Jokowi; Bukan Serangan Balik, Cuma Serangan Bolak-Balik
logo

6 Februari 2019

Jokowi; Bukan Serangan Balik, Cuma Serangan Bolak-Balik

Jokowi; Bukan Serangan Balik, Cuma Serangan Bolak-Balik

Oleh: Asyari Usman*

Malam tadi ada tajuk berita di tvOne “Serangan Balik Jokowi”. Maksudnya, Jokowi melancarkan serangan balik ke arah Prabowo. Bahwa akhir-akhir ini Jokowi berubah menjadi ‘offensive’. Menyerang. Nah, benarkan serangan balik?

Menurut hemat saya, jauh dari ‘serangan balik’. Yang ada ialah ‘serangan bolak-balik’. Maksudnya adalah bahwa Jokowi hanya bisa mengulang-ulang isu yang itu-itu juga. Bolak-balik ‘Indonesia Bubar’. Bolak-balik ‘Ratna Sarumpaet’. Tidak ada yang baru.

Taktik ini bisa dipahami. Jokowi dan kubunya masih bermimpi bahwa rakyat akan percaya bahwa Prabowo dan kubunya adalah sumber kebohongan dan hoax. Padahal, rakyat sudah menyimpulkan justru Jokowilah yang terbukti menyalahi janji-janjinya. Membohongi rakyat.

Misalnya, mobil Esemka terbukti hoax. Lapangan kerja 10 juta, hoax. Jokowi akan menghentikan hutang, hoax. Sebaliknya beliau memperbesar hutang. Menghentikan impor, juga hoax. Dan banyak lagi janji-janji yang tidak terbukti. Alias janji-janji hoax.

Terus, mengapa Jokowi melancarkan ‘serangan bolak-balik’ itu?

Pertama, dia tidak punya bahan lagi. Tim Jokowi sudah buntu. Tak mampu menemukan narasi baru yang bisa menginspirasi publik. Akibatnya, output ‘serangan balik’ Jokowi menjadi membosankan.

Kedua, ‘serangan balik’ yang mungkin dibangga-banggakan oleh kubu Jokowi itu tidak akan pernah keluar dari suasana ‘bolak-balik’ itu. Sebab, ada masalah fundamental dengan kemampuan inovasi tim Jokowi.

Karena itu, ke depan ini kita tidak bisa mengharapkan terobosan dalam penyajian isu di kubu Jokowi dalam menghadapi gerak-maju Prabowo-Sandi. Mereka tidak punya banyak waktu lagi. Elektabilitas Prabowo diyakini telah melampaui angka stagnan Jokowi.

Ekspansi elektabilitas Prabowo sekarang ini membuat kubu Jokowi bagai tersihir. Tak mampu mencarikan amunisi baru untuk ‘serangan balik’ Jokowi. Bisa jadi, kebuntuan ini menjadi viral di kalangan tim Jokowi pasca-insiden ‘doa tertukar’ Kiyai Maemoen Zubair.

*) Penulis adalah wartawan senior
Loading...
loading...