NU Usul Nonmuslim Tak Disebut Kafir, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat yang Menyentuh

NU Usul Nonmuslim Tak Disebut Kafir, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat yang Menyentuh

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama menghasilkan sejumlah rekomendasi. Salah satunya, usul agar nonmuslim di Indonesia tidak disebut kafir.

Usul itu dibahas Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah dalam munas yang berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Rabu-Jumat (27/2-1/3/2019).

Pada sidang komisi Muqsith menyatakan, kafir seringkali disebutkan oleh sekelompok orang untuk melabeli kelompok atau individu yang bertentangan dengan ajaran yang mereka yakini kepada nonmuslim, bahkan terhadap sesama muslim sendiri.

Bahtsul Masail Maudluiyah memutuskan tidak menggunakan kata kafir bagi nonmuslim di Indonesia. 

"Kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-Muslim yang dianggap mengandung unsur kekerasan teologis," kata Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Moqsith Ghazali dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/3/2019).

Dia mengatakan, para kiai menyepakati tidak menggunakan kata kafir, tetapi menggunakan istilah muwathinun, yaitu warga negara. "Dengan begitu, maka status mereka setara dengan warga negara yang lain," tegasnya.

Istilah kafir ini sudah lama jadi perbincangan di kalangan masyarakat. Dai kondang, Ustaz Adi Hidayat Lc sudah pernah membahasnya beberapa kali. Dia menjelaskan bahwa kata "kafir" tersebut dalam bahasa Arab, sebenarnya bahasa sopan.

"Dalam bahasa Arab, kafir itu artinya yang menutup diri. Itu bahasa sopan. (Orang) yang menutup diri, yang tidak mau menerima iman, itu kafir. Makanya, orang-orang yang datang ini, termasuk Abu Jahal, Abu Lahab, dan abu-abu yang lainnya itu tidak marah disebut kafir karena mereka paham arti kafir itu dalam bahasa Arab, mereka Arab fasih, paling mengerti bahasa Arab," urai Ustaz Adi Hidayat.

Menurutnya, Abu Lahab dan kawan-kawan pada saat itu mengakui diri mereka menutup diri terhadap risalah yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

"Itu bahasa sopan sebetulnya dalam bahasa Arab untuk menunjukkan bahwa Islam itu dengan bahasa yang lembut saat itu, tidak mengatakan kamu ini, kamu itu, tidak," kata Ustaz Adi Hidayat.

"Coba bandingkan misalnya dengan istilah-istilah di tempat lain. Ada yang menyebut domba, domba yang tersesat gitu kan. Menurunkan Anda dari statusnya dari manusia jadi domba. Kan jauh ya perbandingannya," lanjutnya.

Menurut Ustaz Adi Hidayat, sebenarnya sudah penegasan dalam Alquran terhadap masalah ini. Tepatnya dalam surat Al Kafirun.

"Anda yang masih menutup diri, maaf, la a'budu ma ta'bud?n, kami tidak akan ikut-ikut menyembah seperti Anda menyembah sesembahan itu. Sampai puncaknya di ujungnya, lakum dinukum waliyadin. Begini saja, aturan dari Allah, silakan Anda ibadah senyaman-nyamannya sesuai dengan keyakinan Anda. Waliyadin, dan biarkan pula kami beribadah sesuai dengan keyakinan kami. Itu yang paling indah," tutupnya.
 (*)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita