Mufti Damaskus: Umat Islam Indonesia Jangan Percaya Propaganda Radikal
logo

11 April 2019

Mufti Damaskus: Umat Islam Indonesia Jangan Percaya Propaganda Radikal

Mufti Damaskus: Umat Islam Indonesia Jangan Percaya Propaganda Radikal

GELORA.CO - Umat Islam di Indonesia diingatkan untuk tidak mempercayai propaganda radikal terorisme yang bertujuan untuk merusak Indonesia. 

Fakta kehancuran Suriah yang dulu negara yang damai, tentram, dan indah menjadi contoh. Karena radikal terorisme, Suriah kini negara tanpa kedamaian karena perang saudara terjadi di mana-mana. 

“Fenomena ini mulai muncul di Indonesia dimana isu-isu radikal terorisme menjadi sangat hangat di Indonesia. Saya khawatir jika nantinya umat Islam di negeri yang damai ini ikut terjerumus seperti umat Islam di Suriah. Makanya saya dengan lantang mengatakan kepada saudara-saudara saya di Indonesia agar tidak mempercayai proppaganda radikal terorisme,” ujar Mufti Damaskus (Suriah) Syaikh Dr Muhammad Adnan Al-Afyouni di sela-sela Konferensi Ulama Sufi Internasional (World Sufi Forum) di Pekalongan, Selasa 9 April 2019.

Konferensi Ulama Sufi Internasional digelar selama tiga hari. Bertindak sebagai tuan rumah Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahli Thariqah al-Mutabarah al-Nahdliyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.

Al-Afyouni mengungkapkan sudah sering datang ke Indonesia dan berbicara tentang perkembangan di Suriah, khususnya terkait radikal terorisme. 

Menurut dia, kelompok radikal terorisme memiliki pola mempengaruhi masyarakat khususnya mereka yang tidak paham agama. Biasanya mereka memulai dengan mencari pendukung dan merekrut orang-orang menjadi anggotanya dengan menggunakan pendekatan isu-isu yangg dapat membangkitkan emosi umat Islam seperti kezaliman pemerintah, ketidakadilan pemerintah terhadap umat Islam, marginalisasi umat Islam, pemiskinan umat Islam dan penindasan terhadap umat Islam.

“Isu-isu seperti ini sangat mudah menarik perhatian orang orang yang tidak paham agama sehingga mereka muda terpengaruh dengan ajakan mereka,” tutur Al-Afyouni. 

Dia menjelaskan, bagaimana mungkin seorang yang melakukan dakwah Islam tetapi membunuh sesamanya, membenci orang lain, dan tidak menerima eksistensi orang lain. Padahal Islam mengajarkan kebersamaan dan saling menghormati antara sesma manusia sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW saat di Madinah.

Al-Afyouni menegaskan, Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah membunuh dan selalu bergaul sama siapapun baik Yahudi maupun Nasrani. Bahkan Rasulullah menegaskan mereka punya hak ke kita dan kami punya hak kepada mereka. Artinya kita saling membutuhkan dan tidak bisa saling memusuhi

Dia mempertanyakan bagaimana mereka mengklaim sebagai pejuang Islam, tetapi kelakuannya sangat jauh dari Islam. Islam menentang keras ajaran-ajaran yang mengajak kepada kebencian kepada siapa pun apalagi yang seiman.Islam mengajarkan kedamaian kebersamaan dalam membangun bumi ini bukan merusak dan saling membenci antara satu dengan yang lain

Al-Afyouni menilai Indonesia adalah negeri sangat indah, maju dan penduduknya kebanyakan pemeluk Islam. Islam sudah ada di negeri ini. Jadi jangan sampai ada yang merusak negeri ini hanya karena keinginan dan pandangan agamanya yang sangat eksklusive . 

“Kehidupan di Indonesia saat ini harus dipertahankan dan jangan sampai dirongrong oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Umat Islam harus mempertahankan negeri dan jangan sekali kali terpengaruh dengan propaganda radikal terorisme,” tuturnya.

Mengenai falsafah dan ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila, dia menilai sudah sangat Islami. Sistem nilai-nilai tersebut yang diinginkan oleh agama Islam. Keberagaman, persatuan, ketuhanan, dan permusyawaratan adalah inti Islam. 

"Jadi jangan sampai ada yang mengatakan bahwa ini bertentangan dengan Islam itu sangat keliru jadi umat Islam harus membela falsafah ini karena ini adalah sesuai nilai yang diajarkan Islam,” papar Al-Afyouni.

Mengenai khilafah yang diinginkan oleh sebagian orang di Indonesia, Syaikh Al-Afyouni menegaskan bahwa itu sebuah kekeliruan karena tidak ada khilafah dalam Islam.

“Negeri seperti Indonesia yang sudah memiliki sistem yang sesuai dengan ajaran dan nilai nilai Islam. Kalau ada kelompok yang ingin mendirikan khilafah di Indonesia, coba tanya siapa yang mau jadi khalifah? Siapa yang akan menunjuk dan apakah orang lain menerimanya? Ini tidak mungkin di era sekarang,” jelasnya. [sn]
Loading...
loading...