Anak Buah Habib Rizieq Curiga BPIP Proyek Komunis China
logo

14 Februari 2020

Anak Buah Habib Rizieq Curiga BPIP Proyek Komunis China

Anak Buah Habib Rizieq Curiga BPIP Proyek Komunis China


GELORA.CO - Ketua Media Center Persaudaraan Alumni 212 Habib Novel Chaidir Hasan makin geram dengan ulah ketua BPIP Yudian Wahyudi yang menyebut musuh terbesar pancasila adalah agama.

Menurut anak buah Habib Rizieq itu pernyataan Yudian semakin membuktikan bahwa BPIP merupakan proyek komunis China untuk mendukung para penista agama.

“Proyek mendukung penista agama adalah dibelakangnya adalah komunis cina jadi kembali lagi pancasila saat ini oleh mereka diduga kuat kepada konsep nasakom,” kata Novel saat dikonfirmasi Pojoksatu, Jumat (14/2).

Pria yang akrap disapa Habib Novel itu pun sependapat bila Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ditiadakan, karena memang fungsi yang diklaim sebagai penjaga pancasila itu tidak ada.

“Sehrusnya itu ditiadakan karna tidak ada fungsinya sama sekali karna hanya menghambur hamburkan uang negara,” ungkap Novel.

Novel bahkan mencurigai bahwa orang- orang di BPIP diduga kuat akan merusak tatanan Pancasila lewat dalam.

“Malah bisa mendiskriditkan pancasila karna tafsir pancasila versi mereka bukan untuk menyelamatkan negara. Jadi sangat berbahaya pancasila dirawat oleh penghianat pancasila itu sendiri,” tuding Novel.

Sebelumnya, Yudian Wahyudi mengatakan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, telah diterima oleh mayoritas masyarakat.

Hal itu seperti tercermin dari dukungan dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah, sejak era 1980-an.

Namun, memasuki era reformasi, asas-asas organisasi termasuk partai politik boleh memilih selain Pancasila, seperti Islam.

Hal ini sebagai ekspresi pembalasan terhadap Orde Baru yang dianggap semena-mena.

“Dari situlah sebenarnya Pancasila sudah dibunuh secara administratif,” kata Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Yudian Wahyudi.

Belakangan, katanya, juga ada kelompok yang mereduksi agama sesuai kepentingannya sendiri, yang tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.

Mereka antara lain membuat Ijtima Ulama untuk menentukan calon wakil presiden.

Ketika manuvernya kemudian tak seperti yang diharapkan, bahkan cenderung dinafikan oleh politikus yang disokongnya, mereka pun kecewa.

“Si Minoritas ini ingin melawan Pancasila dan mengklaim dirinya sebagai mayoritas. Ini yang berbahaya.”
 
“Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” ucap Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta ini.(*)
Loading...
loading...