Kepemimpinan Gelap
logo

22 Oktober 2019

Kepemimpinan Gelap

Kepemimpinan Gelap

GELORA.CO - DALAM hitungan hari ada tiga peristiwa dialami masyarakat dan negara kita, yaitu erupsi Gunung Tangkuban Perahu, Gempa Banten serta padam listrik di Jakarta dan sebagian Jawa Barat.

Soal error di Ungaran, Turbin Suralaya, dan Turbin Cilegon meski PLN telah meminta maaf namun peristiwa itu menjadi pengalaman berharga dalam "menyambut" Dirut PLN baru.

Dengan sedikit "guncangan" saja masyarakat menjadi panik. Tak terbayang jika itu adalah "guncangan" besar dari Allah SWT, maka tak mampu manusia berbuat apa-apa. Banyak peristiwa membuktikan ketidak berdayaan tersebut. Sebelumnya ada juga "guncangan" Bank Mandiri dan Pertamina.


Ujungnya tentu hal ini menjadi peringatan kepada pemimpin tentang cara mengurus rakyat. Walau dia atau mereka biasanya tak mau disalahkan.

Kritikan publik terarah pada cara menangani negara. Sampai soal padam listrik dikomparasikan dengan Menteri Ekonomi Korsel yang mengundurkan diri karena malu merasa bersalah dan merugikan banyak orang.

Berbeda dengan kita meski sudah tercium "padam moral" berupa korupsi masih terus saja menjabat. Malah ingin jadi menteri lagi. Maju terus pantang mundur.

Sebenarnya UU Perlindungan konsumen mengatur kewajiban PLN untuk mengganti kerugian kepada konsumen, hanya saja kita skeptis boro-boro mengganti, PLN berdalih terus merugi.

Guncangan letusan gunung dan gempa menjadi tadzkirah untuk meluruskan perilaku taat kepada Allah SWT, hidup maksiat dikurangi serta meningkatkan tanggung jawab untuk memberantas kezaliman.

Padamnya listrik juga pengingat bahwa betapa rawannya sistem jaringan kelistrikan. Apabila ada sabotase, lalu mati untuk beberapa jam yang lebih lama, maka bisa merontokkan banyak sendi. Ini perlu evaluasi dan investigasi serius. Presiden tentu tak bisa bilang "bukan urusan saya".

Di saat rawan justru instruksi dan sikap Presiden mesti jelas. Perangkat teknis dapat minta maaf, tapi kebijakan mesti jelas. Presiden harus hadir di tengah peristiwa.

Bencana atau musibah baik "alam" maupun error "manusia" harus disikapi dengan spiritual dan langkah rasional. Sebab model padamnya listrik dapat menyebabkan "habis gelap terbitlah terang" atau "habis terang terbitlah gelap".

Dalam konteks keagamaan ini berhubungan dengan kepemimpinan. Pemimpin "ilahiah" dimana Allah SWT sebagai sentral maka "yukhrijuhum minadh dhulumaati ilan nuur" mengeluarkan dari gelap pada terang. Sedangkan kepemimpinan "berhala" dimana thogut-lah yang jadi ikutan maka syaitan itu akan "yukhrijunahum minan nuur iladh dhulumat" mengeluarkan dari terang kepada gelap.

Sikap dan kebijakan pemimpin yang selalu mementingkan diri dan menyusahkan rakyat adalah "dark leadership" kepemimpinan yang dihasilkan dari "hubungan gelap" dan bersisi gelap yang berkarakter narsistik, machiavellis, dan psikopatik.

Pengikut syaithon. Naudzubillah.

Oleh:M Rizal Fadillah

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Keagamaan.(rmol)
Loading...
loading...