Agnez Mo, Anies Baswedan dan Sukanto Tanoto dalam Nasionalisme Kita
logo

27 November 2019

Agnez Mo, Anies Baswedan dan Sukanto Tanoto dalam Nasionalisme Kita

Agnez Mo, Anies Baswedan dan Sukanto Tanoto dalam Nasionalisme Kita

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan*

BANYAK tokoh-tokoh pegiat politik marah dengan Agnez Mo beberapa hari ini. Bahkan, mantan ketua Walhi, Emmi Hafidz, seperti dikutip Tempo dari akun FB-nya, minta Agnez pindah saja ke neraka.

Pasalnya dalam suatu wawancara bergengsi di Amerika, BUILD Series, Agnez mengatakan dia tidak punya sama sekali darah Indonesia. Sebelumnya, Kevan Kenney, pembawa acara, menanya Agnez, kenapa dia profil fisiknya berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia.

Pihak-pihak yang marah maupun bertanya-tanya antara lain dilatari:

1) Agnez dinilai tidak tahu berterima kasih terhadap Indonesia yang sudah  membesarkan dia.

2) Agnez membangkitkan sentimen nasionalistik, dapat berdampak sentimen atas darah keturunan yang ingin disamakan (dianggap setara pribumi) selama ini menjadi dipertanyakan kembali.

3) Bagaimana Agnez bisa punya kewarganegaran Indonesia?

Soal Agnez ini menarik untuk kita diskusikan. Pertama, Agnez adalah artis terkenal di Indonesia, yang mempunyai banyak fans. Kedua, beberapa waktu lalu "kasus kebangsaan" ini banyak terjadi, yakni:

a) Anies Baswedan menyatakan akan membangun Pribumi dalam pidato kemenangannya Oktober 2017.

b) Jokowi mengangkat menteri energi, Archandra, pada saat mana Archandra tercatat sebagai WN Amerika.

c) Beberapa tahun lalu juga, pengusaha Sukanto Tanoto, mengatakan dalam sebuah pertemuan elit di RRC, bahwa RRC adalah bapak kandung dia, sedang Indonesia hanya bapak tiri.

d) Bahlil Lahadalia dikecam orang2 Papua karena dianggap mengaku-ngaku orang Papua. Ketiga, di zaman globalisasi dan internet of things pembicaraan kebangsaan ini tetap dalam kontroversi antara cairnya identitas seseorang, di satu sisi versus mengentalnya nasionalisme di sisi lain.

Kita akan membandingkan kasus-kasus seperti di atas pada isu nasionalisme bangsa kita. Apakah memang benar bahwa bangsa kita tidak ada yang asli? Sebagaimana Sukarno dan para founding fathers membuatnya pada Pasal 6 UUD 45 yang asli. Apakah persoalan identitas yang ditampilkan Agnez vs Anies vs Archandra vs Sukanto Tanoto vs Bahlil mempunyai skala isu yang sama?

Pribumi vs Nonpribumi

Bangsa Indonesia dan warga negara Indonesia adalah suatu yang berbeda. Agnez pada dasarnya ingin memberitahu pembawa acara Kevan Kenney, atau semua kita yang saat ini terlibat diskusi ini, bahwa dia bukanlah Bangsa Indonesia, melainkan warganegara Indonesia. Karena tidak ada darah Indonesia dalam tubuhnya.

Sebagaimana Michael Jackson atau Rihanna di Amerika, misalnya, mereka adalah Bangsa Afrika, tapi warga negara Amerika. Agnez adalah bangsa campuran Jepang, China dan Jerman, tapi warga negara Indonesia. Di Amerika orang Afrika menyebut dirinya Afro-American atau Black America.

Sebuah bangsa menurut ahli seperti Anthony Smith vs Ernst Gellner berbeda. Dalam "The Warwick Debate", yang menjadi rujukan para ahli "national vs nationalism" antara keduanya di Universitas Warwick, Inggris, tahun 1996, Smith meyakini fenomena bangsa itu ada. Sedangkan Gellner meyakini bangsa itu hanya produk modernisme dalam abad industri.

Pikiran bahwa bangsa itu ada, sejalan dengan Sukarno dan para founding fathers bahwa Bangsa Indonesia itu ada artinya yang asli, bukan bangsa Arab, China maupun Eropa. Amien Rais dkk, pada tahun 1999-2002, tidak percaya bahwa Bangsa Indonesia asli itu ada. Akibatnya, Pasal 6 UUD 45 yang dirumuskan BPUPKI diubah mereka dalam amandemen, siapapun termasuk Agnez punya hak yang sama dengan orang-orang asli untuk menjadi presiden kita.

Pikiran Amien Rais dkk itu sejalan dengan Ernst Gellner, Eric Hobswam dan Ben Anderson, bahwa yang ada adalah warga negara atau pemegang paspor seperti Agnez Mo, bukan sebuah bangsa.

Dalam pikiran Sukarno dan pendiri negara, sebagaimana juga, misalnya, Profesor Hikmahanto Juwana, garis kewarganegaran itu mengalir dari darah kebangsaan, secara otomatis maupun diberikan buat bangsa lainnya sesuai aturan yang mengaturnya.

Lalu bagaimana soal pribumi vs nonpribumi? Senator Mc Cain, 2008, di Pilpres USA, sebagai penantang Obama, pernah mengatakan, Obama bukanlah pribumi. Lebih tepatnya Mc Cain menyebut "American Heritage" berasal dari Anglo Saxon, bukan Afrika seperti Obama.

Namun, McCain gagal memberi perspektif yang bertentangan soal siapa Bangsa Amerika. Sebab, semua orang Amerika adalah pendatang, setidaknya mereka menganggap begitu. Warga negara Amerika kemudahan adalah siapapun yang lahir di Amerika.

Anies juga bicara soal kemajuan kaum pribumi, pada tahun 2017, ketika  pidato kemenangan dia sebagai Gubernur DKI, 2018 (lihat Syahganda dalam "Anies, Mandela dan Evo Morales: Aspek Teoritik dan Sejarah Perjuangan Pribumi"). Kala itu dia menyebutkan akan berjuang untuk kemajuan pribumi. Namun isu itu surut ketika Anies dilaporkan warga ke polisi karena dianggap rasis, dan dia juga diejek bukan pribumi alias Arab, oleh sebagain nitizen.

Namun, jika melihat kasus Bahlil yang besar di Papua dan anak-anak "pendatang" (lahir dan besar di Papua) korban kebiadaban Wamena beberapa waktu lalu, bukan dianggap asli maupun pribumi di sana, maka asli dan pribumi itu terlihat pula memiliki tempat dalam khazanah politik kita. Bahkan di Papua, hanya orang Papua asli alias pribumi yang boleh jadi Gubernur di sana.

Lalu apakah Anies membedakan antara pribumi vs asli? Dari apa yang terlihat, semangat Anies memperjuangkan pribumi adalah nyata. Jika Anies, yang pasti sadar bahwa dia adalah turunan Arab, bukan asli namun cinta pribumi, maka dapat dipastikan itu adalah spirit ke-Indonesiaan dan patriotisme yang dimilikinya sama dengan kakeknya, A. R, Baswedan, memilih berjuang bersama pribumi Indonesia melawan Belanda.

Sikap Anies ini berbeda dengan Sukanto Tanoto.  Sukanto Tanoto, yang kekayaannya melimpah ruah karena berbagai "kemudahan" bisnis di Indonesia malah menyatakan bahwa RRC-lah ayah kandung dia. Ini tentu sebuah gambaran buruk dwi identitas dibanding Anies tadi. Seharusnya Sukanto menjadikan Indonesia "ayah kandung" untuk berbakti, bukan sebaliknya.

Tantangan Nasionalisme Kita

Apakah Agnez perlu pindah ke neraka? Soal Agnez ini adalah soal identitas sosial belaka. Masalah kontestasi identitas ini mungkin menyakitkan masyarakat awam, khususnya, jika Agnez yang sudah dianggap Indonesia, kemudian terkesan menyepelekan Indonesia.

Saya bukanlah orang awam yang larut dalam perdebatan semu soal Agnez. Sedikit kecewa, mungkin. Tapi bagi saya, Agnez adalah gadis jujur belaka, yang mengungkapkan tentang dirinya, sebagai sebuah klarifikasi sosial.

Dalam zaman global ini, Agnez dan fenomena sebagian masyarakat sebagai anggota atau bagian "global community" merupakan keniscayaan, khususnya di kota-kota besar. Mengapa saya tidak menganggap ini terlalu penting, karena Agnes tidak melibatkan negara, bangsa dan masyarakat Indonesia pada urusannya tersebut.

Tentu hanya orang awam pula yang perlu atau punya "hak" menista Agnez, sebaliknya orang-orang politik atau mengerti politik, akan menjadi "misleading" ikut dalam polemik isu Agnez. Artinya, dalam "political sphere" maupun "public domain", soal Agnez ini tidak merugikan.

Namun, soal "Anies dan Pribumi", "Archandra dan Dwi Kewarganegaran", "Sukanto Tanoto dan Bapak Kandung" serta "Bahlil dan Asli Papua", merupakan tema politik dan harus dibahas serius oleh pemimpin-pemimpin bangsa ini. Apakah pribumi, asli dan Nasionalisme akan kita anggap sebagai produk modernisme, sebuah yang akan kita biarkan sirna?

Atau justru kita kembali merevitalisasi spirit kebangsaan kita, sebagaimana pendiri bangsa melakukannya? Membiarkan sirna artinya kita tidak perlu lagi mempersoalkan siapa pemilik tanah air ini, namun sebaliknya, jika mengikuti "Spirit Sumpah Pemuda", maka tanah air ini ada pemiliknya.

Berbagai negara dan bangsa di dunia saat ini banyak melakukan revitalisasi kebangsaan mereka, seperti di eropa dan Amerika, juga Amerika latin. Hal ini penting bagi mereka untuk mempertahankan eksistensi mereka dalam struktur negara bangsa, dari cepatnya perputaran migrasi penduduk dunia saat ini.

Penutup

Soal Agnez hanyalah soal identitas tanpa muatan politik, sehingga tidak perlu dikecam berlebihan. Apalagi harus meminta Agnez pindah ke neraka.

Orang-orang harus sadar masalah nasionalisme kita bukan pada isu identitas bangsa vs kewarganegaran Agnez. Namun, ada pada kemauan kita mengembalikan identitas politik bangsa ini.

Apakah bangsa pribumi/asli ini akan tetap menjadi pemilik tanah air Indonesia, ataukah akan terhempas dalam kejayaan bangsa-bangsa asing yang menguasai sumber daya alam dan kekayaan lainnya? 

*) Penulis adalah Aktivis Sabang Merauke Circle
Loading...
loading...