Dinamika di Detik-detik Terakhir Menjelang Pemilu 2019: Mampukah Kalahkan Jokowi?
logo

16 April 2019

Dinamika di Detik-detik Terakhir Menjelang Pemilu 2019: Mampukah Kalahkan Jokowi?

Dinamika di Detik-detik Terakhir Menjelang Pemilu 2019: Mampukah Kalahkan Jokowi?

Oleh: Hendri Satrio

DINAMIKA menjelang hari H Pemilu 2019, membuat banyak pihak terutama masyarakat awam memertanyakan lagi keyakinan mereka dalam hal memilih kandidat.

Kompetisi dalam menyampaikan janji pemilu pada hari-hari kemarin menjadi faktor kunci yang mempengaruhi keyakinan pemilih. Namun faktor yang paling signifikan adalah diskusi dan perdebatan yang ada di akar rumput pada masa tenang.

Masa tenang adalah situasi di mana seseorang akan membulatkan tekad atau bahkan mengubah pilihannya. Pada momen ini juga para politisi yang sebelumnya berkejaran dalam hal kampanye, harus merasakan degup kencang karena was-was pemilih mereka berpindah ke lain hati.

Detik-detik terakhir banyak konstituen yang belum yakin terhadap pilihannya. Mereka bukanlah yang belum menentukan pilihan sama sekali, tapi sebagian adalah swing voters. Mereka yang belum yakin atas pilihannya.

Apabila kita menilik dinamika di periode genting ini, tak sedikit pendukung 01 misalnya yang belum terlalu yakin atas program yang dijanjikan oleh Jokowi. Mereka memandang bahwa program Jokowi pada lima tahun kemarin sendiri belum berjalan secara optimal.

Kalau yang kemarin saja belum bisa terealisasi, bagaimana bisa Jokowi menjanjikan hal baru untuk lima tahun ke depan dan mengharapkan masyarakat begitu saja percaya bahwa dirinya mampu merealisasikannya. Akankah janji tersebut sekadar menjadi pepesan kosong belaka

Dinamika di lapangan sendiri seringkali tak terprediksi, terutama setelah berbagai pertarungan terbuka yang dilancarkan oleh dua belah pihak. Debat calon presiden dan calon wakil presiden tentu saja menjadi salah satu faktor public bisa menilai bagaimana visi dan potensi dari masing-masing kendidat.

Pada debat terkait ekonomi misalnya, tak sedikit yang menilai kebijakan ekonomi Jokowi 5 tahun ke depan tidak lebih baik bila dibandingkan dengan masa kepemimpinan sebelumnya. Program berbasiskan kartu, tak ubahnya hanya mendaurulang apa yang sudah. Terasa tak visioner, karena hanya berupa ekstensifikasi dari program yang sebelumnya juga belum berjalan optimal.

Sedangkan isu yang masih membuat pemilih 01 ragu untuk berpindah mendukung 02 adalah soal Hak Asasi Manusia (HAM). Isu yang biasanya ditekankan oleh para pemilih 01, terutama mereka yang berasal dari kelas menengah terdidik adalah perihal riwayat pelanggaran HAM yang dimiliki oleh Prabowo.

Isu ini adalah isu laten, yang sebenarnya hingga sekarang pengungkapannya tidak pernah dilakukan secara serius, hanya dibiarkan menggantung. Prabowo sendiri juga kerapkali dituding belum memberikan riwayat keberhasilan sebagai seorang pemimpin, di luar dunia militer. 

Namun persepsi masyarakat tentu saja tidak monochrome, tidak hitam-putih. Respon masyarakat menunjukkan banyak pemilih masih menganggap bahwa Prabowo memberikan janji dan visi yang meyakinkan untuk kelas menengah bawah daripada yang ditawarkan oleh petahana.

Narasi yang muncul dalam perbincangan di media sosial misalnya tak jauh dari perihal tuntutan perbaikan ekonomi, taraf hidup, peningkatan lapangan kerja, dst. Tentu saja, apa yang ada di media sosial tidak benar-benar bisa merepresentasikan apa yang terjadi di lapangan. Mungkin hari ini Anda juga bisa bertanya dan mengajak berbincang ojek online yang anda tumpangi soal pilihan politiknya. Niscaya anda tahu bagaimana kondisi sebenarnya di akar rumput.

Hal yang kemudian menjadi kunci adalah sebesar apa kekecewaan atas program dan janji-janji Jokowi pada masa kampanye 5 tahun lalu yang tak tercapai pada akhir masa jabatannya sekarang? Hal yang memungkinkan orang untuk berimajinasi memiliki Presiden yang baru.

Menimbang Kinerja Jokowi dan Tawaran Perubahan

Terdapat isu-isu laten yang terus bertahan sejak masa pemilu awal hingga detik-detik terakhir Pemilu 2019. Hal yang memungkinkan terjadinya pergantian kursi kekuasaan di level Kepresidenan.

Respon yang mudah dilihat adalah kekecewaan atas keputusan Jokowi untuk memilih Maruf Amin sebagai Calon Wakil Presiden. Apalagi bila kompetitornya sebagai Calon Wakil Presiden adalah sosok Sandiaga Uno yang lebih muda, fresh dan menawarkan sesuatu yang terlihat konkret di lapangan.

