Prabowo Tampil sebagai <i>Presidential Debates</i>, Jokowi <i>Managerial Debates</i>

Prabowo Tampil sebagai Presidential Debates, Jokowi Managerial Debates

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon menyatakan bahwa presidential debates atau debat calon presiden dan calon wakil presiden adalah forum tertinggi dan terhormat.

Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno atau BPN Prabowo – Sandi, itu menjelaskan bahwa presidential debates dan managerial debates sangat berbeda.

Menurut dia, presidential debates lebih menyentuh kepada substansi, sesuatu yang metafora, filosofi, strategis dan bisa menjadi solusi untuk jangka panjang. Sedangkan managerial debates, itu sangat teknis serta terkait angka-angka.

Dari dua pengertian itu, Fadli menilai capres Prabowo Subianto sudah menampilkan presidential debates sesungguhnya dalam debat Pilpes 2019. Sedangkan yang dipertontonkan capres Joko Widodo atau Jokowi lebih masuk kategori managerial debates.

Menurut Fadli, Jokowi seperti seorang manajer yang menjalankan tugasnya untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan melaporkan angka-angka, hasil-hasilnya, dan seterusnya.

“Namun ternyata pascadebat, hasil-hasilnya itu, banyak data yang tidak akurat dan ini menjadi masalah,” kata Fadli dalam diskusi dengan tema "Batasan Norma Dalam Debat Capres" di Media Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/2).

Menurutnya, terkait norma dalam debat capres sebenarnya bisa dilihat dari dua hal. Pertama, terkait etika debat itu sendiri. Kedua, apakah ada pelanggaran terhadap aturan, ketentuan atau undang-undang, karena ini juga menyangkut masalah norma.

Nah, Fadli menjelaskan kalau menyangkut masalah etika debat, itu sangat tergantung kepada orangnya atau kebiasaan sehari-hari. Karena itu, Fadli sependapat dengan Rizal Ramli yang menyebut debat contest of character masing-masing kandidat.

Dari debat itu, lanjut dia, tampak bagaimana kandidat menempatkan diri, apakah sebagai seorang negarawan, politikus, manajer, ataupun tukang. “Dalam hal ini menurut saya orang bisa mempunyai macam-macam persepsi,” katanya. [jpnn]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita