Cerita Di Balik Perjalanan Pulang Keris Diponegoro
logo

10 Maret 2020

Cerita Di Balik Perjalanan Pulang Keris Diponegoro

Cerita Di Balik Perjalanan Pulang Keris Diponegoro

Oleh:Bonnie Triyana
 DUTA Besar Republik Indonesia untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja merasa sedikit lega setelah keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro diserahkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Inggrid van Engelshoven, Selasa, 3 Maret yang lalu di kantor KBRI, Den Haag, Belanda.

Masih ada satu tugas lain menanti: membawa keris pusaka itu pulang kembali ke Tanah Air sehari setelah serah terima tersebut.

Pada Rabu, 4 Maret, pukul 11 pagi waktu Belanda, Dubes Puja didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Din Wahid dan Francine Brinkgreve, kurator Museum Volkenkunde, Leiden, membawa pulang keris pusaka yang tersimpan selama ratusan tahun di negeri Belanda. Setahun setelah Perang Jawa berakhir, keris Kiai Nogo Siluman itu dihadiahkan Kolonel Jan-Baptist Cleerens kepada Raja Willem I.

Pada tahun 1831 itu pula keris jadi koleksi di Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden (KKZ) atau Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik di Den Haag. Barangkali semacam simbol penaklukan Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830) yang nyaris membuat Belanda bangkrut.

Dubes Puja mengisahkan beberapa pengalaman uniknya saat mempersiapkan perjalanan pulang membawa keris tersebut ke Indonesia. Cuaca Belanda di awal Maret masih tak menentu. Angin kencang dan awan mendung kerap terjadi sepanjang hari.

“Tapi pada hari Selasa, 3 Maret, di hari penyerahan keris kepada kami, matahari bersinar terang sepanjang hari. Padahal sehari sebelumnya Belanda yang sedang musim dingin selalu diselimuti mendung gelap, hujan, dan angin dingin. Luar biasa sabda alam,” kata Puja kepada saya.

Dubes Puja masih punya cerita lain yang kata dia terserah mau dipercaya atau tidak. Namun, dia merasakan sendiri sebagai sebuah keanehan. Ketika tiba di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Kamis, 5 Maret pagi, dia langsung keluar mendorong troli dengan setumpuk koper, salah satunya koper biru berisi keris Kiai Nogo Siluman.

Tiba di depan petugas imigrasi, tanpa mengenalinya dan tanpa pandang bulu, meminta Dubes Puja masuk ke jalur pemeriksaan barang. Seluruh koper dimasukan ke dalam detektor metal.

“Yang bikin saya heran mengapa koper biru berisi keris Kiai Nogo Siluman itu lolos begitu saja tanpa ditanya petugas lagi. Padahal isinya jelas-jelas senjata tajam. Sepertinya memang tidak terdeteksi oleh alat detektor entah kenapa saya heran,” katanya.

Dari bandara Dubes Puja dan rombongan langsung menuju ke Museum Nasional untuk menyerahkan keris Pangeran Diponegoro. Keris tersebut langsung didaftarkan sebagai benda cagar budaya dengan nomor register 192.999 dan tersimpan sebagai koleksi tetap Museum Nasional Indonesia.

Hari ini, 10 Maret, keris tersebut dibawa ke Istana Bogor untuk diserahkan secara resmi oleh Raja Belanda Willem Alexander kepada Presiden Joko Widodo.

Akhir Februari yang lalu, sebelum proses pemulangan keris terjadi, saya dikontak oleh Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid untuk turut serta berangkat ke Belanda sebagai delegasi Indonesia bersama sejarawan UGM Sri Margana. Salah satu tugas kami memverifikasi kesahihan keris Pangeran Diponegoro tersebut. Sebuah laporan riset yang menelusuri keberadaan keris terlebih dahulu dibagikan kepada kami untuk dipelajari. Saya bukan ahli keris dan bukan pula sejarawan yang menekuni kehidupan Pangeran Diponegoro.

Agaknya keputusan untuk memasukkan saya ke dalam delegasi karena kegiatan saya akhir-akhir ini sebagai kurator Rijksmuseum dan menjadi semacam penghubung untuk rencana pengembalian benda-benda bersejarah dari Belanda ke Indonesia.

Pada Minggu, 23 Februari dini hari kami bertiga bertolak ke Amsterdam dan tiba pada Minggu sore waktu setempat. Setibanya di Den Haag, kami langsung mengadakan rapat kecil dengan Dubes Puja dan Atdikbud Din Wahid. Tema pembicaraan berkisar tentang hasil pencarian keris serta persiapan rapat dengan staf Kerajaan Belanda dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda pada keesokan harinya.

Dubes Puja tampak antusias membicarakan temuan keris tersebut. Bahkan dia pun mengisahkan telah bertemu dengan salah seorang keturunan Pangeran Diponegoro yang bermukim di Belanda. Sebelum kami tiba, dia pun telah membawa seorang mpu keris dari Indonesia untuk melihat langsung keris Kiai Nogo Siluman. “Untuk melihatnya dengan menggunakan mata batin,” kata Dubes Puja.

Senin, 24 Maret, pagi hari kami diterima Eric Verwaal, Kepala Sekretaris Kerajaan dan Jan Snoek, penasihat dan penulis pidato Raja Willem Alexander di Istana Noordeinde, Den Haag. Sementara itu delegasi Indonesia terdiri dari kami bertiga bersama duta besar Indonesia, wakil duta besar, Atdikbud, dan seorang diplomat dari KBRI Den Haag. Pembicaraan berkisar ihwal keris Pangeran Diponegoro dan rencana kedatangan raja ke Indonesia.

