Masih Ada Residu Gondangdia Vs Teuku Umar di Kongres PDIP

Masih Ada Residu Gondangdia Vs Teuku Umar di Kongres PDIP

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Sambutan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dalam Kongres V PDIP masih menyisakan tanda tanya besar.

Pasalnya, putri Bung Karno itu tidak menyapa Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dan rekan ketua umum lain di koalisi Joko Widodo-Maruf Amin. Sebaliknya, dia malah menyapa rival Jokowi di pilpres yang juga Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio menafsirkan bahwa Mega sedang tidak nyaman dengan partai-partai di koalisi. Dia justru memberi tempat spesial kepada Prabowo Subianto.

"Situasinya agak berbeda hari ini. Untuk Surya Paloh (dan ketum lain) dari posisi juga agak menjauh di pojok walaupun duduk paling depan," kata Hensat, sapaan akrabnya, pada Kamis (8/8).

Tempat spesial yang diberikan kepada Prabowo, menurut Hensat, tidak lepas dari peristiwa Gondangdia Vs Teuku Umar. 

Pada tanggal 22 Juli, empat ketua umum partai koalisi yang lolos ke Senayan berkumpul di kantor DPP Partai Nasdem, Gondangdia, Jakarta Pusat. Pertemuan yang disebut berisi penguatan konsolidasi itu tidak dihadiri oleh Megawati.

Dua hari berselang, Megawati menjamu Prabowo Subianto di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Menteng. Pertemuan disebut sebagai sinyal bahwa Mega merestui Prabowo untuk merapatkan barisan.

Di hari yang sama juga, Surya Paloh juga menjamu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang mengalahkan kader PDIP Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pilkada DKI 2017 lalu.

"Buat saya memang ada keseriusan residu dari peristiwa Gondangdia dan Teuku Umar beberapa waktu lalu," ujar pendiri lembaga survei Kedaikopi itu.

Apalagi, residu tidak hanya tampak saat kongres. Kader PDIP dan Nasdem selama ini kerap beradu argumen tentang posisi Jaksa Agung.

Banteng moncong putih ingin Jaksa Agung diduduki orang profesional. Sementara Nasdem masih ingin mempertahankan jabatan yang diemban HM Prasetyo. 

“Partai Nasdem masih menginginkan posisi jaksa agung kembali diberikan ke partainya,"jelas Hensat.

“Tapi dalam politik bisa kita lihat, hari ini A sesudah hari kemudian jadi B. Jadi kita tunggu saja, kelanjutan drama hari ini," pungkasnya. [rm]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita