dalam pencegahan. Selain itu, dia juga menilai Terawan gagal dalam menjamin ketersediaan alat penunjang bagi tenaga medis.

"Baik menyiapkan rumah sakit rujukan, APD yang akhirnya banyak tenaga medis memakai jas hujan plastik, laboratorium terbatas, hingga alat tes, dan masker. "Sebagai pandemi global, penanganan COVID-19 di banyak negara tidak lepas dari tanggung jawab dari seorang menteri kesehatan," tutur aktivis muda Muhammadiyah itu.

Tak hanya itu, David menyoroti Terawan yang justru banyak menghilang di tengah perang melawan Corona. Terutama tak tampak dalam kegiatan Presiden yang terkait corona, seperti menengok Wisma Atlet dan Pulau Galang. Terawan kini justru diberi tanggung jawab lebih sesuai UU, untuk menyetujui suatu daerah atau wilayah boleh PSBB atau tidak. Salah satu yang sudah mengajukan adalah DKI.

"Kalau kemarin Presiden Kyrgyzstan berani memberhentikan menteri kesehatannya karena tidak becus bekerja, maka sebagaimana kurva angka kematian dan persebaran COVID-19 yang terus mendaki, wajar bila publik menuntut pertanggungjawaban dari menteri kesehatan," tandasnya.

Belum ada tanggapan dari Menteri Terawan saat TeropongSenayan mengkonfirmasi perihal desakan mundur terhadap dirinya ini. Juru bicara Presiden Fadjroel Rachman pun tak menjawab permintaan tanggapan yang diajukan TeropongSenayan.

Pengamat Kesehatan yang juga mantan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, dr. Zaenal Abidin, memandang desakan terhadap Terawan itu sangat mungkin terjadi di masyarakat. Pasalnya, di tengah musim yang berbahaya ini masyarakat sangat berkepentingan dan membutuhkan Menteri untuk menggerakkan institusi Kementerian Kesehatan secara maksimal sebagai pembantu Presiden menangani masalah kesehatan.

Bahkan, kata Zaenal, Menteri Kesehatan juga diharapkan mampu menggerakkan seluruh institusi di sektor kesehatan agar masyarakat diajak ikut berpartisipasi memberantas virus ini. "Mungkin memang kritikan masyarakat itu betul. Sebab masyarakat kan pasti menyaksikan sendiri di TV," ujar Zaenal. (*)