Usai pertemuan, kami dibawa ke ruang Indonesia, dulu sempat bernama Indische Zaal (kini berjuluk Indonesia Zaal atau ruang Indonesia). Ruangan yang luasnya sekitar 8x10 meter persegi dipenuhi ukiran Jepara dibuat sebagai hadiah pernikahan Ratu Wilhelmina dengan Pangeran Henry pada 1901. Di ruangan tersebut terdapat beberapa hadiah dari raja-raja Nusantara untuk keluarga kerajaan, mulai Ratu Wilhelmina sampai Ratu Juliana. Keris berlapis emas dengan warangka bertaburan berlian dan loyang serta piring emas tersimpan apik di dalam vitrin kaca.

Ruang Indonesia memberikan kesan kuat ada upaya menghadirkan nuansa negeri jajahan sebagai miniatur di tengah megahnya istana raja yang berkuasa atas imperiumnya. Sejiwa dengan penyelenggaraan pameran kolonial di Paris pada 1931 yang menghadirkan wajah koloni dalam bangunan khas negeri jajahan dan orang-orangnya sebagai tontonan.

Negeri jajahan dan kebudayaannya direken sebagai obyek kolonialisme yang seringkali dipandang terbelakang namun eksotis untuk dipamerkan.

Perjalanan membicarakan rencana pengembalian keris Pangeran Diponegoro belum berhenti di ruangan tersebut. Pertemuan dilanjutkan ke kantor Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda. Selain soal keris, didiskusikan pula tentang rencana pengembalian benda-benda seni bersejarah yang ada di beberapa museum di Belanda. Sebuah komite kerja yang terdiri dari beberapa ahli dan pejabat pemerintahan Belanda dibentuk khusus untuk menangani rencana repatriasi itu.

Di Belanda, riuh rendah perdebatan mengenai dekolonisasi memang merambah ke segala bidang. Penelitian sejarah mengenai kekerasan selama revolusi 1945-1950 sudah dimulai sejak tiga tahun lalu dan memicu kontroversi. Dalam isu museum, pernyataan Presiden Prancis Emanuel Macron di Burkina Faso, Afrika pada 2017 lalu juga mendorong diskusi yang lebih luas mengenai repatriasi benda-benda bersejarah dari berbagai museum di Eropa, tidak terkecuali Belanda. Beberapa benda yang diduga diperoleh dengan cara kekerasan bakal dikembalikan ke negeri asalnya.

Keris Pangeran Diponegoro yang dirampas dari pemiliknya setelah pemimpin Perang Jawa itu ditaklukan secara licik, tentu bisa dikategorikan ke dalam barang jarahan yang sudah semestinya dikembalikan ke negeri asalnya. Maka setelah rapat di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda berakhir, kami bergegas menuju Museum Volkenkunde di Leiden untuk melihat langsung keris yang selama ini dicari-cari itu.

Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan kami di Leiden. Rombongan diterima Direktur Museum Volkenkunde Stijn Schoonderwoerd yang langsung membimbing kami ke ruangan pertemuan. Tak menunggu lama, seorang kurator datang membawa baki besar dengan sebilah keris di dalam warangkanya. Sejarawan Sri Margana dipersilakan membuka terlebih dahulu keris tersebut. Saya berdebar, khawatir keris yang dibawa itu bukan keris yang selama ini dicari-cari.

Perlahan Sri Margana mencabut keris dari warangkanya. Dia mengamati secara saksama keris kehitaman bersepuh emas dengan ukiran naga di sekujur bilahnya. “Ini bener?” kata Dirjen Kebudayan Hilmar Farid bertanya separuh berbisik kepada Sri Margana. “Sebentar… sebentar…” kata Sri Margana melanjutkan penelaahannya.

Beberapa hari sebelum berangkat, Sri Margana berkomunikasi dengan Ki Roni Soedewo, keturunan Pangeran Diponegoro yang aktif menekuni sejarah eyangnya. Kepada Sri Margana, dia memberikan petunjuk kalau nama Nogo Siluman itu semacam kode pada keris. “Pasti naga yang dimaksud tidak bisa langsung terlihat begitu saja,” kata Roni seperti ditirukan Sri Margana.

Maka setelah beberapa menit menelisik secara detail keseluruh bagian keris dan dengan menggunakan data hasil temuan riset, Sri Margana menganggukan kepala seraya mengatakan “Benar… ini keris Pangeran Diponegoro”. Semua bertepuk tangan dan melanjutkan pembicaraan tentang tata cara pengembalian keris.

Hari ini, di Istana Bogor, Raja Belanda Willem Alexander tampak berfoto bersama dengan Presiden Jokowi dengan keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro di tengah-tengah mereka.

Ada berbagai perdebatan menyoal keris tersebut. Namun satu yang pasti, penemuan keris itu merupakan hasil penelitian yang panjang, paling tidak selama tiga tahun terakhir, dengan menggunakan dokumen-dokumen yang ada, mulai dari kesaksian Sentot Alibasyah Prawirohardjo dan pelukis Raden Saleh yang hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro.

(Pemimpin Redaksi Histori
Artikel ini sudah dipublikasi di Historia.id )
loading...