Korban Divestasi 51%, Perwakilan Buruh Freeport yang Di-PHK Nginap di Seberang Istana
logo

9 Februari 2019

Korban Divestasi 51%, Perwakilan Buruh Freeport yang Di-PHK Nginap di Seberang Istana

Korban Divestasi 51%, Perwakilan Buruh Freeport yang Di-PHK Nginap di Seberang Istana


GELORA.CO - Genap enam hari sudah puluhan mantan karyawan PT Freeport Indonesia menginap di seberang Istana Negara, Jakarta. Beralaskan tenda dari terpal, para karyawan yang diputus kerjanya sejak 2017 itu bermalam dengan perlengkapan seadanya. 

Salah satu mantan karyawan, Jerry Yerangga mengaku sengaja bermalam di seberang istana bersama rekan-rekannya agar dapat menemui Presiden Joko Widodo. 

"Kami menagih janji karena sudah sebagian besar petinggi negara kami temui. Kami merasa kami tidak mendapat keadilan karena masalah PHK oleh Freeport," ujar Jerry, Sabtu (9/2), dilansir CNNIndonesia.

Jerry mengatakan, pemutusan hubungan kerja ini bermula dari polemik peralihan saham Freeport ke pemerintah Indonesia sebelum akhirnya disepakati pada 2018. 

Mantan operator dump truck Freeport ini menuturkan, ada sekitar 8.300 orang karyawan yang dipecat saat itu.

"Mereka merasa rugi karena ada permasalahan divestasi saham dengan pemerintah saat itu," katanya. 

Jerry mengaku telah melakukan sejumlah aksi sebagai bentuk protes di Papua. Namun aksinya itu berujungan perlawanan dari aparat keamanan. Ia bersama rekan-rekannya akhirnya memilih ke Jakarta dengan naik kapal pada Juli 2018.

Jerry sempat bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko untuk mengadukan nasibnya pada Agustus 2018. Saat itu Moeldoko menjanjikan akan segera menindaklanjuti.

"Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan, yang bisa respons permasalahan kami cuma Ombudsman dan Komnas HAM," tutur Jerry.

Jerry akhirnya memilih tinggal di tenda agar segera mendapatkan penyelesaian atas permasalahan tersebut. Selama enam hari terakhir, ia dan 50 rekannya tidur di bawah tenda. Kegiatan mandinya pun dilakukan di toilet umum yang ada di dalam Monas. Ia bersyukur karena tak ada larangan dari petugas maupun kepolisian.

"Kami bersyukur di sini petugas membolehkan. Kami bisa sampaikan aspirasi bebas di sini," ucapnya.

Jerry berharap pemerintah segera menindaklanjuti keluhannya ini. Ia tak tahu sampai kapan harus bertahan di bawah tenda. 

"Sampai kami mendapat jawaban. Kasihan anak-anak kami tidak bisa sekolah, sampai harus jual rumah untuk biaya hidup," tutur Jerry.

Juru Bicara Freeport Riza Pratama sebelumnya menyebut ribuan eks karyawan tersebut dianggap mengundurkan diri karena mangkir dari kewajibannya.

"Kami telah menjalankan prosedur, memanggil mereka. Total sekitar 3.500 yang melakukan aksi mogok dan mangkir dari kewajiban mereka. Lalu, ada 200 orang di antaranya yang kami panggil dan patuh, sisanya tidak. Maka, kami anggap mengundurkan diri. Sesuai ketentuan, mereka diberikan satu bulan upah dan sudah ditransfer ke rekening masing-masing," ujarnya pada Maret 2018.

Namun, perselisihan dengan karyawan tak kunjung selesai. Barulah pada 21 Desember 2017, perusahaan bersama dengan serikat pekerja dan eks karyawan disaksikan oleh pihak terkait dari Kementerian Ketenagakerjaan menawarkan solusi baru. (*)

Loading...

Komentar Netizen

loading...