Kita tentu saja bisa berdebat perihal program yang ditawarkan oleh Prabowo terutama bila dibandingkan dengan program yang dijalankan dan ditawarkan oleh Jokowi untuk lima tahun ke depan. Namun dibandingkan lima tahun yang lalu, tandem Prabowo pada hari ini nampak lebih menjanjikan di banyak hal, Sandiaga adalah representasi kaum muda, businessman handal yang pernah memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Untuk urusan ekonomi sulit ditolak bila Sandiaga lebih menjanjikan dibandingkan dengan partner Jokowi pada hari ini, Maruf Amin.

Banyak pihak menganggap Maruf Amin adalah faktor laten yang memberatkan posisi Jokowi. Anggapan tersebut tentu tidak muncul dari ruang hampa. Kita dapat dengan mudah melihat respon masyarakat secara umum di berbagai lini, entah dalam perbincangan warung kopi atau percakapan online di lini massa. Tak sulit melihat dan memahami bahwa popularitas dan juga likabilitas Maruf Amin adalah yang terendah di antara empat sosok di pemilu ini. 

Pertanyaannya adalah, bagaimana Maruf Amin bisa menjadi faktor pengungkit nilai Jokowi di mata konstituen? Di detik-detik terakhir yang menentukan, hal yang signifikan terutama meningkatkan sikap negatif terhadap petahana adalah kekecewaan atas kinerja petahana. Sikap positif terhadap sosok Prabowo biasanya disebabkan oleh kekecewaan atas kinerja Jokowi.

Kekecewaan tersebut yang mengantarkan pemilih untuk memilih kandidat penantang yang gamblang menawarkan perubahan. Lima tahun lalu mungkin banyak orang punya kecenderungan untuk memilih Jokowi, namun karena kekecewaan mereka hari ini sangat mungkin memutuskan untuk bergeser. Sulit untuk membayangkan Maruf Amin bisa secara signifikan mengungkit kecenderungan untuk memilih Jokowi. 

Namun juga harus diakui bahwa sosok Jokowi juga memiliki kekuatan. Dalam konteks etnis misalnya, kita bisa melihat loyalitas pemilih 01 sangat dipengaruhi oleh semangat sentimen Jawaisme. Hal yang tak dimiliki oleh Prabowo. Prabowo tidak mewakili unsur Ke-Jawa-an yang dipegang oleh Jokowi. Walaupun sebenarnya kalau kita bicara asal-usul atau trah, kita harus akui Prabowo memiliki modal yang jauh lebih besar dari Jokowi.

Masa Tenang dan Dilema Kelas Menengah: Silent Voters

Berbagai dinamika yang sudah, sedang dan akan terjadi ternyata membuat banyak pihak gelisah. Para pendukung militan petahana juga merasakan kerisauan atas pergeseran masif ini.

Kerisauan di media sosial terutama yang berasal dari kubu 01, menunjukkan mereka sendiri merasa bahwa dukungan atau atensi untuk dukungan terhadap Jokowi cenderung meredup.

Perhatian dan kritik pendukung petahana terhadap mereka yang menunjukkan sikap golput menunjukkan kerisauan tersebut. Berbeda dengan pendukung kandidat 02 yang cenderung mengabaikan mereka yang golput. Kerisauan tersebut terepresentasi dari bagaimana mereka banyak pendukung kubu 01 menyerang dan mengritik golput, dan secara sporadis berkampanye dengan isu apapun. 

Pada akhirnya, terdapat fenomena yang tak banyak orang memperhitungkan, yaitu Silent Voters. Silent Voters sangat mungkin mempengaruhi secara signifikan hasil akhir pemilihan umum yang akan diselenggarakan 17 April 2019 nanti.

Mereka yang condong ke 02 cenderung tidak menampakkan preferensinya dan aras politik di dunia kerja mereka selama berada di lingkungan pergaulan.

Silent Voters adalah variabel yang tak terbaca namun bisa sangat mematikan. Ia sangat mungkin mengubah konstelasi politik yang diramalkan banyak orang sebelumnya.

Mereka, para Silent Voters biasanya memisahkan antara ekspresi politik dan profesionalitas di dunia kerja, tapi mereka sendiri cukup aktif di media sosial.

Masyarakat sendiri sebenarnya dapat terus mendengar perbincangan terkait preferensi politik, di sekitar mereka. Mereka tidak mengekspresikan secara terbuka, tapi mereka punya kecenderungan untuk memilih salah satu dan sedang mengakumulasi pengetahuan dan keyakinan untuk memilih.

Mereka yang hening ini membuat potensi untuk memenangkan pemilu menjadi sama-sama kuat, 50-50. Masing-masing memiliki potensi sama besar selama konstituen terus membicarakan tentang diri, visi-misi dan program mereka.

Diskusi politik yang muncul dalam berbagai situasi dan kondisi terutama di akar rumput sangat mungkin menggeser atau menguatkan pilihan mereka. 

Walaupun saat ini kita sedang menghadapi masa tenang, tidak bisa tidak di akar rumput kita akan terus mendengar perbincangan tentang kelebihan, kekurangan, bagaimana masyarakat membandingkan kandidat, juga tak lupa debat-debat di media sosial. Perbincangan yang pada dasarnya akan sangat mempengaruhi hasil di penghitungan KPU nanti. 

*) Pengamat politik dari Unoversitas Paramadina dan pendiri lembaga survei KedaiKOPI
Loading...
loading...